Yadnya Peyangga Tegaknya Kehidupan

Kehidupan beragama di Bali tidak akan pernah lepas dari yang namanya upacara, banten, tradisi, budaya, dan sebagainya, seolah olah tidak ada sekat pemisah antara agama dan kebudayaan. Memang benar bahwa agama yang diterapkan di Bali memiliki penampakan yang sangat berbeda dengan agama Hindu yang ada di India, namun memiliki esensi dan tujuan yang sama.

Agama Hindu adalah agama yang mengayomi budaya lokal dimana segala jenis kegiatan upacara keagamaan disesuaikan dengan keadaan daerah setempat. Sebuah kearifan lokal yang bemama desa, kala, patra yang bermakna tempat, waktu (lampau, kini, dan nanti), serta teks otoritas atau kitab suci (bisa juga disebut keadaan) yang selayaknya dijadikan pedoman dalam melakukan sesuatu hal, agar dapat tercapai dengan baik. Sastra kitab suci haruslah menjadi tuntunan hidup bagi umat Hindu dalam melaksanakan Acara agama, yaitu upakara dan upacara agama agar senantiasa bermanfaat maksimal.

Ajaran agama Hindu terbingkai dalam tiga kerangka dasar, yaitu Tattwa, Susila, dan Upacara. Dalam Konsep pencarian kebenaran yang hakiki di dalam Hindu diuraikan dalam ajaran filsafat yang disebut Tattwa. Tattwa adalah keyakinan umat Hindu pada Panca Sradha, adanya Brahman (Tuhan Yang Maha Esa), pada Atman (yang menjiwai semua makhluk), Karma pala (hasil dari perbuatan), Punarbhawa (kelahiran kembali) dan Moksa (kebebasan abadi atau suka tan pawali duka). Dalam hal ini Tattwa bersifat abstrak.

Tattwa dalam agama Hindu dapat diserap sepenuhnya oleh pikiran manusia melalui beberapa cara dan pendekatan yang disebut Pramana. Ada tiga cara penyerapan pokok yang disebut Tri Pramana. Tri Pramana ini, menyebabkan akal budi dan pengertian manusia dapat menerima kebenaran hakiki dalam Tattwa, sehingga berkembang menjadi keyakinan dan kepercayaan. Berbekal Panca Sradha yang diserap menggunakan Tri Pramana ini, perjalanan hidup seorang Hindu menuju ke satu tujuan yang pasti. Ke arah kesempurnaan lahir dan batin yaitu Jagadhita dan Moksa.

Kata Susila terdiri dari dua suku kata: “Su” dan “Sila“. “Su” berarti baik, indah, harmonis. “Sila” berarti perilaku, tatalaku. Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan lingkungannya, dengan sesame manusia maupun dengan alam sekitar atau lingkungan. Dalam hal ini bersifat sekala-niskala atau lahir batin.

Upacara (ritual) adalah suatu karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas karena getaran jiwa dalam kehidupan ini berdasarkan dharma, sesuai ajaran sastra suci Hindu yang ada (Weda). Yadnya dapat pula diartikan memuja, menghormati, berkorban, mengabdi, berbuat baik (kebajikan), pemberian, dan penyerahan dengan penuh kerelaan (tulus ikhlas) berupa apa yang dimiliki demi kesejahteraan serta kesempurnaan hidup bersama dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi Wasa. Di dalamnya terkandung nilai-nilai: rasa tulus ikhlas dan kesucian, rasa bakti dan memuja (menghormati) Sang Hyang Widhi Wasa, dewa, bhatara, leluhur, negara, bangsa, dan kemanusiaan. Di dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing menurut tempat (desa), waktu (kala), dan keadaan (patra).

Dengan penyesuaian desa, kala, patra tersebut, mengakibatkan beraneka ragamnya bentuk dari yadnya umat Hindu di Bali, namun intinya adalah tetap sebagai wujud persembahan yang tulus ikhlas. Dalam Kitab suci Bhagavad Gita.III.10, memberikan petunjuk kepada kita bahwa: Saha yajnah prajah srstva, Puro vaca prajapatih, Anena prasavisyadhvam, Esa vo stv ista kamadhuk. Artinya: Pada zaman dahulu kala prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan bersabda: dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu. Demikianlah suatu yadnya menjadi penyangga dari tegaknya kehidupan ini.

Tuhan telah menciptakan manusia dengan yadnya. Dengan yadnya pula manusia mengembangkan dan memelihara kehidupan ini. Namun dalam prakteknya, umat Hindu sering melupakan Tattwa dan Susila dalam melakukan ritual, walaupun agama Hindu selalu menerima pembaharuan secara selektif sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai dalam Weda.

Oleh: I Wayan Sapta Wigunadika
Source: Majalah Raditya, Edisi 235, Februari 2017

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai