Mengantisipasi Sikap Premodial di Kalangan Masyarakat

Sikap primordial merupakan sikap kedaerahan yang berlebihan yang selalu mengganggap bahwa kebudayaan di daerahnya lebih baik daripada kebudayaan di daerah lain. Adanya sikap yang seperti ini dapat menyebabkan masyarakat suatu daerah merendahkan dan tidak menghormati kebudayaan di daerah lain.

 

Sebenarnya sikap yang demikian sangat bertentangan dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia karena kata “kesatuan” dalam NKRI selain memiliki makna sebagai bentuk negara juga dapat bermakna sebagai persatuan dalam kebhinnekaan yang juga merupakan penjabaran dari semboyan negara Indonesia yaitu “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu.

 

Persatuan dalam perbedaan merupakan prinsip dasar yang paling ditekankan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negara Indonesia yang majemuk ini, karena untuk dapat menyatukan sebuah perbedaan bukan merupakan hal yang mudah dan tidak mungkin dapat terwujud apabila tidak ada sikap toleransi, tenggang rasa dan saling menghormati.

 
Memang tidak mudah untuk mengantisipasi sikap primordial agar tidak membawa bencana di masyarakat, apalagi di zaman modern ini sudah jarang bagi masyarakat untuk melestarikan kebudayaan daerahnya semata-mata untuk melaksanakan tugas turun-temurun yang diberikan oleh leluhurnya, namun sekarang cenderung dibutuhkan juga adanya dorongan dan kesadaran yang kuat dari masyarakat sendiri untuk mau melestarikan dan mempertahankan kebudayaan daerahnya.

 

Salah satu faktor yang dapat mendorong masyarakat untuk tetap melestarikan kebudayaan daerahnya adalah dengan menumbuhkan rasa bangga terhadap kebudayaan sendiri, namun untuk menumbuhkan rasa bangga tersebut bisa saja terdapat masyarakat yang melakukannya dengan sikap yang egois yakni dengan cara menanamkan pemikiran yang beranggapan bahwa kebudayaan daerah yang dimilikinya adalah lebih baik daripada kebudayaan daerah lain. Walaupun pemikiran seperti itu bertujuan untuk memperkuat keyakinan terhadap kebudayaan daerah serta dilakukan sebagai upaya pengalihan terhadap budaya lain yang dianggap dapat mengancam kebudayaan mereka, namun tetap saja ada kekhawatiran bahwa sikap yang egois seperti itu akan menimbulkan rasa bangga yang berlebihan sehingga muncul keinginan-keinginan untuk bisa menyaingi dan menaklukkan kebudayaan daerah lain.

 

Apabila sikap yang demikian dibiarkan maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi pergesekan dan persaingan yang tidak sehat antar kebudayaan masyarakat suatu daerah dengan daerah lainnya yang dapat menjadi ancaman bagi keutuhan serta persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk itu sebaiknya sikap primordial yang egois harus selalu diantisipasi agar tidak muncul dan menimbulkan malapetaka.

 
Masyarakat harus sudah mulai dewasa dalam menyikapi segala bentuk perbedaan yang ada dengan cara menanamkan pola pikir bahwa segala perbedaan yang terdapat di negara seribu pulau ini adalah merupakan anugerah dari Tuhan yang sepatutnya disyukuri dan bukan malah dipandang sebagai suatu permasalahan. Seyogyanya tidak ada satu pun kebudayaan atau keyakinan yang dapat lebih dibanggakan daripada keyakinan untuk mampu hidup harmonis dan saling menghormati di tengah masyarakat yang sangat majemuk ini, karena hidup dalam kemajemukan merupakan tantangan tersulit yang dihadapi oleh seluruh bangsa-bangsa di dunia namun mampu dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia yang selalu menyandarkan diri kepada Pancasila dengan semboyannya yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”.

 

Penulis:
Nama: I Gede Yudi Arsawan
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Udayana
Anggota Litbang PC KMHDI Badung

Komentar Anda