(Suara Kader) Analisa Kritis Terhadap Generasi Muda

Sejak lahirhnya organisasi Boedi Oetomo pada 1928 pemuda mulai dapat menyatukan pikiran dan gagasan, pada saat itulah dumulainya awal gerakan mahasiswa. Lahirnya organisasi inilah yang kemudian diperingati sebagi hari sumpah pemuda. Tidak bisa kita kesampingkan ketika lahirnya Boedi Oetomo Indonesia belum merdeka, sehingga kaum muda sangat memberikan pengaruh besar terhadap kemerdekaan Negara Kesatua Rapublik Indonesia.

Sebelum masuk dalam analisa kondisi obyektif yang terjadi saat ini terhadap generasi muda, penting bagi kita juga mengetahui gerakan mahasiswa 98 yang turut mencatatkan sejarah halaman negeri. Gerakan pemuda 98 adalah sebagai tonggok merebut demokrasi dari tangan tirani orde baru. Tidak mudah dalam proses perjuangan ini, butuh keberanian yang besar dan semangat yang tak padam ketika dibombardir oleh peluru panas aparat tentara dan kepolisian. Pengorbanan yang besar itu patut kita renungkan kembali sebagai cambuk untuk evaluasi terhadap peran pemuda saat ini.

Demokrasi yang didapati saat ini adalah buah dari perjuangan pemuda-pemuda lintas generasi. Kita hanyalah sebagai pnerus perjuangan itu. Tetapi apakah saat ini generasi muda sudah siap meneruskan ataukah justru tidak mampu menerima hadiah yang besar dan berharga itu? Hal ini menjadi pertanyaan yang tentunya memerlukan jawaban langsung dari generasi muda sekarang. Sukarno pernah berkata bahwa “Perjuangan Ku mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuangan Mu akan sangat sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Kondisi ini lah yang tengah terjadi saat ini. Memang tidak ada lagi penjajah dari bangsa lain yang secara fisik dan kasat mata terlihat langsung, yang ada hanyalah perselisihan antar masyarakat, antar elit antar penguasa yang syarat akan kepentingan-kepentingan pribadi. Sangat jauh berbeda ketika zaman kolonialisme, dimana pemuda dapat menjadikan penjajah sebagai musuh bersama, sehingga gelombang gerakan kaum intelektual dalam mengusir penjajah masif di seluruh pelosok Indonesia.

Saat ini peran pemuda tidak dapat dilihat secara langsung. Tetapi keberadaan mereka masih cukup eksis dalam kelompok-kelompok organisasi kemahasiswaaan. Memang perjuangan tidak akan seperti tahun 1928 atau 1998, tetapi dengan membawa semangat persatuan antar pemuda dari berbagai suku, agama dan ras sudah cukup untuk menjaga marwahnya sebagai kaum kawah candradimuka. Ada beberapa hal yang menjadi pembeda perjuangan pemuda/mahasiswa yakni:

  1. Dimensi waktu

Dimensi waktu inilah yang kemudian menjadi pembeda perjungan antar generasi. Dalam keadaan terjajah, perjuangan untuk melawan adalah sebuah keharusan. Untuk mengusir kolonial memang dibutuhkan persatuan, kesamaan gagasan dan cita-cita. Jaman penjajah hanya ada satu musuh, yakni kolonialisme. Hal ini yang dihadapi oleh generasi muda sebelum tahun 1945. Maka sangat wajar ketika pemuda pada zaman itu mengemban tugas yang amat sangat berat. Dimensi waktu kini terjadi pada pemuda zaman sekarang. Tugas untuk melawan dan mengusir kolonial sudah tak ada lagi, yang adalah adalah mengisi kemerdekaan. Apakah dengan cara mempersiangat dan memeriahkan setiap HUT Kemerdekaan sudah dikatakan mengisi kemerdekaan?. Tentu jawabannya tidak. Dalam keadaan yang sudah merdeka ini, kalau pemuda tidak dapat mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif, maka kemerdekaan itu hanyalah sebuah hadiah sebagai harapan palsu.  Musuh sejatinya adalah menjaga keutuhan bangsa dari rongrongan paham-paham anti Pancasila. Karena tidak dapat kita pungkiri bahwa ketika kita sebagai pemuda idak dapat membangun persatuan dan menggagas kesatuan, maka kemerdekaan yang telah diberikan oleh para pahlwan hanya akan menjadi sebuah catatan sejarah. Tentu kita seua tidak menginginkannya terjadi.. Disaat ini seharusnya pemuda lebih dapat menunjukkan dirinya sebagai insan progresif terhadap situasi dan persoalan-persoalan yang terjadi.

  1. Aspek budaya dan teknologi

Tidaklah mungkin perjuangan dilakukan hanya seorang diri. Dibutuhkan semangat solidaritas untuk bersma-sama mengusir para penjajah. Dikorbankan banyak jiwa, harta dan benda untuk bisa membebaskan bangsa dari perbudakan. Diperluakan budaya gotong royaong sebagai asa “senasib sepenanggungan” untuk sama- sama merasakan keinginan yang merdeka. Itualah budaya pemuda zaman pra kemerdekaan. Nampaknya kondisi pemuda saat ini tidak sebaik dulu. Banyak pemuda yang tawuran, pertandingan sepakbola yang tak sedikit menimbulkan pertikaian, narkoba, miras, judi dan penyimpangan norma sosial. Tampaknya saat ini pemuda sangat krisis sekali terhadap budaya yang positif. Pesoalan ini tetika tidak dicarikan solusi dan digarap oleh seluruh stakeholder yang ada, akan menjadi cambuk yang manjadikan penyakit bangsa. Zaman pra kemerdekaan, tekniologi tak secanggih hari ini, pemuda hanya bermodalkan keberanian yang berkobar-kobar untuk menyatukan persatuan. Hanya dibutuhkan tenaga dan pemikiran kritis untuk berani bersikap. Tetapi di erah yang sebaga teknologi ini, perastuan pemuda sudah tidak begitu dirasakan lagi. Justu malah kerap terjadi perang hoax dalam media sosial. Berita-berita bohong, prilaku rasis, isu SARA, dan propaganda pemecah belah bangsa seolah menjadi makanan yang tak dapat ditolak. Karena sudah dipenuhi oleh teknologi digital, akibatnytnya ruang-ruang diskusi dalan kelompok wadah pemuda semakin tidak diminati. Akhirnya sedikit demi sedikit mengerus semangat persatuan dan kesatuan pemuda. Penyakit yang amat berbahaya ini ketika tidak disikapi oleh pemuda akan mengibatkan bahya serius terhadap eksistensi negara itu sendiri. Pemuda jangan menjadi pengahancur negaranya sendiri karena tidak dapat menyatukan gerakan persatuan, jadilah pemuda yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada dengan melakukan hal-hal produktif untuk kemajuan masyarakat dan lingkungannya.

  1. Daya kritis

Kondisi lingkungan sangat menentukan seperti apa sikap pemudanya. Tidak perlu kita jelaskan bagaimana pemikiran intelektual pemuda di zaman pra kemerdekaan sampai zaman pra reformasi. Apakah peikiran intelektual pemuda dan daya kritis terhadap persoalan-persoalan masyarakat, bangsa dan negara saat ini masih dipengah kuat oleh pemuda?. Kita semua dalam hati dapat menjawabnya. Dunia pendidikan sebagai tempat melahirkan pemikiran-pemikiran hebat generasi muda. Ketika saat ini pendidikan tidak lagi memegang pernannya sebagai pencetak insan-insan yang berbudi luhur dan berkarakter maka generasi intelektual berikutnya sudah tidak akan didapatkan lagi. Memang saat ini bukan lagi waktunya untuk melakukan gerakan seperti tahun 1998 yang mengkritisi pemerintah dan mengulingkannya. Tetapi untuk mengeluarkan pemikiran dan gagasan-gasan solutif untuk kemajuan bagsa adalah hal yang wajib dan harus dilakukan.

 

Satyam eva jayate……..!

Pemuda adalah dia yang berani membebaskan pikirannya.

Penulis : Made Wirayasa (Presidium KMHDI 2016-2018)

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai