Loading...
 
KONSEP KEPEMIMPINAN HINDU (Perspektif: Fungsi Sang Yajamana, Sang Widya, dan Sang Sadaka)
Oleh inengahsumendra. Rabu, 13 Oktober 2010. Kategori

I.        PEMBAHASAN

Berdasarkan uraian pendahuluan dan rumusan masalah di atas, berikut ini akan dideskripsikan secara singkat tentang hal-hal yang menjadi rumusan masalah tersebut yaitu:

Menurut Kamus Bahasa Indonesia secara garis besar "Konsep" adalah rancangan, ide atau pengertian, dan proses. Sedangkan "Perspektif" adalah sudut pandang atau pandangan.

Kepemimpinan dalam Hindu disebut dengan istilah Nitisastra. Nitisastra berasal dari bahasa Sansekerta, dari kata Niti dan Sastra. Niti berarti kemudi, pemimpin, politik dan sosial etik, pertimbangan, dan kebijakan. Sedangkan Sastra berarti perintah, ajaran, nasehat, aturan, teori, dan tulisan ilmiah.

Nitisastra merupakan sumber kepatuhan manusia sebagai hamba Tuhan terhadap hukum Tuhan (Rtam), sumber kepatuhan manusia sebagai warga negara pada hukum  dan kebijaksanaan pemerintah dari lembaga keumatan dan negara yang bersangkutan. Atau dengan kata lain Nitisastra merupakan sumber kepatuhan manusia terhadap Tuhan, Sesamanya, dan lingkungannya, serta Dharma negaranya.

Nitisastra ini secara sederhana dapat dikatakan bahwa, Nitisastra bukan hanya diperlukan tetapi juga dapat dipergunakan oleh pemimpin suatu Negara, oleh pemerintah atau pengambil kebijakan dalam kelembagaan umat Hindu serta dapat juga diamalkan oleh semua umat manusia pada umumnya dan khususnya oleh umat Hindu sesuai dengan Varna Dharma-nya.

Nitisastra dapat juga dipergunakan untuk membuat rumusan kembali, mengakulturasikan suatu konsep dengan konsep yang lain sehingga memperoleh suatu konsepsi baru (pemikiran beragama, berorganisasi dan bernegara yang bersifat pembaharuan, dinamis, relevan dan mengikuti perkembangan zaman atau kekinian/anutana) dan mengantarkan untuk berpandangan jauh kedepan.

Nitisastra ini sangat dibutuhkan dan dapat dijadikan pedoman oleh umat Hindu, pemimpin/pemerintah/pengambil kebijakan dalam kelembagaan umat Hindu serta untuk menata hidup dan kehidupan umat beragama Hindu dalam kewajibannya (swadharma) terhadap kepatuhan dengan Dharma Agama-nya.

Selain ajaran Kepemimpinan/Nitisastra maka perlu adanya seseorang pemimpin yang dapat mengaktualisasikan ajaran Nitisastra ini. Karena Pemimpim dan Kepemimpinan ibarat mata uang. Dapat berfungsi bila keduanya sisinya utuh dan saling mengisi. Bila salah satu tidak ada maka tidak dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Untuk menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, semua itu memerlukan perjuangan, pengorbanan, pembelajaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan pemimpin dan kepemimpinannya.

Seorang pemimpin dalam kepemimpinannya dinyatakan berfungsi untuk menggiatkan atau menggerakan bawahannya. Fungsi menggerakan dalam hal ini adalah fungsi pembimbingan dan pemberian pemimpin serta menggerakan orang-orang atau kelompok orang-orang itu agar suka dan mau bekerja.

Fungsi pemimpin adalah sangat penting. Karena bagaimanapun rapinya perencanaan yang dilakukan oleh pemimpin serta tertibnya pengorganisasian ataupun tepatnya penempatan orang, hal ini belum menjamin dapat bergeraknya oraganisasi ke arah sasaran atau tujuan.

Kemudian dalam kehidupan dan aktivitas keagamaan umat Hindu, ada tiga unsur/komponen  utama yang berperanan dalam pelaksanaannya yaitu yang disebut Tri Manggalaning Yadnya, sebagai berikut :

1.      Sang Yajamana, adalah Sang Manggala/pemimpin yang wilayah kerjanya berorientasi kepada Bhakti dan Karma.

2.      Sang Pancagra atau Sang Widya, adalah Sang Manggala/pemimpin yang wilayah kerjanya berorientasi kepada  Karma dan Jnana yoga.

