MEMBACA, KOPI, DAN KMHDI

I PUTU SETIAWAN

(ANGGOTA DEPARTEMEN KADERISASI PP KMHDI)

Membaca adalah kegitan yang dilakukan oleh sesorang untuk mencari maksud yang ingin disampaikan penulis melalui isi bacaan. Membaca ini bertujuan agar kita bisa lebih mengerti dan paham dengan apa yang ingin disampaikan penulis. Kegiatan membaca adalah senjata bagi seorang untuk mengetahui lebih jauh melalui banyak bacaan tentang sebuah permasalahan.

 

KONDISI MINAT BACA BANGSA INDONESIA

Indonesia adalah negara yang sangat besar, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2017 menduduki peringkat ke-4 di dunia yang mencapai 264 juta jiwa, dibawah amerika serikat yang menduduki peringkat 3, india pada peringkat 2, dan tiongkok pada peringkat 1. Berangakat dari jumlah penduduk yang sangat besar ini, ternyata dalam segi membaca Indonesia sangat jauh berada di peringkat bawah dari negara-negara di dunia.

Menurut data statistic UNESCO 2016,  kondisi minat baca bangsa Indonesia memang cukup memprihatinkan, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Sedangkan Finlandia menduduki peringkat pertama dengan tingkat literasi yang tinggi, hampir mencapai 100%. Mengenaskan sekali sebenarnya. Bagaiamna tidak, Negara yang besar dan kaya akan sumber daya alam, dalam urusan pengembangan sumber daya manusia melalui mmebaca sangat rendah.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi minat baca Indonesia masih rendah, antara lain: (1) Belum ada kebiasaan baca yang ditanamkan sejak dini. Role model anak di keluarga adalah orang tua. Apabila orang tua tidak memberikan contoh kepada anak untuk rajin membca, maka anak tersebut akan mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tuanya. (2) Akses ke fasilitas pendidikan belum merata dan minimnya sarana pendidikan. (3) Masih kurangnya produksi buku di Indonesia sebagai dampak belum berkembangnya penerbit di daerah, inisiatif bagi produsen buku dirasa belum adil dan wajib pajak bagi penulis sehingga memadamkan motivasi mereka untuk melahirkan buku berkualitas.

MEMPERKOSA BUKU BERSAMA KOPI

Kegiatan ngopi adalah kegiatan “seksi” nan “elegan” bagi penikmatnya. Setiap tegukan yang masuk beriringan juga dengan nutrisi diskusi bersama teman ngopi pada saat itu. Kegiatan yang biasanya dilakukan para kaum muda ini adalah kegiatan yang tepat jika dikolaborasikan dengan proses belajar dan membaca. Aroma kopi yang nikmat mampu merelaksasi otak manusia sehingga terbawa kedalam suasana tenang.  Kopi adalah senjata bagi para penggiat baca untuk “memperkosa” tumpukan buku bacaan. Para penikmat kopi dewasa ini, menggunakan senjata kopi dalam “menjajah” para ilmu yang bersembunyi dibalik tebalnya kertas penuh tulisan. Kegitan membaca akan terasa nikmat, dan bermakna ketika ditemani secangkir kopi. Terseduhnya secangkir kopi adalah bukti genderang “perang” para penggiat baca. Menjadi penggiat baca adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan, dengan membaca akan kita buka cakrawala dunia dan siap bergelut dengan dunia.

BUDAYA MEMBACA, SOLUSI PERKUAT  KADERISASI KMHDI

Membaca biasanya sering dilakukan oleh orang yang sedang mengikuti sebuah organisasi kemahasaiswaan. Pembahasan yang menyangkut ekonomi, politik, sosial, bahkan agama menuntut seorang organisator untuk lebih mengembangkan budaya membaca agar dalam diskusi tidak tumpul analisanya. Berbicara konteks KMHDI, secara nasional melalui pengamatan yang dilakukan oleh penulis melalui metode wawancara, sebagian besar kader KMHDI minat baca bukunya rendah, dengan berbagai macam alasan. Terlepas dari alasan-alasan tersebut, rendahnya minat baca kader KMHDI ini akan menjadi tantangan bagi kmhdi untuk menciptakan budaya baru dalam tubuh kmhdi, yaitu budaya membaca. Hal ini juga akan digunakan untuk keperluan mensukseskan pelaksaan KT 1 yang pelaksanaannya akan mempelajari beberapa buku bacaan. Selain keperluan untuk menunjang pelaksanaan KT 1, membaca juga akan memperkaya dan menambah nutrisi otak. Selama toko buku, perpustakaan, dan rumah baca masih ada, disana bersemayam sperma-sperma ilmu pengetahuan, hal ini juga sejalan dengan Tan Malaka, dalam bukunya berjudul MADILOG (MAtrealisme, DIalektika, LOGika) mengatakan bahwa “ selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi ” dalam hal ini, Tan Malaka memprioritaskan membaca dalam hidupnya, sehingga menganjurkan untuk mengurangi pakain dan makanan. Peryataan dari Tan Malaka ini saya rasa sangat relevan jika diselipkan dalam setiap individu kader untuk menumbuhkan minat baca kader KMHDI.

Komentar Anda