Literasi Media Sosial sebagai Upaya Pengembangan Pendidikan Karakter

Media sosial adalah sebuah media online, dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi. Dalam penggunaan media sosial yang paling sering digunakan orang adalah jejaring sosial, karena situs ini memungkinkan orang untuk membuat web page pribadi, yang dapat terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Penggunaan media sosial memberikan kemudahan dalam berkomunikasi baik dengan teman maupun keluarga yang memungkinkan dilakukan melalui face to face karena faktor jarak. Selain itu, media sosial juga dapat memberikan dampak yang negatif terhadap masyarakat, seperti yang kita lihat sekarang media sosial dijadikan media untuk memprovokasi orang lain, menyebarkan berita-berita yang tidak benar atau hoax dan lain sebagainya. Media sosial dapat diumpamakan sebagai pisau yang dapat digunakan untuk melakukan kebaikan dan sebaliknya dapat menjadi senjata untuk membunuh dan menghancurkan orang lain maupun diri sendiri.

Penggunaan media sosial juga membawa perubahan karakter atau perilaku terhadap masyarakat. Dengan muncul dan berkembangnya media sosial yang sangat pesat saat ini  menyebabkan perilaku anak-anak, remaja dan diberbagai kalangan seperti orang yang apatis, kurangnya interaksi dan komuniksi dengan masyarakat, karena terlalu sibuk dengan Smartphone tanpa memperdulikan lingkungan dan cuek dengan orang-orang disekitarnya. Media sosial juga menjadikan anak-anak semakin malas belajar dan cenderung susah diatur, karena waktu mereka dihabiskan hanya untuk bermain gadget. Media sosial seharusnya sebagai sarana untuk berkomunikasi dan berbagi informasi yang sangat efektif, tetapi malah menjadi sarana untuk penyebaran informasi yang membuat terjadinya degradasi karakter suatu bangsa.

Fenomena ini memberikan tantangan bagi para pendidik untuk mengambangkan model pembelajaran pendidikan karakter melalui media sosial, agar sarana yang begitu canggih tidak menjadi momok yang dapat menghancurkan peradaban suatu bangsa tetapi diharapkan terjadi sebaliknya, yaitu dengan kemajuan teknologi informasi seperti media sosial dapat mengembangkan pendidikan karakter yang dapat menopang kemajuan peradaban manusia. Upaya dalam mengatasi maraknya kejahatan kemanusiaan perlu terus diusahakan oleh generasi muda bangsa melalui pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter yang mulia. Usaha pendidikan dapat dilakukan melalui pendidikan formal, informal dan non formal dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien. Teknologi yang berfungsi sebagai alat bantu tidak saja memberikan kemudahan untuk mengembangkan konten-konten yang membantu proses pembentukan karakter masyarakat menjadi lebih baik, namun teknologi juga kadangkala berfungsi sebaliknya, yaitu dilakukan untuk melakukan tindak kejahatan terhadap kemanusiaan. Fakta yang demikian jangan sampai mempengaruhi dan mengurangi semangat masyarakat, khususnya para pendidik untuk selalu mencari upaya strategis menggunakan teknologi informasi dan komunikasi khususnya media sosial dalam mengembangkan karakter mulia peserta didik. Teknologi seperti media sosial dapat digunakan untuk menyebarluaskan konten-konten terkait pemgembangan karakter, baik itu metode yang harus dilakukan, proses, strategi yang sedang dilgunakan, serta evaluasi terhadap proses pengembangan karakter yang telah dilakukan.

Pendidikan karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana mereka mealukan interaksi dalam keseharian. Lingkungan merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai nilai yang tumbuh dan berkembang bagaimana suatu masyarakat menerapkan hidupnya. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap sang pencipta, diri sendiri, sesama, lingkungan sekitar, maupun dengan kebangsaan. Pengembangan karakter bangsa dapat dilakukan dengan melalui perkembangan karakter seseorang. Pendidikan karakter adalah suau proses sadar untuk belajar bagaimana membentuk karakter yang diharapkan pada diri seseorang. Pendidikan karakter perlu dikembangkan karena budaya dari suatu masyarakat dibangun oleh individu- individu yang hidup pada masyarakat tersebut. Pendidikan merupakan salah satu cara untuk mengembangkan karakter suatu individu. Pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi sebagai pembudayaan dan penyaluran nilai.

Dalam penyelenggaran pendidikan yang harus diperhatikan yaitu bagaimana agar ilmu pengetahuan yang didapatkan dapat diimbangi dengan praktek yang nyata serta dapat berguna bagi masyarakat dan kemajuan bangsa. Membangun pendidikan karakter dapat diawali dengan menyebarluaskan secara masif mengenai apa itu karakter, bagaimana karakter dikembangkan melalui pendidikan, bagaimana pendidikan karakter ini dapat diimplementasikan dalam masyarakat melalui pengembangan teknologi yang sangat pesat yaitu media sosial. Pengembangan pendidikan karakter merupakan upaya strategis untuk menjaga peradaban manusia agar terhindar dari kehancuran. Pengembangan pendidikan karakter ini diharapkan dapat membentuk pribadi-pribadi yang memiliki sifat jujur, toleransi, saling menghargai dan menghormati, percaya diri, suka menolong dan lain sebagainya. Usaha pengembangan pendidikan karakter pada jaman now seharusnya dapat lebih cepat, efektif dan efisien dilakukan karena adanya bantuan teknologi yang tergolong canggih yaitu media sosial. Pemanfaatan media sosial ini dapat dilakukan apabila ada literasi yang baik.

Literasi berasal dari kata literacy yang artinya melek huruf, kemampuan baca tulis, atau kecakapan dalam membaca dan menulis. Pengertian literasi berdasarkan konteks penggunaannya dinyatakan oleh Baynham (1995:9) bahwa literasi merupakan integrasi keterampilan menyimak, berbicara, menulis, membaca dan berfikir kritis. Berkaitan dengan era digital, literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan informai dengan kecakapan kognitif maupun teknikal (Tim Penyusun, 2017:4). Anak-anak muda yang dimulai dari tahun 1990 sampai saat ini tergolong generasi generasi milenial yang sangat cepat dalam menguasai teknologi khususnya teknologi digital. Generasi milenial ini dapat memanfaatkan berlimpahnya informasi yang didapatkan dari internet. Banjirnya informasi tidak saja dapat dimanfaatkan untuk kemajuan kehidupan, namun juga dapat berupa informasi yang menjerumuskan kita semua. Realita seperti ini seharusnya disikapi oleh seluruh stake holder dibidang pendidikan untuk mengisi informasi diinternet dengan konten-konten yang merupakan pengetahuan tentang pendidikan karakter, pengetahuan-pengetahuan yang dapat membangun nilai kebersamaan untuk mengembangkan peradaban manusia kearah yang lebih baik.

Dengan demikian, didunia sosial lebih sering terbentuk tren untuk selalu membiasakan diri untuk berbicara tentang kebaikan, tentang suatu yang dapat menguatkan karakter individu dan masyarakat. Hal ini dapat terjadi jika kemapuan literasi masyarakat terhadap media sosial dapat ditingkatkan dan dikembangkan untuk tujuan pendidikan karakter. Menurut Cakiroglu (2012:5588) writing skill is more than a kinestheistic activity which is a more complex and  higher level of cognitive  activity that should be considered together with the reading skill. Kemampuan dan keterampilan menulis seseorang sangat ditentukan oleh kemampuan menerima informasi dari buku-buku atau sumber informasi lain yang dibaca. Selain itu juga dipengaruhi oleh apa yang mereka pernah dengar dari lingkungan dimana mereka berada. Informasi yang diterima ini selanjutnya diproses dengan menggunakan kemampuan kognitif yang selanjutnya menjadi tulisan. Hasil berupa tulisan ini dapat dipublikasikan dengan menggunakan media sosial pada jaman sekarang ini, sehingga penyebarannya dapat dilakukan secara massif dalam hitungan detik. Kemampuan inilah yang secara mendasar perlu terus dikembangkan oleh institusi pendidikan. Budaya literasi digital atau media sosial menjadi kemampuan baru yang harus dimiliki oleh setiap generasi milenial di era globalisasi saat ini. Literasi digital dan media sosial dapat dibangun untuk memajukan peradaban manusia. Literasi media sosial tidak hanya digunakan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, namun juga dapat digunakan untuk mempublikasikannya secara langsung, mendiskusikan dan mengkomunikasikan langsung dengan yang memiliki kepentingan. Pada akhirnya literasi media sosial dapat diarahkan untuk pengembangan karakter masyarakat baik secara terencana maupun tidak terencana.

 

Referensi

Bhyanham,Mike. (1995:9) literacy Practices: Investigating literacy in sosial Contexts.    London:Logman

Tim Penyusun, 2017:4. Kerangka Literasi Digital Indonesia. ICT Watch

Cakiroglu, Ahmet And Hayriye Gul kuruyer. (2012:5588). First grade elementary school student’s family involvement in the process of reading and writing skills acquisition. Procedia-social and Beh


Penulis,

 

 

 

 

Nama                : Ayu Indah Cahyani

NA                     : 517117002

Asal PD/PC      : PC KMHDI Denpasar

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *