Cita-Cita Lahirnya Pancasila

Para founding fathers kita mendirikan Negara Indonesia untuk satu tujuan, yakni berdaulat lahir batin diatas kaki sendiri, sebuah negara yang adil dan makmur tanpa penghisapan manusia atas manusia di dalamnya. Bagi Bung Karno, Indonesia merdeka adalah sebuah jembatan emas yang harus dilewati menuju sebuah tatanan masyarakat yang adil dan makmur tanpa segala bentuk kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk apapun, atau yang kerap ia sebut sebagai “Sosialisme Indonesia”.

Untuk mendirikan sebuah negara baru yang benar-benar bebas dari belenggu kolonialisme dan imperialisme tersebut maka dilahirkanlah Pancasila sebagai dasar, sekaligus sebagai ideal, yang menjadi bintang kejora dan mercusuar, yang memandu derap langkah bangsa Indonesia menuju tatanan masyarakat adil dan makmur tersebut. Berikut ini adalah intisari niali-nilai Pancasila yang digali dari buadaya luhur yang ada di Nusantara oleh Bung Karno.

Ketuhanan Yang Berkebudayaan

Konsep “Ketuhanan” yang dimaksudkan Bung Karno, bukanlah sebuah konsep teologis, untuk tidak menyinggung perasaan kebertuhanan segenap bangsa Indonesia, melainkan sebuah konsep politis. Apa maksudnya? Haruslah dicermati bahwa Indonesia merupakan bangsa kepulauan yang terdiri atas beragam suku, bahasa, agama, budaya, dan ras. Oleh karena itu, konsep Ketuhanan yang tentu saja tidak merujuk kepada Tuhannya agama tertentu, dirasa tepat mewakili seluruh ekspresi ragam keimanan yang ada di Indonesia. mengapa ini menjadi penting? Karena, Negara Indonesia yang hendak dibangun akan berdiri diatas sistem-sistem kepercayaan lokal yang sudah berurat berakar di dalam buminya Indonesia, bahkan jauh sebelum itu.

Selain alasan politis, memang ada alasan teologis dibalik konsep ketuhanan itu, yakni Bung Karno hendak menyatakan bahwa dalam realitasnya keindonesiaan yang beragam itu, ternyatalah masyarakat Indonesia mengakui adanya sebuah realitas tertinggi yang disebut dalam berbagai macam bahasa dan ekspresi, dalam ritus dan kultus yang berbeda pula.

Bertuhan dalam konteks ketuhanan Pancasila tentu saja berpijak pada kebudayaan dan nilai-nilai luhur yang ada di Nusantara. Atau, dengan kata lain, ekspresi ketuhanan kita tiada dapat dilakukan tanpa mengakomodasi keluhuran adat istiadat yang ada pada setiap Kebudayaan Nusantara. Orang Indonesia hendaknya bertuhan dalam wujud kebudayaan Nusantara karena dengan meninggalkan kenusantaraannya ketuhanan menjadi sungguh-sungguh ahistoris dan asing. Bung Karno menyebut: “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, Kalau jadi Islam jangan jadi Orang Arab, kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi,. Tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat dan budaya Nusantara yang kaya raya ini”.

Perikemanusiaan Sebagai Nasionalisme

Bagi Bung Karno, kemanusiaan menjadi dasar perjuangan untuk mencapai keadilan sosial. Nasinalisme Bung Karno adalah model nasionalisme yang jauh dari chauvinisme, suatu nasionalisme sempit yang hanya mementingkan cinta akan bangsanya tetapi mengabaikan Bangsa lain. Menyitir Gandhi, Bung Karno menyebut, “My  Nasionalism is Humanity”, nasionalismeku adalah kemanusiaan.

Bung Karno menegaskan dan memperbarui konsep tersebut dengan memberi penekanan dan menambahkan kata “ Perikemanusiaan”. Bukan saja kemanusiaan, tetapi perikemanusiaan. Kemanusiaan, bagi Bung Karno, bukan hanya tentang “alamnya manusia”, tetapi perikemanusiaan melampaui itu, yakni tentang “jiwa yang merasakan bahwa antara manusia dan manusia yang lain ada hubungannya; jiwa yang hendak mengangkat/membedakan jiwa manusia itu lebih tinggi daripada jiwa binatang”.

Perikemanusiaan, bagi Bung Karno, bukan sebuah barang jadi yang terberikan (given by) dan diterima begitu saja (taken for granted), melainkanlahir dari sebuah perkembangan rohani, suatu produk kebudayaan bangsa manusia di bawah kolong langit. Dengan demikian, setiap manusia sudah selalu terhubung satu dengan yang lainnya sedemikian rupa sehingga penghormatan terhadap martabat kemanusiaan menjadi sebuah keharusan tanpa terkecuali, dengan pemahaman yang demikian, dapat kita pahami sikap Bung Karno yang selalu anti terhadap bentuk-bentuk penjajahan dan penghisapan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa.

“Nasionalisme hanya bisa hidup subur di dalam taman sarinya internasionalisme. Internsionalisme hanya dapat hidup subur jikalau berakar di buminya nasionalisme”, tegas Bung Karno. Penyataan ini mematahkan chauvinisme seperti yang dikumandangkan Hitler, dan segala konsep nasionalisme yang mengabaikan kemanusiaan sebagai landasan hidup bersama. Maka, apabila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ada yang meremehkan rasa kemanusiaan dan martabat manusia, baik laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa, itu sama saja dengan pengabaian terhadap Pancasila sebagai nilai dasar kehidupan bersama bangsa manusia.

Persatuan Menuju Indonesia Merdeka

Satu hal yang menjadi syarat menuju kepada Indonesia merdeka adalah menyatunya seluruh kekuatan yang ada pada diri bangsa Indonesia. kekuatan itu, dalam konteks lahirnya Pancasila, adalah Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Dalam tulisan Nasionalisme, islamisme dan Marxisme Bung Karno menyatakan bahwa hanya persatuanlah yang membawa kita ke arah “ kebesaran dan kemerdekaan”. Konteks lahirnya konsep persatuan Indonesia tiada lepas dari sejarah perkembangan Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme di Indonesia pada masa pergerakan. Ketiganya punya perbedaan mendasar, namun dalam konteks pergerakan perjuangan kemerdekaan ketiganya memiliki satu tujuan yakni Indonesia merdeka dan hal itu dimanfaatkan betul oleh Bung Karno sebagai kekuatan besar untuk menghantam kolonialisme dan imperialisme tanpa menjunjung tinggi yang satu dan menenggelamkan yang lain.

Kemajemukan dan inklusivitas adalah identitas primordial bangsa Indonesia sebagai komunitas yang dibayangkan sudah sejak dahulu kala. Dan, oleh Bung Karno hal itu bukanlah sebuah Fobia yang harus disingkirkan, melainkan sebuah kekuatan dan kekayaan untuk membangun Indonesia yang besar, adil, dan makmur. Rasa persatuan untuk mewujudkan Indonesia merdeka itu hanya mungkin terjadi jikalau semua elemen bangsa bersikap terbuka melihat dan menerima perbedaan yang ada sebagia sebuah kekuatan bersama untuk mewujudkan Indonesia yang dicita-citakan.

Demokrasi Masa Rakyat untuk Keadilan Sosial

Sudah disinggung diatas bahwa kemerdekaan nasional atau Indonesia merdeka adalah sebuah jembatan emas, bukan tujuan final dari seluruh perjuangan merebut kemerdekaan. Kita harus membangun jembatan emas yang pada gilirannya untuk diseberangi menuju kepada kemerdekaan sejati, yakni terciptanya tatanan masyarakat adil dan makmur. Artinya, tiada lagi masyarakat dengan sistem kapitalisme dan imperialisme dalam bentuk apapun. Bung Karno sadar betul bahwa jembatan emas itu bisa saja tidak dilalui sama sekali oleh rakyat Indonesia kebanyakan, tetapi hanya dinikmati oleh kaum borjuis baru dan juga kaum feodal. Oleh karena itu, ia menawarkan kepada bangsa Indonesia sebuah senjata ampuh untuk mempertahankan kemerdekaan dari bentuk-bentuk penjajahan yang baru. Namanaya: Demokrasi masa rakyat!

Yang dimaksud dengan demokrasi masa rakyat oleh Bung Karno adalah kemandirian diatas bidang politik dan ekonomi. Yang kedua itu yang paling penting. Demokrasi politik berarti rakyat dapat terlibat langsung dalam memutuskan dan menjalankan kebijakan-kebijakan politik negara. di bidang ekonomi, semua perusahaan besar berada ditangan negara untuk pemenuhan kebutuhan seluruh bangsa. Negara dikuasai oleh rakyat dan kekayaan alamnya diperuntukkan bagi rakyat dan hanya untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

“Dengan demokrasi politik dan demokrsi ekonemi itu,  maka seberangnya jembatan emas masyarakat Indonesia bisa diatur oleh rakyat sendiri sampai selamat dibikin menjadi suatu masyarakat tanpa kapitalisme dan imperialisme,” kata Bung Karno.

Sayangnya ideal-ideal yang ditawarkan Bung Karno tak sampai ia wujudnyatakan di dalam kepemimpinannya. Hal itu berimbas sampai hari ini, kita tak bisa sungguh-sungguh menikmati demokrasi baik dibidang politik dan dibidang ekonomi.

Merdeka berarti merdeka dibidang politik dan ekonomi serta kebudayaan. Tiada kemerdekaan sampai benar-benar sanggup berdiri diatas kaki sendiri, tiada kemerdekaan jika kita masih berkubang kemiskinan, tiada kemerdekaan ketika martabat kemanusiaan masih diabaikan, tiada kemerdekaan ketika perempuan masih menjadi budak kaum pria, tiada kemerdekaan krtika kita masih menjadi kuli dan diperbudak oleh bangsa lain. Kemerdekaan, sekali lagi, hanyalah sebuah instrumen, jembatan emas, untuk sampai kepada suatu cita-cita luhur kemerdekaan sejati.

Oleh : I Gede Hendra Juliana

Daftar Pustaka

Sudiarja, Antonius (ed.).2006. Karya Lengkap Driyakara. Jakarta:Gramedia

Pustaka Utama.

Hartono, Rudi dan Ulfa Ilyas.2013.Bung Karno: Nasionalisme, demokrasi

dan revolusi. Jakarta:Berdikari Nusantara Makmur.

Tjaja, Broery dkk.2017. Pancasila Rumah Bersama.

Jakarta:Libri.Hlm.161.

Komentar Anda