Pemimpin adalah Asah, Asih, dan Asuh

Perbedaan pemimpin dan kepemimpinan. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan atau kelebihan dalam suatu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Sedangkan kepemimpinan adalah aktivitas dimana untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Atau menurut Ngalim Purwanto (1991:26) kepemimpinan merupakan sekumpulan dan serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat dan kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.

Menjadi seorang pemimpin yang memiliki sifat kepemimpinan tidaklah mudah. Tidak hanya cukup dengan modal tekad dan teori tentang kepemimpinan. Ketika seseorang menjadi seorang pemimpin, pasti akan menemui beragam sifat para anggotanya. Keberagaman sifat ini yang akan menguji seberapa besar pengaruh pemimpin yang ada untuk dapat menarahkan atau mengajak para anggotanya untuk mau mencapai suatu tujuan bersama tanpa adanya paksaan serta penuh dengan semangat. Jadi pemimpin bukan hanya mampu menyelesaikan target tujuannya, tapi juga mampu meregenerasi pemimpin untuk dikemudian hari.

Mampu meregenerasi pemimpin yang memiliki sifat kepemimpinan inilah yang menjadi barometer keberhasilan seorang pemimpin. Untuk mampu meregenerasi seorang pemimpin baru, pemimpin harus mampu menerapkan atau mengaktualisasika kayika yang asah, asih, dan asuh.

Apa makna asah, asih, dan asuh?

Dalam kamus besar bahasa Indonesia asah berarti mendidik, asih berarti mencintai atau mengasihi dan asuh berarti membina. Dalam Agama Hindu asah, asih, dan asuh masuk kedalam ajaran Tri Parartha yang berarti dapat mengantarkan umat manusia mencapai keselamatan dan kesejahteraan serta kebahagiaan hidupnya baik lahir maupun batin.

Apa hubungannya dengan pemimpin?

  1. Asah (mendidik)

Sebagai seorang pemimpin alangkah baiknya harus mampu mendidik anggota-anggota yang dipimpin. Mendidik dalam arti mampu mengarahkan dengan baik sesuai dengan karaker dan minat anggotanya. Jika seorang pemimpin mampun mendidik para anggotannya dengan baik maka pastilah tujuan yang diidamkan sebuah organisasi atau sebuah kelompok tersebut dapat terwujud dengan baik dan bahkan melebihi tujuan tersebut.

  1. Asih (mencintai)

Kita pasti pernah mendengar bahwa dibalik seorang anak yang sukses pasti dibelakangnya terdapat seorang ibu yang penuh kasih sayang mendidik anak tersebut. Mampu mendidik dengan baik tidaklah cukup. Sebagai seorang pemimpin, juga harus mampu mencintai para angggotanya. Pemimpin tidak hanya harus tegas mendidik para anggotanya, tapi juga harus mampu menyelami emosional para anggotanya. Karena tiap karakteristik para anggota berbeda, maka dibutuhkan keahlian sebagai seorang pemimpin melakukan pendekatan secara emosional. Ini juga mampu membuat suatu organisasi atau suatu kelompok agar sepaham, sepemikiran, dan sehati sehingga mampu mencapai tujuan bersama. Ini penting, ketika salah satu anggota tidak dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik, ikatan emosional ini akan mampu membuat semangat anggotanya untuk bersama-sama menyelesaikan tugas tersebut tanpa meninggalkan atau mengorbankan salah satu anggota.

  1. Asuh (membina)

Seorang pemimpin harus mampu membina. Mampu membuat jalannya suatu organisasi atau suatu kelompok tersebut agar dapat maju. Untuk menjadi maju perlu adanya dukungan dari semua anggotanya. Sebagai seorang pemimpin harus mampu membuat sinergi antara dirinya sendiri, para anggotanya, dan faktor-faktor eksternal yang mendukung majunya suatu organisasi atau suatu kelompok tersebut. Maka dari itu, seorang pemimpin harus mampu membina para anggotanya.

Asah, asih, dan asuh merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Seorang pemimpin tidak bisa hanya memiliki salah satunya. Ketika hanya memiliki salah satunya, tujuan yang ingin dicapai pasti akan sulit. Maka dari itu, sangat penting seorang pemimpin memiliki sifat asah, asih, dan asuh untuk mencapai tujuan bersama suatu organisasi atau suatu kelompok. Menjadi pemimpin itu tidak harus mengedepankan arogansi atau memimpin dengan berkata kasar. Karena sebenarnya memimpin itu adalah mendidik, menasehati, dan menyentuh hati. Dan sebelum dapat mencapai sorang pemimpin yang memiliki sifat asah, asih, dan asuh, ada baiknya seorang pemimpin mampu untuk memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu.

Penulis : Wayan Hana (Sekretaris PD KMHDI DKI Jakarta, 2017-2019)

Komentar Anda