Panglima TNI Berimotivasi kepada Peserta Mahasabha XI KMHDI

TNI memiliki kewajiban untuk mengamankan wilayah  NKRI terhadap berbagai macam bentuk Ancaman, Gangguan, Hambatandan Tantangan (AGHT), karena sesuaidengan Undang-Undang nomor 34 tahun 2004 tentang TNI, bahwa TNI memiliki tugas pokok menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI dan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan Bangsa dan Negara.

Hal tersebut disampaikan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P. di hadapan 1.500 mahasiswa se-Yogyakarta dan masyarakat Hindu dari seluruh Indonesia pada Kuliah Umum Kebangsaan di Kongres ke-11 Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) sekaligus merayakan HUT ke-25 KMHDI, bertempat di Imperial Ball Room The Rich Jogja Hotel, Rabu (29/8/2018).

Menurut Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P. berbagai macam bentuk ancaman tersebut bisa saja dari dalam negeri maupun luar negeri karena memang ancaman sekarang sudah mulai bergeser ke bentuk ancaman non state (bukan berbentuk negara), namun tetap diwaspadai bahwa ancaman itu ada termasuk ancaman dalam negeri.

“Berbagai macam bentuk ancaman di era sekarang berbeda dengan era sebelumnya, bentuk ancaman saat ini harus kita waspadai diantaranya berbentuk ancaman siber (cyber threats), ancaman biologis (bio threats) dan ancaman kesenjangan (inequality threats),” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto  S.I.P. juga menyampaikan tentang kemajuan teknologi yang membawa dampak positif yaitu mempercepat arus informasi dan mempermudah akses terhadap informasi, disisi lain dampak negatifnya meningkatnya penipuan, kejahatan cyber, berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian (hate speech).

Panglima TNI menjelaskan bahwa kemajuan teknologi saat ini membawa nilai positif bagi kehidupan manusia, namun juga memiliki beberapa paradoks yang perlu dicermati diantaranya adalah cyber threat, bio threat dan inequality threat.“Ancaman cyber menjadi perhatian utama, mengingat lebih dari separuh penduduk dunia telah terhubung dengan dunia cyber,” ungkapnya.

Selain itu Panglima TNI mencoba memotivasi peserta Kongres XI KMHDI dengan menceritakan jalan hidup yang dilaluinya.

Hadi pun menuturan perjalanan hidupnya yang berasal dari keluarga sederhana, anak seorang kopral TNI AU. Membantu orang tua untuk membesarkan empat adiknya, dijalani Hadi sejak beranjak remaja.

“Saya dulu anak kopral dan tinggal di komplek yang di situ juga ada perwiranya, jadi saya dan keluarga orang kecil yang tidak dikenal,” urai Hadi.

Hadi pun terpaksa meninggalkan orang tua dan adik-adiknya karena harus menjalani pendidikan di AAU. “Saya masuk taruna dan harus meninggalkan orang tua dan empat adik saya,” ujarnya lagi.

Meski sempat menjadi Komandan Resimen Korps Taruna yang cukup bergengsi saat menjadi taruna AAU, Hadi mengatakan bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa.

Apalagi dengan menjadi penerbang pesawat Casa NC-212, Hadi tetaplah penerbang TNI AU yang tidak dikenal.

“Saya jadi penerbang namun juga bukan penerbang elite, sehigga saya tidak dikenal dan banyak dianggap tidak ada apa-apanya,” ungkap Hadi di hadapan semua mahasiswa peserta Kongres.

Sampai kemudian dipercaya menjadi Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau), Hadi mulai mendapatkan kesempatan untuk membuktikan dirinya.

“Saya mulai dikenal dan sedikit berprestasi karena bisa menjelaskan peristiwa jatuhnya pesawat Air Asia yang membuat masyarakat paham,” kenang Hadi.

Dalam babak berikutnya, Hadi pun dipercaya Presiden Joko Widodo untuk menjadi orang nomor satu di TNI AU, yaitu KSAU. Dan sekarang Panglima TNI.

“Saya orang yang paling bawah, di angkatan pun saya dianggap sudah selesai, bukan penerbang elite, tapi di dalam hati saya terus membangun optimisme dan semangat untuk meraih yang terbaik,” kata Hadi.

“Sekarang saya terkenal,” kata Hadi sambil senyum.

Kepada seluruh mahasiswa peserta Mahasabha XI KMHDI, Panglima TNI berpesan untuk bijak menggunakan internet dan sosial media.

Karena selain memberikan kemudahan dalam kehidupan, kemajuan internet dan sosial media di sisi lain digunakan untuk menebar kebencian dan berita bohong.

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai