Peringati Hari Raya Kuningan dan Siwaratri PC KMHDI Badung Ngayah di Pura Sakenan, Denpasar

Pura Sakenan adalah salah satu pura penting yang terletak di wilayah selatan Bali, berada di atas pantai di barat laut Pulau Serangan, yaitu sebuah pulau kecil yang berjarak sekitar 10 km di selatan Denpasar. Berdasarkan Lontar DwijendraTattwa, nama Sakenan berasal dari kata “sakya” yang berarti “dapat langsung menyatukan pikiran”.

 

Lontar tersebut menguraikan bahwa pada bagian tepi barat laut Serangan, Dang Hyang Niratha tertegun melihat keindahan alam laut yang tenang dengan pantai yang asri. Oleh karena itu, Beliau membangun tempat pemujaan yang diberi nama Pura Sakenan. Pura Sakenan berkonsep swamandala (terdiri atas pelinggih-pelinggih dan bangunan-bangunan) yang terbagi menjadi dua pelebah yaitu “Pura Dalem Sakenan” dan “Pura Pesamuan/Penataran Agung Sakenan”.

 
Pujawali (perayaan agung) dan piodalan (ulang tahun) Pura Sakenan jatuh setiap hari Sabtu, Kliwon Kuningan menurut kalender Pawukon Bali yang panjangnya adalah 210 hari. Perayaan berlangsung selama tiga hari dengan puncaknya pada hari Minggu. Kuningan sendiri merupakan salah satu hari raya yang dikhususkan untuk memuja Dewa Wisnu yaitu Dewa pembawa kesejahteraan di dunia. Bagi umat Hindu di Bali, Kuningan merupakan satu waktu dimana para leluhur kembali ke langit setelah beberapa saat berada di bumi.

 

Momentum yang pas tersebut dimanfaatkan oleh PC KMHDI Badung bersama dengan tim pengayah lainnya untuk melaksanakan kegiatan ngayah di Pura Sakenan tersebut.
Ngayah merupakan kata yang sering didengar oleh umat Hindu umumnya atau masyarakat (Hindu) di Bali khususnya. Dalam berbagai kegiatan keagamaan (Hindu) ngayah diibaratkan sebagai “oksigen” yaitu suatu kebutuhan hakiki yang menafasi darah religiositas masyarakat Hindu.

 

PC KMHDI Badung bersama dengan tim pengayah lainnya (pihak Puri Agung Kesiman – Desa Adat Serangan selaku pemiliki wilayah, Desa Adat Pemogan, Desa Adat Kepaon, dan Desa Adat Kelan, mahasiswa/I dari beberapa kampus wilayah Badung dan Denpasar) membantu pelaksanaan piodalan di Pura Sakenan tersebut. Ayah-ayahan yang dilakukan yakni mulai dari membantu menghaturkan banten yang dibawa oleh pemedek, membagikan tirta ke para pemedek yang tangkil, ngelungsur banten, hingga membersihkan lingkungan tempat persembahyangan. Semangat gotong royong dan menyama braya sangat kental terasa, hal ini dibuktikan sikap saling membantu dan terbuka antar tim pengayah dan pemedek yang tangkil.

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai