“Punarjanma” Membentuk Insan Menjadi Manusia

Yonim anye prapadyante sariratvaya dehinah sthanumanye’nusamyanti yatha-karma yathasrutam
(Katha Upanisad 2.2.7)

Dewa Kebenaran bersabda: “Sesuai dengan perbuatan dan pengetahuan masing-masing, tiada terhitung jumlah atma (roh) yang memasuki kandungan demi mendapatkan badan yang baru, dan tidak terhitung pula jumlah yang masuk ke dalam tumbuh-tumbuhan, dan lain-lain sejenisnya.”

Punarjanma masih tetap menjadi sesuatu yang aneh bagi banyak orang. Jika umat Hindu atau para penganut ajaran Veda yang “terperangkap” dalam keraguan tersebut, tentu saja segera harus mengakui diri sedang berada dalam kegelapan avidya alias dirinya masih terjauhkan dari sentuhan-sentuhan ajaran suci Veda. Kegelapan hanya dapat dijauhkan bukan dengan mengusir kegelapan, melainkan dengan menyalakan lampu penerang. Kegelapan avidya tidak dapat diusir melainkan orang dapat menyalakan “vidya jyoti” atau “jhana jyoti“, (lampu penerang) berupa ilmu pengetahuan suci. Pengetahuan-pengetahuan mencerahkan diperlukan demi menipisnya kegelapan, yang akhirnya perlahan akan menjadi lenyap sirna sama sekali.

Salah satu Upanisad penting dari 108 kitab Upanisad adalah Katha Upanisad. Pada bagian awal dari Katha Upanisad, kita dapat melihat keberadaan Punarjanma. Penyampaian langsung atau tidak langsung terhadap Punarjanma atau Punarbhava terdapat dalam hampir semua kitab suci Veda beserta cabang dan ranting-rantingnya. Dalam Katha Upanisad bagian “Naciketa Upakhyana” disebutkan bahwa Brahmana Vajasravasa mengadakan upacara suci sangat khusus yang pada akhir upacara sang Yajamana (yang mengadakan upacara), dalam hal ini Brahmana Vajasravasa, harus memberikan hadiah “Daksina” kepada para pendeta yang melaksanakan upacara tersebut.

Persembahan Daksina khusus yang harus dihaturkan kepada para pendeta Rtvik adalah segala apa yang paling disayang oleh orang yang menyelenggarakan upacara tersebut. Akan tetapi, Brahmana Vajasravasa justru mempersembahkan sapi-sapi yang sudah kurus kering sebagai Daksina kepada para pendeta.

Brahmana Vajasravasa mempunyai putra bernama Naciketa. Putra ini sangat terpelajar dalam ajaran suci Veda dan sudah mencapai tingkat spiritual tinggi. Melihat ayahnya, Brahmana Vajasravasa, menghaturkan sapi-sapi yang kurus kering kepada para Rtvik, Naciketa merasa kasihan pada ayahnya dan berkata “Mereka yang menyumbangkan sapi-sapi yang sudah tidak mampu minum air (pitodaka), tidak mampu makan rumput (jagdhatrna), yang sudah sudah tidak mampu memberikan susu lagi (dugdhadoha), yang sudah tidak mampu memberikan anak sapi (nirindriyah), – orang yang menyumbangkan sapi seperti itu setelah meninggal pergi ke alam-alam yang sepi oleh kebahagiaan (ananda loka).

Mendengar putranya mengutip ajaran kitab suci Veda seperti itu, ayahnya menjadi sangat murka. Akan tetapi, Brahmana Vajasravasa diam tidak berkata sepatah kata apa pun, sambil berjalan meninggalkan putranya di belakang. Sang putra mengikuti bapaknya dari belakang sambil berkata, “Ayah…, aku ini ayah akan berikan kepada siapa?!” Maksud putranya adalah mengingatkan Sang Brahmana (ayah) bahwa pada Yajna suci tersebut yang harus dikurbankan adalah harta milik yang paling disayangi demi kesempurnaan hasil upacara Yajna sesuai dengan “samkalpa” (tekad suci) melaksanakan Yajna tersebut.

Brahmana (ayah) sangat menyayangi Naciketa. Demi mengingatkan ayahnya, Naciketa terus membuntuti ayahnya sambil bertanya, “Ayah…, aku ini akan diberikan kepada siapa?!” Brahmana Vajasravasa habis kesabarannya. Tanpa sadar, dari bibirnya keluar kata-kata “Sapa” (kutukan), “Aku berikan kamu kepada Dewa Kematian…!!!” Akibat kata-kata “sakti” sang ayah, maka Naciketa sampai pada alam Dewa Kematian, Dewa Yama. Akhirnya terjadilah percakapan antara Dewa Yama dengan Naciketa.

Dalam percakapan tersebut, terselip percakapan spiritual yang merupakan cikal bakal “penjelasan” perihal ajaran Punarbhava (reinkarnasi). Terdapat alam-alam lain yang dituju setelah orang meninggal. Sesuai dengan reaksi atau pahala dari perbuatan yang dilakukan dalam hidupnya, orang akan mengalami pahala-pahala karma baik (di Surga) dan karma buruk (di Neraka). Selesai menerima reaksi karmanya, maka semua terlahirkan kembali ke dunia ini.

Dewa Yama menghadiahkan 3 permintaan kepada Naciketa. Pada permohonan no.3, Naciketa menyampaikan permohonan agar diberikan ajaran rahasia reinkarnasi (varanam esa varas-tritiyah). Selanjutnya Dewa Yama mengajarkan pada Naciketa bahwa tidak terhitung jumlah makhluk hidup yang terperangkap dalam putaran badan demi badan, mengalami pergantian demi pergantian badan, dari badan Dewa, manusia, binatang, burung, tumbuhan, dan lain-lain (Ka.Up 2.2.7): perputaran lahir-mati, lahir-mati, semua ini sangat jelas terjadi di hadapan kita, bahkan sering ditunjukkan rahasia kebenaran di hadapan mata kepala kita, bagaimana orang-orang mengalami kelahiran dan kematian dan bahkan banyak binatang serta burung pun sering memberikan “bukti kebenaran” ajaran reinkarnasi. Banyak kejadian binatang-binatang seperti gajah, anjing, ular, monyet, burung dan lain-lain yang bersujud di depan kuil tempat sembahyang. Sesungguhnya, reinkarnasi ini bukan ajaran melainkan kejadian nyata.

Setelah mendapatkan badan-badan berbeda maka makhluk hidup mengalami putaran perkembangan badan yang ditempatinya; dari badan kanak-kanak, sampai ke badan muda (selain dalam badan-badan manusia, ada yang menjadi muda-mudi monyet, muda-mudi harimau, dan lain-lain), lalu dari badan yang muda serta gagah, cantik, merosot menjadi badan yang tua serta akhirnya mati (dehino’smin yatha dehe kaumara? yauvana? jara). Krsna menyampaikan – kepada Arjuna bahwa putaran reinkarnasi terjadi ribuan-ribuan kali (bahuni me vyatitani janmani tava ca Arjuna). Ada banyak yang bisa mengingat, tetapi hampir sebagian besar tidak bisa mengingat kelahiran dan kematian yang dialaminya.

Terhadap perputaran punarbhava ini, Maharesi Manu menyebutkan alam-alam dan badan-badan Surgawi dalam tingkatan Satva-guna (sifat kebaikan) dapat dicapai oleh orang-orang berhati suci mulia. Mereka yang dalam tingkat Rajasa-guna mendapat badan-badan manusia di bumi ini, dan mereka yang berada dalam tingkatan Tamasa-guna (kegelapan) terlahir dalam wujud binatang (devatvam sat-vika yanti manusyatvam ca ra-jasah, tiryaktvam tamasa nityam ityesa trividha gatih).

Maharesi Canakya menjelaskan bahwa disebabkan karma-karma berbeda maka ada lima hal yang berbeda untuk setiap makhluk hidup yang sudah ditentukan semasih yang bersangkutan berada dalam kandungan ibu, yaitu umur, pekerjaan, kekayaan, pengetahuan, dan kematian (ayuh karmam ca vit-tam ca vidya nidhanam eva ca, pancaitani hi srjyante garbhast-hasyeva dehinah).

Pernyataan Canakya Niti Sastra ini didukung dan dipertegas pula oleh Maharesi Patanjali bahwa pahala dari setiap karma itu menentukan pencapaian jenis kelahiran (jati), usia hidup (ayuh), dan jenis penikmatan suka-duka (bhogah).

Sarasamuccaya mengajarkan agar orang bersyukur dilahirkan sebagai manusia walau penuh penderitaan karena amat sangat sulit mendapatkan kelahiran sebagai manusia, bahkan untuk menjadi manusia paling hina sekali pun (apayapan parama durlabha iking si janma manusa ngaranya, yadyapi candalayoni tuwi). Selanjutnya dikatakan bahwa kelahiran menjadi manusia sangat utama karena mendapat kesempatan untuk membebaskan dirinya dari lingkaran kelahiran dan kematian, melalui pelaksanaan perbuatan-perbuatan di jalan Dharma (makasad-hanang subha-karma).

Akhirnya, di balik kejadian Punarbhava ini tersimpan rahasia semangat peningkatan hidup menuju yang lebih baik dalam segala hal melalui jalan Dharma, serta tidak menyakiti orang dan/ atau makhluk lain, sebab, reaksi-reaksi perbuatan menunggu setiap orang dengan sangat jujur serta tidak ada kekuatan yang mampu menghapus karma-karma tersebut kecuah karunia khusus dari Guru Sejati, Tuhan Yang Maha Esa (svayain atma karoty atma svayam tat-phalam asnute).

Dahulu, dimana-mana orang Bali dengan mudah diterima bekerja tanpa “pertimbangan” ijasah, melainkan hanya berbekal ajaran-ajaran indah seperti ini, yaitu percaya pada hukum karma (karma phala), jujur serta tidak menyakiti yang lain.

Oleh: Darmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggu Umanis, 23 Maret 2017

Komentar Anda