3.      Sang Sadhaka, adalah Sang Manggala/pemimpin yang wilayah kerjanya berorientasi kepada Jnana dan Raja yoga.

 

Berdasarkan uraian di atas, dapat diartikan bahwa "Konsep Kepemimpinan Hindu Perspektif Fungsi Sang Yajaman, Sang Widya, dan Sang Sadaka" adalah rancangan, ide atau pengertian, dan proses kepemimpinan Hindu dari sudut pandang fungsi atau TUPOKSI dari masing-masing unsur/komponen Tri Manggalaning Yadnya.

Secara umum tentang Pemimpin, Kepemimpinan dan Fungsi Pemimpin telah di uraikan secara singkat. Berdasarkan uraian itu, bila dikaitkan dengan fenomena sebuah aktivitas-aktivitas keagamaan/Yadnya di tengah-tengah kehidupan umat Hindu baik secara Indhividu (persona)l maupun dalam kebersamaan, kelembagaan umat  (komunal) tidak sedikit yang masih belum memahami tentang apa itu pemimpin, kepemimpinan, dan fungsi pemimpin dan kepemimpinan itu, tidak sedikit pula orang sudah memahami tetapi belum atau tidak mau untuk mengaktualisasikannya, bahkan yang paling parah adalah sudah memahami tetapi malah mengabaikan dan justru mencari-cari kesalahan untuk merusak sistem yang telah disepakati. Tentunya untuk yang satu  ini jangan dibiarkan mencapai titik klimaks yang dapat mengahancurkan kebersamaan kita dalam membangun Hindu yang lebih besar dan berkualitas dalam kontek beragama kebersamaan. Oleh karena itu mari kita sebagai umat Hindu terutama bagi orang-orang yang ingin merusak sistem atau tatanan kebersamaan dalam keberagamaan Hindu agar tidak menuju jurang kegelapan (Timira) mari kita cerahi jiwa dan pikiran kita dan berguru terhadap ucap sastra suci Veda sebagai berikut:

 

"Orang bodoh dapat diajari  dengan mudah, orang berpengetahuan paham dengan hanya sedikit diberi petunjuk, sedangkan orang yang memiliki sedikit ilmu pengetahuan merasa dirinya paling pandai, Dewa Brahma sekalipun tidak dapat mengajarinya"     (Niti Sataka, 2).

 

"...Busana Keberanian adalah lidah yang terkendali, Busana Pengetahuan adalah kedamaian, Busana kepandaian adalah kerendahan hati, ..., Busana Kebesaran adalah memaafkan,..." (Niti Sataka, 80).

 

Pemikiran-pemikiran atau Konsep Kepemimpinan Hindu Perspektif Fungsi Sang Yajamana, Sang Widya, dan Sang Sadaka, harus didasari oleh dasar keimanan yang berdasarkan kitab suci Veda. Berikut ini beberapa sumber-sumber sastra suci Veda yang  ada yang berhasil di pupul dan disertai beberapa analogi dari penulis.

Beberapa petikan Mantra/Sloka yang dapat dipedomani adalah sebabagai berikut:

 

Ø Brhad Aranyaka Upanisad, Mandala I. Sukta 3. Mantra 28

“Om Asato masat gamaya,

Tamaso ma jyotir gamaya,

Mrtyor ma amrtam gamaya”

     Terjemahan:

“Ya Tuhan Bimbinglah kami dari ketidak benaran menuju kebenaran yang sejati, Bimbinglah kami dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang, Bimbinglah kami dari kematian Rohani menuju kehidupan yang kekal abadi”.

 

Mantra upanisad ini, merupakan sebuah pengakuan dan pernyataan diri dari umat manusia kehadapan Tuhan, bahwa sebenarnya manusia tidak mampu memimpin, membimbing/menuntun dirinya secara sempurna baik jasmani maupun rohaninya. Bermula dari sebuah kesadaran diri itulah manusia memohon bimbingan/tuntunan kepada Tuhan. Pertama; memohon bimbingan agar mendapat dorongan rohani untuk terus menuju kebenaran yang sejati (Sat) dan menjauhi ketidak benaran (Asat). Kedua; memohon bimbingan dari kegelapan (Tamas) menuju jalan yang terang (Jyoti). Jalan yang terang itu adalah jalan yang menuju kehidupan yang bahagia dengan landasan Widya Dharma (ilmu pengetahuan tentang dharma). Ketiga; memohon bimbingan agar mendapat kekuatan rohani untuk mengubah kematian (kesengsaraan) menuju kehidupan yang kekal abadi. Mantra ini juga memberikan inspirasi bagaimana memimpin diri dan orang lain untuk menjalani dinamika kehidupan dengan berlandaskan kedamaian untuk membuahkan hasil kebahagiaan yaitu Jagadhita dan Moksa.

 

Ø Canakya Nitisastra, Adhyaya V. Sloka 1:

" Guru Agnir Dvijatinam,

Varnanam Brahmana Guruh,

Patireva Guruh Strinam,

Sarvasya Bhayagato Guruh".

Terjemahan.

"Dewa Agni adalah Guru bagi para Dwijati (Sang Sadaka), Varna Brahmana adalah Guru bagi Varna Ksatria, Waisya dan Sudra, Guru bagi seorang istri adalah suami, dan seorang tamu adalah Guru bagi semuanya".

 

            Sloka Canakya Nitisastra ini merupakan sebuah pedoman bagaimana etika berguru, ajaran bhakti, sehingga terjadi sebuah tatanan kehidupan yang  harmonis, etika sosial dengan saling menghargai satu sama yang lain dan oleh Catur Varna bukan justru dijadikan sebagai stratifikasi sosial untuk mempertahankan status Co. Tetapi intisari pesan dari Sloka ini adalah ada pada baris pertama dan terakhir bahwa sesungguhnya semua harus berguru kepada Agni (Tuhan) dan semua harus berguru kepada Tamu. Kata Tamu ini adalah spirit yang ada diluar diri manusia, siapa spirit itu ? yaitu seluruh sekalian alam (Tuhan).

Etika sosial untuk saling menghargai satu sama yang lain, tentang kewajiban-kewajiban agama yang sifatnya wajib dilakukan bagi keempat Varna  Dharma juga tersurat dan tersirat di dalam Kitab Parasara Dharmasastra adalah sebuah Kitab yang diyakini sebagai kitab Suci Veda Smerti di Zaman Kali (Parasara Dharmasastra, Adhyayah I dan Adhyayah II).

 

Ø Bhagavadgita, IV.13 dan XVIII.41 :

"Catur varnyam maya shristam,

Guna karma vibhagasah,

Tasya kartaram api mam,

Viddhy akartaram avyayam".

Terjemahannya.

"Catur Varna adalah ciptaan-Ku menurut pembagian Bakat dan Kerja, tetapi ketahuilah walaupun penciptanya Aku, Aku tidak berbuat dan merubah diri-Ku".

(Bhagavadgita, IV.13)

 

"Brahmana kshatriyabvisayam,


Rating : * * * * *

Nama (wajib)
Email (wajib, tidak ditampilkan)
Website (jika ada)
Rating:


Ada 11 komentar yang diberikan.
Artana
6 Februari 2014 jam 00:32:37
suksma
inengahsumendra
31 Desember 2011 jam 17:48:16
Om Swastyastu, Suksma Atas Apresiasinya terhadap artikel ini.silahkan kunjungi yg lengkap di inengahsumendra.wordpress.com. Om Shanti
inengahsumendra
31 Desember 2011 jam 17:46:01

NI NYOMAN SUKARIANI
2 November 2011 jam 08:34:29
Sangat membantu para mahasiswa dalam mencari materi KEPEMIMPINAN termasuk saya. Terima kasih.
Satvika Dwi Jati
6 Oktober 2011 jam 20:37:15
om swastyastu..
terimakasih buat artikelnya, karena sudah membantu menyelesaikan tugas saya..
tapi kok sayang yaa, teksnya kepotong dehh kayanya =='
di revisi doong yaa..
biar bisa lengkap dapet tugasnya..

makasii,,
keep write buat penulis,,
selanjutnya...
om swastyastu..
terimakasih buat artikelnya, karena sudah membantu menyelesaikan tugas saya..
tapi kok sayang yaa, teksnya kepotong dehh kayanya =='
di revisi doong yaa..
biar bisa lengkap dapet tugasnya..

makasii,,
keep write buat penulis,,
salam hindu dharma!

om santhi santhi santhi om..

 
Bagi informasi ini dengan:

Komentar-komentar