Pesan Krishna: Jaga Integritas

APAKAH Anda penggemar Mahabharata? Sinetronnya di televisi terus menerus diputar. Habis di stasiun televisi ini, lari ke stasiun televisi itu. Ada saja yang menonton, konon. Mungkin orang Indonesia butuh hiburan saat ini, meski pun menurut Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah (saya belum tahu benar mewakili partai apa saat ini) penetapan tersangka untuk Setya Novanto juga langkah KPK menghibur rakyat.

Saya tak bercerita Mahabharata sebagai hiburan. Namun mohon dipahami, Mahabharata itu banyak sekali versinya. Kalau merujuk ke susastra Hindu, Mahabharata disebut Ithiasa, artinya kisah sejarah untuk sesuluh umat sepanjang masa. Kitab Bhagawad Gita (disebut juga Pancamo Weda) “lahir” di tengah-tengah perang saudara Bharatayudha. Ada dua Ithiasa, selain Mahabharata adalah Ramayana. Yang membedakan, tokoh-tokoh Mahabharata semuanya bermasalah, semua pernah salah dan semua pernah benar, karena itulah harus dijadikan cermin (sesuluh) kehidupan. Sedangkan Ramayana tokohnya hitam putih, Rama simbol kebenaran, Rahwana simbol kejahatan.

Oya, barangkali Anda tahu Mahabharata itu dari wayang. Kalau sudah bercerita soal wayang, ini jadi panjang, karena pesan moral dalam wayang tergantung budaya lokal. Wayang (Jawa mau pun Bali) hanya “meminjam Mahabharata” untuk penyebaran moral, bukan mengikuti pakemnya sebagaimana di dalam Ithiasa. Mana ada Semar berikut anaknya Petruk, Gareng, Bagong atau juga Bethara Guru dan berthara lainnya dalam Mahabharata. Kisah-kisah dalam wayang itu disebut carangan dari Mahabharata, yakni, cerita plesetan namun tak menyimpang jauh dari karakter tokoh. Nah, yang mau saya dongengkan saat ini bisa juga disebut carangan dan saya tuturkan dengan bahasa gaul.

***

KOCAP kacarita di sebuah sore, Sri Krishna mengajak murid loyalnya, Arjuna, ke sebuah ladang untuk berburu. Seekor burung hinggap di sebuah dahan. Bentuk burung itu jelas. Namun, Krishna tetap bertanya:  “Wahai Arjuna, lihatlah burung itu. Apakah itu seekor merpati?” Arjuna menjawab dengan cepat: “Ya Guru Suci, itu seekor merpati.”

Krishna bertanya lagi: “Apakah itu betul merpati? Coba teliti lagi. Saya kok melihatnya bukan, itu seekor elang.” Arjuna langsung menjawab: “Ya, betul Guru,itu seekor elang, bukan merpati. Maaf saya salah.”

Krishna menggelengkan kepalanya. Ia bertanya lagi: “Ah, bukan Arjuna, bukan elang. Saya yang salah lihat, itu seekor gagak.” Arjuna menatap burung itu lagi dan kemudian menjawab, “Lagi-lagi mohon maaf Guru, dari tadi mata saya salah melihatnya. Itu memang gagak, tidak dapat disangsikan lagi, bukan merpati dan bukan elang.”

Kini Krishna tersenyum dan mengajak Arjuna duduk di atas dahan pohon yang tumbang. Krishna minta panah itu dibuang, wong burung yang dipanah saja tak jelas wujudnya. Krishna pun berwacana: “Arjuna, kalau menjadi manusia, makhluk utama yang diciptakan Tuhan di antara makhluk lainnya, pakailah otak. Panca indra kita bersumber dari otak dan jangan mengikuti otaknya orang lain, meski orang lain itu orang yang kau hormati. Kau boleh loyal kepada gurumu, tapi jangan korbankan integritas. Jangan mudah terombang-ambing oleh opini yang dikembangkan orang. Saya tahu kamu loyal harga mati kepada saya, tetapi jangan mencla-mencle. Gurumu menyebut elang, kamu ikutan bilang elang. Gurumu menyebut gagak kamu ikutan bilang gagak. Kau yang akan memimpin Astina Pura ini bersama saudaramu, jagalah integritas. Di situ letak kehormatan seorang manusia.”

Arjuna menunduk. “Tolong katakan pada saya, kenapa kamu mudah terombang-ambing di hadapan saya,” kata Krishna.

***

MARI goro-goro sejenak. Seperti yang saya sebutkan tadi, Mahabharata adalah sesuluh atau cermin kehidupan sepanjang masa. Apa yang nampak pada cermin itu saat ini? Banyak sekali kita dipertontonkan oleh orang-orang atau bahkan pemimpin yang kehilangan integritas atau melorot integritasnya jika menghadapi tokoh yang diloyalinya. Atau apa pun kebijakan pemerintah langsung didukung penuh tanpa perlu lagi ditelisik benar atau salah. Bahkan tak perlu pula diketahui asal usulnya.

Saya baru saja ngobrol dengan anggota DPR dari komisi pertanian yang menggebu-gebu mendukung diblokirnya Telegram. Dia mengulang terus alasan pemerintah bahwa Telegram harus ditutup. Ketika saya tanya apa dia aktif di aplikasi itu, jawabnya: “Saya sih tidak, saya cuma tahu FaceBook, itu pun dibuatkan anak saya. Satu lagi WhatsApp supaya gratis.” Lha, dari mana dia tahu Telegram pantas ditutup kalau dia gagap teknologi? Cuma ikut-ikutan. Saya yakin kalau nanti pemerintah batal menutup Telegram karena pengelola aplikasi itu mau kerjasama, misalnya, dia pasti akan memuji-muji Telegram.

Sahabat baik saya di Twitter – mungkin karena usia sama-sama tua – menuduh saya anti Pancasila dan anti NKRI dengan setengah memaki. Itu karena saya menulis di Koran Tempo bahwa Perpu Ormas tidak elok untuk masa depan bangsa. Hanya membubarkan satu atau dua ormas saja sudah keluarkan Perpu, itu berarti menembak nyamuk dengan meriam. Sebutlah niat Jokowi baik, bagaimana kalau beliau diganti suatu saat, dan Perpu itu dipakai Presiden lain yang “kurang baik”. Menurut saya pakai saja undang-undang yang ada, bahwa itu prosedurnya lama, semuanya tergantung keberanian pemerintah – dalam hal ini kepolisian – mengajukan gugatan ke pengadilan. Heboh ormas yang disebut radikal dan anti Pancasila itu sudah dari dulu, kalau ada keberanian dari dulu, persoalan sudah selesai.

Tak setuju Perpu bukan berarti tak setuju pembubaran ormas radikal yang mengancam kedaulatan bangsa. Loyal kepada pemerintah sudah harga mati buat saya, itu kewajiban menjalankan apa yang disebut “dharma negara” dalam tradisi kependetaan Hindu. Tetapi bukan tak boleh berbeda pendapat, pemerintah bilang gagak ikutan bilang gagak, padahal hanya gelatik.

Integritas itu harus dijaga tanpa mengorbankan loyalitas. Saya salut kepada pakar hukum tata negara Refly Harun. Dia diangkat jadi Komisaris Utama Jasa Marga (saya tak paham hubungan jalan raya dengan ilmu tata negara) tentu dia loyal kepada pemerintah. Tapi dia tak setuju Perpu Ormas dengan berbagai alasan. Juga contoh lain untuk pakar hukum Romli Atmasasmita, beliau seringkali mengkritik pemerintah apalagi KPK. Tapi dalam kasus Perpu Ormas dia malah mendukungnya. Itulah integritas, tidak mudah terombang-ambing seperti Arjuna “menyenangkan atasannya”.

Menjadi pemimpin atau ditokohkan masyarakat, jangan mencla-mencle. Sekarang merpati sebentar lagi elang. Pagi kedelai sorenya sudah tempe, ya, kalau pengusaha tahu tempe. Belum lama Jokowi disebut presiden loyo, presiden lemah sepanjang masa. Kini bilang Jokowi otoriter dan diktator. Dari mana juntrungan orang lemah dan loyo bisa jadi diktator? Logika tak jalan karena terlanjur tak suka. Pernah dengar ucapan ini? “Jokowi itu sekelas lurah.” Ya, saya cuma tertawa. Benar, lurahnya Indonesia yang sangat dihormati pemimpin dunia. Menjadi pembenci pun harusnya punya kejernihan hati sedikit saja, pakailah kata-kata yang sesuai dengan kedewasaan usia, menyindirlah lebih halus.

Oke mari kembali ke ladang tempat Krishna dan Arjuna berada.

***

ARJUNA mengangkat kepalanya dan menatap Krishna dengan penuh hormat. “Guru Suciku, sebagai penengah Pandawa, saya tak pernah kehilangan nalar, tak mungkin mencla-mencle, kami taat aturan. Ditipu di meja judi lalu kalah dan dibuang ke hutan pun, kami para Pandawa tak pernah protes, apalagi dengan aksi demo. Kami introspeksi di hutan. Kami menjaga integritas….”

Krishna memotong: “Tapi kenapa kamu bilang elang begitu saya bilang elang, bilang gagak begitu saya bilang gagak, kok ikut arus begitu.”

Arjuna bersujud: “Guruku, guru saat ini bukan manusia biasa. Guru adalah Awatara. Di depanku adalah Awatara Wisnu, Tuhan itu sendiri. Bagiku kata-kata-Mu adalah kebenaran mutlak. Sebagai pencipta dan pemegang kuasa dunia ini, Engkau dapat berbuat apa saja. Jika Engkau menyebut burung itu seekor gagak, menjadilah burung itu gagak. Engkau pencipta semua yang ada di bumi ini, dan aku tak boleh ragu dengan kebenaran Sang Pencipta.”

***

TANCEP kayon gunungan, itu kalau cerita wayang. Tapi saya perlu menjelaskan sedikit, dalam ajaran Hindu dikenal ada awatara, yaitu utusan Tuhan ke dunia ketika terjadi masalah maha besar yang tak bisa diselesaikan manusia. Ada 10 awatara dan Krishna adalah awatara ke delapan. Awatara ke 10 belum turun, entah kapan, diberi nama Awatara Kalki. (Ada banyak opini yang menyebutkan Nabi Muhamad itu adalah Awatara Kalki karena ciri-cirinya sama. Ini perdebatan tak berujung, mungkin lain kali saya ikut nimbrung menulis di sini).

Krishna sebagai Tuhan diyakini sangat fanatik oleh aliran Hare Krishna. Buku-bukunya banyak terbit. Namun sebagian besar umat Hindu tetap mengacu Kitab Weda, Tuhan dengan sebutan Brahman. Tentu dengan berbagai nama yang bisa diberikan sesuai budaya lokal untuk keagunganNya. Di Bali, misalnya, Hyang Widhi. Di Suku Dayak Kalimantan disebut Ranying Hatalla Langit. Banyak lagi contoh lain.

Arjuna tak mungkin membantah Krishna sebagai (Awatara) Tuhan. Inti ajaran ini, sepandai-pandai orang, seluas apa pun pengetahuan orang, betapa pun orang menjaga integritas dirinya, jangan sekali membantah kebenaran Tuhan sebagai kebenaran yang mutlak. Saya sering mendengar jika ada lantunan ayat suci Quran di berbagai acara, dalam penutup terjemahannya ada kalimat, maaf kalau salah, “Maha benar Allah dengan segala firmannya”. Dalam ajaran Hindu pun itu mutlak, jangan membantah ayat suci sebagai wahyu Tuhan. Jika mau didiskusikan, perdebatkan tafsirnya karena di sana sering terjadi perbedaan. Salam | https://indonesiana.tempo.co/

Penulis : Mpu Jaya Prema

 *) Pendeta Hindu, dahulu wartawan bernama Putu Setia

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai