Sang Puteri Agung Namun Asing, Gayatri Rajapatni: Perempuan Dibalik Nama Besar Majapahit

Perempuan, sejak diciptakan telah menjadi istimewa walau hanya tumbuh dengan apa yang melekat didalam dirinya. Rahimnya melahirkan peradaban, pendidikan diatas pangkuannya cerdaskan keturunan. Kita tidak akan pernah tau betapa mereka sungguh bermakna sampai kesempatan itu diberikan kepadanya.  Seperti hari ini 700 tahun bahkan lebih, sosok penting itu hampir tenggelam didalam sejarah tanpa pernah dikenal dan diteladani nilai hidup perjuangannya. Sang Puteri Agung penerus cita-cita luhur menyatukan Nusantara, perempuan hebat nan bijaksana, pikiran dan hatinya hantarkan Majapahit mencapai puncak Kejayaan ialah Dyah Gayatri Rajapatni istri Raden Wijaya Raja pertama Kerajaan Majapahit. Ia percaya mimpi dan harapan tidak akan pernah sia-sia untuk diperjuangkan walau berlumur darah. Kejayaan mengisyaratkan pesan, bahwa pengorbanan adalah harga atas sebuah kemenangan.

Gayatri merupakan putri bungsu Raja Singasari terakhir yakni Krtanegara. Orang tuanya wafat akibat serbuan Kerajaan Kediri yang hampir membuat harapannya pupus tentang penyatuan Nusantara. Bersama Raden Wijaya suaminya, Gayatri menyusun strategi untuk membangun kembali harapan tersebut diatas sisa-sisa kejayaan Singasari dan mendapat gelar “Rajapatni” yang berarti istri utama Raja (Raden Wijaya memiliki empat orang istri yang kesemuanya adalah Puteri Krtanegara). Raden Wijaya naik tahta sebagai Raja Majapahit yang pertama dan memiliki dua orang puteri dari Dyah Gayatri yakni Dyah Gitarja (yang kemudian mendapat gelar Tribhuwana Tunggadewi) dan Dyah Wiyat. Raden Wijaya wafat pada 1309 M dan Gayatri tidak melahirkan seorang putera untuk diberikan tahta, maka Jayanegara putera Raden Wijaya dengan seorang Puteri Kerajaan Malayu diangkat sebagai Raja Majapahit berikutnya. Setelah 15 tahun Majapahit berdiri dibawah kepemimpinan Jayanegara keadaan semakin memburuk, ditambah Jayanegara ingin menikahi kedua puteri Gayatri Rajapatni yang kemudian berhasil dihindari dengan menjadikan kedua putrinya sebagai Ratu pada Kerajaan dibawah Majapahit. Dyah Gitarja menjadi Ratu Kahuripan dan Dyah Wiyat sebagai Ratu Kediri.

Peran besar Gayatri dimulai saat Jayanegara wafat, Gayatri Rajapatni tidak saja memainkan peranannya sebagai istri Raden Wijaya, namun berperan besar mewariskan percaturan politik pemerintahan Majapahit. Gayatri dengan penuh kepercayaan mengambil alih kerajaan yang kala itu menghadapi masa krisis pasca wafatnya Jayanegara. Untuk menghindari konflik meluas, Gayatri mengangkat puteri sulungnya Dyah Gitarja sebagai Ratu Majapahit atau yang lebih dikenal dengan nama Tribhuawana Tunggadewi untuk meneruskan kepemimpinan. Keberanian tanpa ragu ini menghantarkan Tribhuwana sebagai Ratu yang masyur dibawah bimbingan dan pengawasan Gayatri Rajapatni. Tidak sampai disana Gayatri mengangkat Gajah Mada sebagai Mahapatih Majapahit yang merupakan rakyat biasa, namun dimatanya Gajah Mada adalah pemuda gagah berani layaknya berlian yang belum terasah. Saat dinobatkan sebagai Mahapatih, Gajah Mada mengumandangkan sumpahnya untuk menyatukan nusantara sesuai amanat dan cita-cita dari ibu suri Agung, Gayatri Rajapatni.

Gajah Mada dalam menyatukan Nusantara tidak sendirian, ia berjuang bersama Adityawarman pejuang berdarah Singasari-Malayu yang kemudian dirasa akan mengancam tahta Tribhuawana. Gajah Mada bermaksud menyingkirkan Adityawarman yang namanya kian dikenal pasca menaklukan Kerajaan Bali. Gayatri Rajapatni menengahi konflik ini dengan menempatkan Adityawarman sebagai Maharaja di bumi Malayu. Sebelum wafat, Gayatri mengamanatkan Tribhuawana untuk menyerahkan tahtanya kepada sang cucu, Rajasanagara atau Hayam Wuruk. Bersama Gajah Mada, Hayam Wuruk menerima tahta pada usia 16 tahun (1334M) dan memimpin Majapahit menuju puncak kejayaan. Pada 1350M Gayatri Rajapatni wafat di Mandala Pacira. Atas peran besarnya, Hayam Wuruk membangun sebuah Candi Pendharmaan di daerah Boyolangu Tulungagung. Arca perwujudannya dinamai Pradjnaparamita yakni perempuan Ardanareswari yang penuh wibawa dan bijaksana dalam mengayomi Majapahit.

Penghormatan atas jasa besar Gayatri Rajapatni bahkan termaktub dalam kitab Negarakrtagama karya Mpu Prapanca:

Adalah watak Rajapatni Gayatri yang agung, sehingga mereka menjelma pemimpin besar sedunia, yang tiada tandingannya. Putri, menantu, dan cucunya menjadi raja dan ratu. Dialah yang menjadikan mereka penguasa dan mengawasi semua tindak tanduk mereka”

(Negarakrtagama, Bab 48)

Dyah Gayatri Rajapatni legendanya bahkan dituliskan dengan rinci oleh Earl Drake seorang Duta Besar Kanada untuk Indonesia dalam bukunya Gayatri Rajapatni, Perempuan Dibalik Kejayaan Majapahit. Drake menggambarkan Gayatri dalam bukunya sebagai Putri Raja berparas cantik, rareswari mewarisi kecantikan nenek buyutnya Ken Dedes dengan wajah yang meneduhkan dan memiliki pancaran kecerdasan dari dalam dirinya. Nama Dyah Gayatri begitu asing dalam berbagai kajian sejarah yang lebih banyak mengangkat kisah heroik para pria. Hal ini kemudian menjebak banyak perempuan merasa dirinnya memiliki keterbatasan untuk memimpin dan menduduki posisi strategis karena menilai peran itu hanya milik pria.

Kepemimpinan perempuan kerap dinilai lemah karena karakteristiknya yang lembut, penuh kasih, dan amat mengandalkan perasaan. Dalam bukunya, Drake menceritakan bahwa Gayatri adalah perempuan yang tidak pernah kehilangan kelembutannya, dan Gayatri sangat sadar bahwa cita-cita penyatuan adalah harapan yang penuh rintangan dan pertumpahan darah. Namun Ia bisa hadapi itu. Kepemimpinan bukan persoalan jenis kelamin, melainkan implementasi kecerdasan dan kebijaksanaan. Gayatri bahkan menelurkan beberapa kebijakan non-populis salah satunya dengan mengangkat Gajah Mada sebagai Mahapatih yang merupakan rakyat biasa. Tidak hanya menjadi pemimpin yang bijaksana, ia juga mampu menjadikan puterinya, menantunya, cucunya sebagai Raja dan Ratu yang masyur. Ia melahirkan pemimpin bukan saja dari rahimnya juga mendidiknya menjadi para pemimpin dan penguasa negeri nan bijaksana.

Sejarah itu sudah dimulai Gayatri Rajapatni sejak abad 13 M. Perempuan masa kini harus mampu mengukir sejarahnya sendiri dan berani keluar dari belenggu keterbatasan. Jika kala itu kesempatan harus menunggu untuk diberikan, masa kini seharusnya perempuan mampu menjemput kesempatannya. Setidaknya 5 Ketua Pimpinan Daerah dan Pimpinan Cabang serta 1 Koordinator Komisariat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia adalah Perempuan. 4887 atau sekitar 56% kader KMHDI adalah perempuan, ini membuktikan antusiasme perempuan untuk dididik menjadi calon pemimpin Hindu yang berkualitas dimasa depan sangat tinggi sesuai dengan tujuan KMHDI. 4887 kader puteri KMHDI bukanlah angka yang sedikit untuk merapatkan barisan dalam menumbuhkan kesadaran, bahwa perempuan para Kartini masa kini bukanlagi berada pada tataran menuntut kesetaraan melainkan sudah saatnya menunjukkan keterlibatan yang bermakna.

Kader perempuan KMHDI harus serius belajar, tidak pernah lelah menempa diri, berani menduduki dan memimpin posisi strategis dalam organisasi. Perempuan memiliki karakteristiknya sendiri saat memimpin, hal tersebut merupakan karunia yang didapat sejak ia dilahirkan, ia pendengar yang baik dan sangat peka dalam menyelesaikan masalah. Kader perempuan KMHDI tidak perlu menjadi laki-laki saat memimpin, karena kelembutan dan kecerdasan adalah senjata utama kepimimpinan feminis hari ini. Seperti yang tertulis didalam Sarasamuscaya bahwa perempuan dicintai karena kecerdasannya, kepemimpinannya, dan kemurniannya. Karena pada hakikatnya perempuan adalah hadiah bagi dunia.

Selamat Hari Kartini kepada seluruh perempuan khususnya Kader Perempuan KMHDI diseluruh Indonesia. Semoga semangat perjuangan Gayatri Rajapatni dapat memberikan inspirasi kepada para kader perempuan KMHDI untuk tidak pernah lelah belajar dan berjuang dalam meningkatkan kualitas diri agar mampu membuktikan eksistensi serta kontribusinya bagi bangsa dan organisasi.

 

Panjang umur perjuangan, Perempuan adalah Penerus Peradaban.

Satyam Eva Jayate.

Penulis: Nanda Rizka Saputri (Anggota Departemen Litbang Pimpinan Pusat KMHDI & Ketua Bidang Perencanaan dan Pengembangan Pengurus Nasional GenRe Indonesia)

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai