Memupuk Tolerasi Lintas Iman, PD KMHDI Jawa Barat Hadiri Café Religi

Kamis, 28 November 2019, Kader Pimpinan Daerah Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PD KMHDI) Jawa Barat menghadiri Café Religi yang dilaksanakan di Sinode Gereja Kristen Pasundan (GKP) Sinode GKP, Jl. Raden Dewi Sartika No.119, Pungku, Kota Bandung.

Café Religi adalah bagian dari rangkaian kegiatan “Bandung Lautan Damai”, acara tahunan yang menjadi program kerja komunitas Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama). Tahun ini adalah tahun kesepuluh diadakannya Café Religi. Tujuan dari diadakannya Café Religi adalah agar umat lintas iman bisa bertegur sapa dan bercengkrama, serta bertanya dan meluruskan kesalah pahaman yang ada selama ini ada di antara pemeluk agama dan kepercayaan berbeda.

Terdapat sepuluh agama dan kepercayaan berbeda yang turut serta dalam acara ini, diantaranya Hindu, Islam (Sunni, Syi’ah, Ahmadyah) Kekristenan (Protestan, Orthoks, Katolik, Mormon), Baha’i, Penghayat Keperacayaan Budidaya, Tao, Buddha, Konghucu, dan non believer (ateis) . Meskipun agama resmi di Indonesia hanyalah enam, di acara ini peserta diperkenalkan dengan berbagai macam agama serta sekte/aliran di dalamnya.

Peserta acara dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dan memasuki berbagai pos agama dengan kelompok tersebut. Acara dilaksanakan dalam empat sesi, dimana satu sesinya terdiri atas dua puluh menit. Dalam satu sesi, peserta dipersilakan menanyakan berbagai pertanyaan yang dimiliki kepada pemateri di masing-masing pos agama.

Pos agama Hindu diisi oleh tiga orang perwakilan kader dari PD KMHDI Jawa Barat, yaitu Amanda, Arya, dan Anya. Peserta antusias menanyakan berbagai macam pertanyaan mengenai Hindu kepada pemateri, seperti contohnya tentang karma dan reinkarnasi. Ada juga peserta yang menanyakan tentang perbedaan Hindu yang ada di Indonesia dengan Hindu yang ada di India.

Kader KMHDI Jawa Barat juga berkesempatan memasuki pos dan berdiskusi dengan agama lainnya, walaupun tidak sempat memasuki semua pos, namun acara Café Religi ini sangat bermanfaat untuk mengenal kepercayaan yang dipeluk orang lain dan menumbuhkan toleransi terhadap mereka. (PWD)

Komentar Anda