(Suara Kader) Benarkah Bali “Pulau Intoleran”?

Belakangan ramai perbincangan yang membahas persoalan persekusi terhadap seorang tokoh Agama oleh beberapa Ormas di Bali, yang kemudian memunculkan julukan baru untuk pulau Dewata itu menjadi “Pulau Intoleran”. Bahkan tersiarnya berita ini bukan hanya memprovokasi penggiat dunia maya, bahkan telah sampai ke telinga masyarakat awam.

Munculnya tudingan bahwa Bali intoleran merupakan klaim sepihak dan tidak berdasar bak seorang yang ejakulasi dini.

Citra Bali yang harmonis dan rukun dengan seketika rusak diterjang propaganda liar yang emosional. Klaim kolot tak berdasar dan tak bertanggung jawab ini sungguh menciderai keanggunan pulau berjuluk seribu pura yang telah lama terpelihara bersama berbagai elemen agama dan masyarakat di Bali. Bahkan klaim sepihak ini telah menjadi stigma negatif bahwa Bali itu intoleran.

Meskipun Hindu di Bali merupakan agama yang mayoritas, namun perlu diketahui bahwa penganut agama lain juga dapat mewujudkan mimpinya di pulai ini. Di beberapa tempat di Bali, umat beragama dapat menjadi contoh nyata bahwa Bali adalah ruang toleransi yang kongkrit yang menyajikan kedamaian dan solidaritas tinggi antar umat beragama, contohnya di Belimbingsari, Negara Kabupaten Jembrana ada umat Kristen menemukan kedamaiannya, di Pagayaman, Buleleng ada umat Muslim yang berbahagia dan masih banyak lagi.

Bahkan seringkali pecalang di Bali turut serta dalam mengamankan penyelenggaraan kegiatan keagamaan yang diselenggarakan lintas umat beragama yang ada di Bali. Ini merupakan contoh keharmonisan yang terpelihara di pulau Bali. Litbang Kementerian Agama juga mencatat bahwa Indeks Kerukunan Umat Beragama di Bali selalu menduduki 5 besar di Indonesia, ini merupakan fakta dan bukan sekedar asumsi yang dapat mementahkan tudingan bahwa Bali Pulau Intoleran.

Tudingan atau tuduhan yang menyebutkan beberapa Ormas melalukan persekusi sehingga memunculkan stigma Bali Intoleran sesungguhnya perlu diketahui bahwa yang dilakukan beberapa Ormas merupakan bentuk penolakan terhadap penceramah yang berpotensi memecah belah dengan menghina agama lain dan bahkan ada indikasi bahwa penceramah tersebut membawa agenda khilafah. Namun setelah dilakukannya mediasi maka penceramah tersebut diberikan kesempatan dengan syarat mencium bendera Merah Putih, berikrar kesetiaan pada Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, untuk membuktikan ketaatannya pada NKRI. Hal inilah yang ditolak dengan dalih atas dasar apa mengatakan tidak Nasionalis, namun kemudian menyerah dengan hanya menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Fakta diatas tidak diberitakan oleh beberapa media, justru beberapa media secara massif membangun berita bahwa Bali Intoleran yang kemudian mebuat banyak orang terprovokasi. Propaganda ini secara liar disebar sehingga menimbulkan stigma buruk terhadap Bali, serta berpeluang mengoyak keutuhan NKRI.

Media hari ini harus menyajikan informasi yang berimbang untuk dapat menjadi pertimbangan pembaca dalam menyimpulkan persoalan.

Tidak sedikit masyarakat yang mengemukakan argumentasinya meramaikan dunia maya tentang sikap kelompok Ormas yang menolak. Ada yang berpandangan tidak eloknya sikap yang dilakukan kelompok Ormas dan lain sebagainya. Namun yang saya soroti adalah sikap publik yang menuding Bali Intoleran. Saya percaya bahwa polemik ini bukan hanya ramai di Bali namun “Bali Intoleran” telah menggema ke seluruh pelosok Negeri, ini merupakan persoalan serius.

Barrack Obama mengatakan pada pidato perpisahannya “Jika anda kalah berdebat dengan seseorang di dunia maya, maka ajaklah berdebat di dunia nyata”. Maka dari itu saya ingin mengajak semua yang mengklaim “Bali Intoleran” bernalar berdiskusi secara sehat seputar tudingan “Bali Intoleran”,  agar tidak semata-mata berkoar atas dasar asas kebebasan berpendapat.

Semoga saja masyarakat segera menyadari pentingnya menjaga persatuan dalam bingkai kebhinekaan, dan Negara ini hadir ditengah-tengah untuk menyelesaikan setiap persoalan yang tak berkesudahan, serta kedamaian senantiasa hadir menyertai setiap langkah Bangsa yang besar ini.

Penulis: Wayan Dharmayasa (PC KMHDI Denpasar)

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai