Untuk Menjadi “Intan”, Kader KMHDI harus Siap Berproses dalam Tekanan

Alumni KMHDI, I Made Surya Putra yang juga Dosen Universitas Udayana Bali  mengatakan bahwa agama Hindu mengajarkan dua kewajiban seorang warga Negara. Yakni dharma agama atau kewajiban terhadap agama dan dharma negara atau kewajiban terhadap negara. Dalam melaksanakan kewajiban tersebut, karakter sangat berperan vital.

Menurut Surya Putra, dari 100 persen ilmu yang diterima di dunia pendidikan, secara umum hanya 30 persen yang digunakan dalam dunia kerja. Sementara 70 persen sisanya adalah karakter. Dengan demikian, pembentukan karakter sangatlah penting. Ia mencontohkan sebuah intan yang terbentuk dari zat yang sama terkandung dalam arang. Namun karena mengalami proses yang panjang, maka terbentuk intan yang harganya jauh lebih mahal dari setumpuk arang biasa.

Demikian pula seperti besi yang ditempa menjadi sebuah senjata. “Intinya adalah proses yang penuh tekanan dan panas. Jika generasi muda mampu melewati proses penempaan, maka suatu saat akan menjadi generasi yang mumpuni,” terangnya dalam seminar 24 tahun KMHDI bertemakan KMHDI untuk Regenerasi di Puspem Badung Bali, 3 September 2017.

Lalu, dimana tempaan itu didapat? Selain di dunia pendidikan, yang penting, kata dia adalah pengalaman dan latihan yang didapat dari berorganisasi. Dalam organisasi pun setiap orang harus terus melatih diri dengan konsep lintas vertikal dan lintas horizontal. Lintas vertikal, yang dimaksud adalah mengikuti proses secara bertahap. “Jadi setelah menjadi anggota, ia belajar menjadi pemimpin dan mengurus orang. Misalnya dari 10 orang, kemudian bertahap, hingga suatu saat ia bisa mengurus masyarakat,” jelasnya.

Sementara lintas horizontal, kata dia berhubungan dengan komparasi. Jika seseorang menduduki posisi atau jabatan yang setara dengan orang lain, ia tak malu untuk belajar kelebihan dari orang lain. Dengan demikian, ia mampu menyerap ilmu sebanyak-banyaknya guna membangun dirinya.

Lebih lanjut, ia menyatakan, generasi muda saat ini harus menyiapkan diri untuk ‘perang’ yang sesungguhnya tahun 2045 mendatang. Pasalnya tahun tersebut, Indonesia akan mendapat bonus demografi. Bonus demografi adalah keadaan saat jumlah produksi lebih besar daripada konsumsi. Sementara saat ini produksi lebih kecil daripada konsumsi. Dalam satu keluarga, kebanyakan hanya satu orang yang bekerja untuk menghidupi keluarganya. Misalnya sang ayah bekerja untuk bisa menghidupi istri dan anak-anaknya.

Namun tahun 2045 yang akan datang, generasi Indonesia sedang produktif, sehingga disebut ‘Generasi Emas’. Pasalnya, saat itu ditargetkan semua generasi telah mengenyam pendidikan dan dalam usia yang relatif sedang berada di puncak karir. Jumlah kelahiran dan kematian jauh lebih kecil daripada pemuda yang siap bekerja.

“Hanya ada dua pilihan. Generasi muda bisa mewujudkan mimpi itu dengan bersiap diri mulai sekarang atau hanya akan menghancurkan mimpi tersebut karena tidak siap,” tandas mantan Sekjen KMHDI tersebut.

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai