PILEG 2019 “CALEG MISKIN GAGASAN “

Baru saja kita menyambut datangnya tahun baru 2019 dengan suka cita yang tentu saja disertai dengan harapan agar tahun ini bisa menjadi tahun yang lebih baik bagi mereka. Tak terkecuali para elit politik yang pada tahun ini akan kembali bertarung untuk merebutkan singgasana yang tersedia di rumah rakyat, baik di tingkat pusat maupun tingkat kabupaten/kota.

Tahun ini untuk pertama kalinya Indonesia akan menerapkan pesta demokrasi serentak. Jadi pemilihan anggota legislatif serta pemilihan presiden dan wakil presiden akan dilaksanakan pada hari yang sama. Jadi, para pemilih akan mendapatkan 5 (lima) surat suara yang terdiri dari surat suara Presiden dan Wakil Presiden, DPR-RI, DPRD Provinsi, DPRD Kab/Kota dan DPD RI. Sehingga penyelenggara mesti bekerja ekstra keras untuk memikirkan teknis dari awal hingga nanti pada penentuan keputusan akhir siapa yang berhak menjadi penguasa.

Terkhusus pemilihan legislatif, tentu hari ini kita sangat sering melihat berbagai Alat Peraga Kampanye (APK) yang dipasang setiap sudut kota, bahkan tidak sedikit APK yang dipasang secara sembarang tanpa mengindahkan estetika keindahan tata ruang kota. Yang membuat kota seakan-akan menjadi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang dipenuhi oleh APK para calon tersebut.
Namun berangkat dari hal itu, sadarkah kita sudah berapa bulan masa kampanye berjalan? Dan berapa lama APK itu sudah berdiri memenuhi sudut kota? Ya, sejak 23 September 2018 masa kampanye sudah dimulai dan itu artinya tahapan kampanye hari ini sudah memasuki bulan keempat. Tapia pa yang kita lihat selama 4 (empat) bulan ini? Hanya wajah mereka dan redaksi yang mengemis meminta doa restu dan yang sudah pasti adalah meminta dukungan para pemilih yang nantinya akan mencoblos pada 17 April 2019, dan hal itu tidak dibarengi dengan mencantumkan Visi, Misi serta Program Kerja apa yang akan mereka perjuangkan saat mereka terpilih masuk parlemen.

Jadi, selama 4 bulan ini kita otomatis tidak memiliki informasi alias miskin informasi tentang calon-calon wakil rakyat yang nantinya akan mewakili suara-suara kita di parlemen nanti. Jadi, apa jadinya bila kita tidak memiliki informasi atau referensi yang cukup dalam memilih calon legislatif? Kita sama saja seperti membeli kucing dalam karung! Kita hanya membeli tanpa kita ketahui seperti apa rupanya, rupanya saja kita tak ketahui, bagaimana dengan kualitasnya? Sangat mustahil.

Hari ini juga masih sangat dan teramat banyak masyarakat yang transaksional. Maksudnya apa? Jadi maksudnya masih banyak masyarakat yang menentukan pilihannya atas dasar materi, dalam hal ini ya rupiah. Siapa yang berani memberi rupiah dengan nominal yang besar, maka itu yang akan dipilihnya. Tapi itulah yang sekiranya keliru sekarang ini, yang menyebabkan iklim politik kita hari ini seakan-akan setiap orang yang ingin menjadi pemimpin wajib menyediakan uang dengan jumlah nominal yang tidak sedikit. Bahkan istilah “mahar politik” dan “politik uang” juga sudah tidak asing dan sudah menjadi rahasia bagi khalayak umum.
Apakah kita akan terus membiarkan hal tersebut? Jawaban “IYA” pasti dipilih bagi mereka yang ikut menikmati kucuran dana dari para calon legislator. Tapi kebiasaan itu secara perlahan harus kita hentikan, karena yang kita butuhkan hari ini tidak hanya materi dalam bentuk uang saja, melainkan aksi nyata dalam proses mencerdaskan warga bangsa. Dengan warganya yang cerdas, tentu saja perihal mencari materi tidak lagi menjadi perkara yang sulit.

Namun hari ini masih belum kita lihat para Caleg yang sungguh-sungguh menampilkan program-program apa saja yang akan mereka perjuangkan jika diberikan mandate oleh rakyat. Program-program itulah yang mesti kita selalu tuntut kepada para calon tersebut dalam kegiatan kampanye yang mereka lakukan di daerah pemilihan kita masing-masing. Agar kejadian membeli kucing dalam karung tidak kembali terulang di setiap perhelatan demokrasi tersebar di bangsa Indonesia.
Tugas kita sebagai pemilih adalah meneliti setiap Visi, Misi dan Program yang dicanangkan dan memfilter mana yang dirasa perlu dan relevan untuk mengatasi masalah yang ada hari ini. Selain itu, kita juga harus menghentikan iklim politik transaksional ini, agar kedepannya para caleg menemui masyarakat pemilihnya tidak lagi menawarkan bansos atau jumlah uang yang bisa mereka berikan. Tetapi mereka menyediakan program pembangunan SDM dan juga solusi dari berbagai permasalahan yang ada di dapilnya masing-masing.

Dengan terwujudnya hal tersebut, niscaya akan muncul pemimpin-pemimpin yang berkualitas dan mampu membawa perubahan ke arah yang baik kedepannya bagi bangsa dan negara. Serta dengan terwujudnya pemilih yang cerdas, pasti akan diikuti dengan munculnya pemimpin yang cerdas pula. Karena pemimpin yang berkualitas hanya akan dihasilkan dari pemilih yang berkualitas pula.

Ingat! Rabu, 17 April 2019 gunakan hak pilih kalian di bilik suara. Siapaun pilihan kalian akan menentukan masa depan Indonesia. Golput bukanlah pilihan bijak bagi kita sebagai warga negara yan mengaku sebagai negara demokrasi. Suaramu sangat menentukan Indonesia menuju lebih baik dan menentukan apakah Indonesia mampu merealisasikan Indonesia Emas 2045.

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra, ST

Komentar Anda