KMHDI Kalteng Deklarasi hari lahirnya Pancasila

Deklarasi Pemuda Hindu dalam memperingati hari lahirnya pancasila yang tepatnya 1 juni berusia 72 Tahun. Tuntan berbagai elemen untuk menjadikan hari lahirnya Pancasila sebagai hari libur nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden No 24/2016. Pemuda Hindu yang tergabung dari KMHDI Kalteng, Peradah Indonesia, PPMP-AHK, Puskor, Bem STAHN TP Palangka Raya, PMH UPR, BEM STAHN-TP Palangka Raya, Menwa 604 STAHN TP melakukan deklarasi di Balai Ibadah Tambun Bungai, Palangka Raya  yang disponsori oleh PHDI Propinsi Kalteng dan MB-AHK Pusat Palangka Raya. Kegiatan dimulai setelah umat Hindu selesai melakukan ibadah di balai tambun bungai kisaran pukul 20.30 Wib. Agenda kegiatan dimulai dengan laporan koordinator lapangan dilanjutkan testimoni Pancasila, pembacaan teks Pancasila, Deklarasi Kebangsaan, dan menyanyikan lagu kebangsaan Garuda Pancasila.

LAHIRNYA Pancasila adalah judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia: “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan”) pada tanggal 1 Juni 1945. Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal “Pancasila” pertama kali dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan “Lahirnya Pancasila” oleh mantan Ketua BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPK tersebut. Menjelang kekalahan Tentara Kekaisaran Jepang di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang di Indonesia berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia: “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan” atau BPUPK, yang kemudian menjadi BPUPKI, dengan tambahan “Indonesia”).

Badan ini mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei (yang nantinya selesai tanggal 1 Juni 1945). Rapat dibuka pada tanggal 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan harinya 29 Mei 1945 dengan tema dasar negara. Rapat pertama ini diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Pada zaman Belanda, gedung tersebut merupakan gedung Volksraad (bahasa Indonesia: “Perwakilan Rakyat”). Setelah beberapa hari tidak mendapat titik terang, pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia merdeka, yang dinamakannya “Pancasila”. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Junbi Cosakai.

Selanjutnya Dokuritsu Junbi Cosakai membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso,Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin) yang ditugaskan untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI. Dalam kata pengantar atas dibukukannya pidato tersebut, yang untuk pertama kali terbit pada tahun 1947, mantan Ketua BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat menyebut pidato Ir. Soekarno itu berisi “Lahirnya Pancasila”.

Pelaksanaan deklarasi Hari Lahirnya Pancasila oleh KMHDI Kalteng sebagai Implementasi terhadap jati diri KMHDI “Nasionalisme”. “ini pertama kalinya pemuda hindu melakukan aksi-aksi nasionalisme, kami selalu mendukung semua kegiatan yang bersifat positif, mari kita jaga nilai-nilai pancasila dengan tidak menodai pancasila di bumi tambun bungai, bumi pancasila” kata Perada perwakilan dari Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan. Kegiatan ini juga sebagai alat pemersatu pemuda Hindu agar selalu menanamkan kepedulian terhadap Nusa dan Bangsa. Pemuda sebagai penggerak sangat di butuhkan dalam menjaga nilai-nilai pancasila. Momentum ini juga sebagai salah satu mempererat jalinan kebersamaan antar Organisasi Hindu.

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai