| | | | |
JALAN
Oleh anusbolduburectum. Rabu, 30 Desember 2009. Kategori
Jalan apapun yang kamu pilih, kamu harus mempelajari dan melibatkan Jalan yang lain
Ada banyak jalan yang saya kenal, dari Konsili Vatikan II saya mengerti tentang Teologi Kebebasan, dari Mahmoud Mohamed Taha saya mengetahui adanya Syariah Demokratik , dari Miyamoto Musashi (Bennosuke) saya paham dengan Jalan Pedang dan Jalan Kuas. Jalan-jalan lain yang (rasanya) kurang asketis juga dapat ditemui dalam lembaran Das Capital – Karl Marx maupun dalam Wealth of Nation – Adam Smith. Jalan asli Made in Indonesia juga tersedia, ada Marhaenisme – Soekarno, ada Madilog – Tan Malaka, ada Sangkan Parining Dumadi – Mbah Pronojiwo, ada Kanda Pat – Bali. Sejujurnya harus saya katakan bahwa saya kagum dengan keluasan bacaan saya sendiri, kwa, kak, kak, …. Narsis is the best, … he, he, he, …
Berbagai jalan ini saya temui setelah saya mencoba empat jalan yang saya tahu dari Hindu yaitu Bakti, Yoga, Jnana dan Karma.
Sebagai seseorang yang aslinya Hindu abangan, namun berada di lingkungan yang sok priyayi, maka saya sering harus berpura-pura bergaya nyantri (maklum, priyayi kan harus jadi panutan, he,he, he, … ) dan agar terlihat agak nyantri,, tentunya disana-sini perlu diselipkan sedikit istilah-istilah Sanskrit Vedic, yang sebenarnya saya sendiri tidak terlalu mengerti tapi agar tulisan ini terlihat hebat dan sangar, tetap saja saya masukkan, mohon pengertian dari hadirin (perempuan) dan hadiran (laki-laki) yang sedang membaca tulisan ini.
Bagaimana dengan Jalan Asia Carrera ?
He, he, he, … pingin sih tapi belum mampu dan ukuran (… sensor … ) tidak mendukung, hua, ha, ha, …
Semasa kecil saya mencoba menjadi Bakta (Pemuja Tuhan melalui persembahan yang tulus) yang baik. Orang bilang saya harus menari, ya saya menari, orang bilang saya harus melafalkan Gayatri Mantram, ya saya ikut-ikutan, disuruh sama guru agama untuk bersih-bersih ke Besakih, ya saya ikuti, disuruh bikin Penjor dan Banten Sayutan, ya manut. Masalahnya saya memiliki satu cacat lahir, yaitu terlahir sebagai seorang skeptic yang ketolol-tololan. Cacat lahir ini membuat saya selalu mempertanyakan segala hal. Ada begitu banyak pertanyaan yang ada di pikiran saya tentang segala ke-Bakta-an yang pernah saya praktekkan.
Akhirnya dengan sukses saya memecat diri sendiri sebagai Bakta dan mencoba-coba Jalan Yoga pada saat saya remaja. Ternyata Jalan ini sungguh seksi, begitu banyak misteri dan rahasia yang terkandung di dalamnya. Ada begitu banyak orang non-Bali dan non-Indonesia yang khusus datang ke Bali untuk belajar Jalan yang satu ini. Sayangnya Jalan ini susahnya minta ampun, ada pantangan ini, ada pantangan itu, harus disiplin ini, harus disiplin itu, harus merapal ini, harus merapal itu, harus tekuk badan kesana, harus tekuk badan kesini. Setelah satu kecelakaan fisik yang hampir saja membuat mata kaki saya pindah ke kuping, akhirnya saya berpasrah diri dan terpaksa mengakui bahwa konstruksi tubuh saya yang antik ternyata hanya cocok sebagai omnivora sejati dan untuk itu terpaksa saya mengundurkan diri dari karir saya (yang pendek) sebagai Yogi amatir.
Kehidupan baru menjelang dan saya kuliah di Sby. Dengan gagah berani saya proklamirkan diri sebagai Jnanin (orang yang menempuh Jalan Jnana (Ilmu Pengetahuan)). Dengan nekat saya kumpulkan dan baca berbagai buku-buku agama. Pokoknya asal sedikit saja berbau agama, agama apapun, pasti saya baca. Dari yang monotheis, pantheis, polytheis dan theis-theis yang lain, termasuk juga atheis. Tapi sayangnya antara ajaran yang tertulis di buku-buku yang theis-theis itu, dengan praktek yang dapat diamati pada orang-orang yang mengaku penganutnya (apalagi yang mengaku pemimpinnya) seperti jauh panggang dari api. Ajarannya bilang apa, prakteknya malah gimana, … kwa, kak, kak, … pokoknya munak banget dech, …
Nah, … sialnya (atau untungnya ?) karena kecelakaan pertemanan dan salah pergaulan, saya juga membaca isme-isme yang lain sebagai pengimbang bacaan agama. Dari idealisme sampai materialisme, dari komunisme sampai kapitalime, pokoknya semua isme-isme yang ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris (dikit-dikit sih, he, he, he, … ) saya kunyah dan telan perlahan-lahan. Ternyata isme-isme ini sedikit lebih enak daripada yang theis-theis.
Diantara semua theis-theis dan isme-isme itu, ternyata (kata orang) yang paling enak adalah Mbak I’is, dagang kopi cantik di depan stasiun (… sensor … ) yang selalu menjual gorengan selewat tengah malam di era 90-an. Kata orang nih, “Bisa dipake”, gitu katanya, … pernah saya coba merayu, ternyata ditolak dengan sukses, kata Mbak I’is waktu itu, … “Badan kayak gentong kok nekat ngerayu orang cantik!”, …. he, he, he, … ini intermezzo jack, jangan dianggap bercanda ya, … lho ??? tambah bingungkan , … he, he, he, …
Oke, sekarang kita serius lagi biar kelihatan hebat
Dari sekian banyak Jalan yang saya tahu, ternyata semuanya mencoba menuntun manusia agar menjadi lebih benar, lebih baik dan lebih indah atau singkatnya menjadi lebih manusiawi. Ada Jalan yang super ketat dan berdisiplin seperti Jalan Pedang-nya Musashi (satu saja kesalahan dan anda akan mati) yang mirip dengan Jalan Spartan dari Yunani, tapi ada juga Jalan yang super liberal seperti Jalan Generasi Bunga (Flower Generation) yang mirip dengan Jalan Aristippus dari Cyrene.
Kacaunya, seringkali penganut satu Jalan mencaci maki penganut Jalan lain dan demikian juga sebaliknya. Dalam kasus yang banyak terjadi, ternyata kedua belah pihak belum memahami pemikiran pihak lain atau malah yang paling parah, pihak yang mencaci maki atas nama suatu Jalan ternyata tidak memahami dengan baik Jalan yang diakuinya sebagai Jalannya. Sehingga yang terjadi sesungguhnya adalah pertarungan ego pribadi. Kepentingan-kepentingan terselubung yang bersifat pribadi ditumpangkan dalam tindakan komunal dengan mengatasnamakan Jalan tertentu agar dapat memperoleh pembenaran secara moral dari komunitas yang terlibat. Sungguh, tindakan-tindakan semacam ini bersifat destruktif terhadap kemanusiaan.
Setelah saya sedikit memahami ide, konteks dan rincian setiap Jalan (yang sempat saya pelajari), akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seorang Karmin (Melakukan sesuatu sesuai dengan Karma masing-masing). Kedengarannnya sederhana tapi ternyata sangat sulit dalam penerapannya. Kenapa sulit ? karena tidak ada manusia yang terikat hanya dengan satu Karma. Pada satu waktu dan tempat, kita mungkin terikat pada dua atau lebih Karma dan ini seringkali menyulitkan apabila kita gagal menguraikan ide, konteks dan rincian dari masing – masing Karma kita.
Contoh paling gampang adalah pada diri saya sendiri. Sebagai mahasiswa S3, saya menuntut ilmu pada professor saya dan sebaliknya sebagai dosen saya harus melayani murid-murid saya. Sebagai PNS saya harus melayani masyarakat, sementara pada saat yang sama saya juga punya hak sebagai warga negara yang harus dilayani oleh PNS yang lain. Sebagai seorang anak, saya mencoba melayani orang tua saya, dan di saat yang sama saya memiliki anak yang harus saya asuh dan saya harus berlaku sebagai orang tua. Konsep Karma Marga yang kedengarannya sederhana, yang secara awam kira-kira bunyinya begini :
Lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan dan lakukan dengan baik
Ternyata luar biasa sulit.
Jalan yang terlihat sederhana ternyata sangat sulit dalam penerapannya. Belum lagi kalau kita harus berurusan dengan orang lain yang ternyata menganut Jalan yang berbeda dengan Jalan kita. Di titik ini, puji dan syukur patut saya ucapkan pada Hegel dan Kant yang saya contek cara berpikir dialektisnya. Dengan modal bacaan atau malah praktek dalam Jalan-Jalan yang lain, ditambah dengan petatah-petitih dari Hegel dan Kant, saya mencoba memahami dan berempati kepada Jalan yang lain.
Paragraf pertama tulisan ini akhirnya saya pahami dan mengerti justru ketika saya sudah mengalami banyak Jalan. Ketika saya hanya tahu tentang satu Jalan, sumpah Jack !!!, saya pikir kebenaran dan kebaikan hanya ada di Jalan yang saya percayai itu. Baru setelah saya memasukkan dialektika dalam analisis saya tentang masing-masing Jalan, barulah saya mulai memahami dan sanggup berempati dengan Jalan yang lain. Setelah saya masuk di tahap ini, akhirnya saya menyadari bahwa :
Jalan apapun yang saya pilih, pada akhirnya saya harus mempelajari dan melibatkan Jalan yang lain
Rasanya cacat lahir saya cukup menguntungkan, cacat ini membuat saya skeptis dan ketolol-tololan, yang pada gilirannya membuat saya tanpa rasa malu sedikitpun, menanyakan segala sesuatu kepada siapapun yang saya rasa mampu menjawabnya. Tapi ternyata tidak banyak atau bahkan bisa dibilang sedikit sekali orang-orang yang menguasai masalah-masalah semacam ini. Banyak sih yang suka cuap-cuap tapi biasanya kalo sudah ditembak dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar, akhirnya termehek-mehek juga. Bahkan seringkali terbukti bahwa yang paling banyak cuap-cuap adalah yang paling tidak mengerti. Sumpah ini beneran, buktinya saya, … kwa, kak, kak, ….
Akhirnya berbagai jawaban dan pengetahuan yang berhasil saya himpun melalui Jalan Skeptis dan Ketololan itu mampu mendudukan saya di titik ini, pada saat ini. Jalan-jalan yang pernah saya lalui ternyata membuat saya memahami bahwa pengetahuan adalah peta yang dapat membuka luasnya cakrawala kesadaran. Memang selalu ada ambiguitas dan kerumitan tingkat tinggi dalam setiap pengetahuan abstrak, namun ini tidak berarti bahwa kerumitan itu tidak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tenyata menjadi seorang Karmin sama susahnya dengan menjadi seorang Jnanin yang juga sama susahnya seperti menjadi seorang Bakta ataupun mempraktekkan Yoga.
Dari sini saya sadar, ternyata menjadi manusia itu susah, jangankan jadi manusia baik, jadi manusia yang jelek aja susah minta ampun. Weleh, weleh, weleh, … padahal cita-cita tertinggi saya adalah menjadi manusia dan memanusiakan manusia lain, entah kapan cita-cita ini tercapai, sementara untuk menjadi manusia yang jelek aja saya masih gagal
Saya doakan semoga kawan-kawan lebih beruntung dari saya
Salam Damai dan Cinta (Make Love not War) dari Bali
Made Surya Putra
Berbagi ke
facebook
twitter
Google
del.icio.us
teman
Addthis
.
Rating : * * * * *
Ada 0 komentar yang diberikan.
|
Komentar
kdsurya menanggapi berita . 7 September 2010 pukul 11:09.
kdsurya menanggapi berita . 7 September 2010 pukul 11:08.
Made Sujana menanggapi artikel . 1 September 2010 pukul 15:05.
Made Sujana menanggapi artikel . 1 September 2010 pukul 15:03.
gdebig menanggapi berita . 1 September 2010 pukul 09:17.
|
|
|