PERAMPASAN BUKU ADALAH PEMBODOHAN DAN PENGEBIRIAN INTELEKTUAL

Geliat penyitaan dan pengebirian intelektual terjadi dua kali dalam sebulan belakangan ini. Pertama di Kediri pada Desember 2018, dan yang baru-baru ini terjadi di Padang pada januari 2019. Ini bukan pertanda baik untuk iklim literasi di Indonesia. Dari kedua toko buku tersebut bukan hanya menyasar “buku komunis” saja. buku yang ditulis Founthing Father Soekarno pun tak luput dari sasaran penyitaan. Di Kediri TNI membawa buku “Islam Sontoloyo, dan di Padang TNI serta Kejaksaan Menyita buku “Jas Merah”karya Presiden Pertama Indonesia.

Mengapa buku-buku yang dianggap berhaluan kiri menjadi sasaran aparat? “Alasannya yang pertama adalah penyebaran ajaran komunisme ini masih dilarang karena ada TAP MPRS Nomor XXV tahun 1966.

Namun proses razia ini tidak mengikuti perkembangan aturan-aturan hukum yang baru, sehingga “TAP MPRS nomor XXV tahun 1966 digunakan secara arbitrer untuk melakukan tindakan-tindakan yang justru kontradiktif dengan perkembangan demokrasi yang ada sekarang.” Adapun Mahkamah Konstitusi pada 2010 silam memutuskan mencabut Undang-undang nomor 4/PNPS/tahun 1963 yang membolehkan Kejaksaan melarang buku tanpa melalui proses peradilan. Setelah pencabutan peraturan ini, pelarangan buku baru bisa dilakukan setelah melalui proses hukum dan diputuskan oleh pengadilan. Dalam putusan itu, ditulis juga bahwa penyitaan buku-buku sebagai salah satu barang cetakan tanpa melalui proses peradilan, sama saja dengan pengambilalihan hak pribadi secara sewenang-wenang yang dilarang Pasal 28H ayat 4 UUD 1945.

Kebebasan mencari dan memperoleh informasi bukan hanya sebuah hak asasi, melainkan syarat agar pencerdasan Kehidupan bangsa bisa berhasil. Jangan biarkan diri kita diteror oleh orang-orang yang menuliskan pembodohan pada panji- panji mereka. tindakan aparat dalam hal ini TNI dan Jaksa tidak bijak. Pasalnya, buku merupakan produk intelektual yang semestinya disikapi dan direspon dengan cara yang juga intelek. “Kalau merespon dengan cara-cara ini (razia) artinya ada kemunkingan aparat ini punya sikap anti-intelektual dan ini bahaya untuk peradaban kita. Razia buku ini bertentangan dengan semangat zaman yang semakin terbuka, dimana informasi dan akses internet sangat mudah didapat. Kalau buku cetakan disita, memang anak muda nggak bisa akses ke website yang menyediakan informasi yang serupa?

Saat ini kita berada pada era demokrasi, dimana kebebasan berpikir dan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan itu seharusnya dijamin oleh negara. Menurut saya tidak akan menjadi masalah jika ruang kebebasan untuk membaca, berdiskusi dan mempelajari gagasan apa pun, baik itu paham berhaluan kanan atau kiri. Komunisme boleh saja dilawan, akan tetapi dilawan dengan mengetahuinya! “Ide-ide gagasan marxisme ataupun komunisme ketika dibaca dengan ruang kebebasan yang memadai, kita justru bisa melihat kelemahan-kelemahan dari gagasan tersebu.,” Bagaimana kita dapat mengambil sikap terhadap salah satu gerakan politis paling berpengaruh di abad ke 20 apabila dasar-dasar Ideologisnya tidak dapat kita kritik? Dan, bagaimana kita dapat mengkritik apabila kita tidak mengeti apa yang mau kita kritik?

Kebangkitan PKI, adalah isu yang kerap direproduksi jelang pemilu. Isu “hantu” PKI ini kembali mengisi perdebatan demi perdebatan elit politik. Sekelompok orang yang khawatir bahwa komunisme di Indonesia mau bangkit lagi itu jelas suatu salah paham yang tragis dan cukup berbahaya kalau dibiarkan saja. Bukan bahwa hanya sesudah 30 tahun kediktatoran Ideologis Orde Baru jangan diijinkan lagi ada orang yang dengan paksaan, ancaman, dan teror mau mendiktatori kita tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh kita baca.

Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu. Kebebasan membaca yang kami mau. Ditengah rendahnya minat baca masyarakat Indonesia mari kita lawan segala macam bentuk pembodohan, dan pengebirian intelektual. “Membaca dapat menjaga hati dari kegelisahan dan memelihara waktu dari kesia-siaan. Buku adalah Gerbang dunia dan membaca adalah kuncinya. Buku lama adalah buku baru bagi mereka yang belum memacanya.

Salam Literasi…!!!
Satyaeva Jayate…!!!

Oleh : I Gede Hendra Juliana
Ketua Departemen Kaderisasi PP KMHDI

Komentar Anda