Perjalanan Suci KMHDI Jawa Barat ke Pura Agung Jati Pramana Cirebon

Pada hari Sabtu kemarin, Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Jawa Barat mengadakan kegiatan Tirta Yatra ke Pura Agung Jati Pramana Cirebon. Kegiatan Tirta Yatra ini diselenggarakan dengan tujuan mengimplementasikan materi DMO (Diklat Manajemen Organisasi) yang telah diberikan oleh KMHDI Jawa Barat kepada anggota-anggota barunya. Selain itu, kegiatan Tirta Yatra ini juga bertujuan untuk meningkatkan sradha bhakti peserta Tirta Yatra, memperkenalkan KMHDI Jawa Barat kepada masyarakat Hindu di Cirebon, mengenal budaya dan kondisi masyarakat Hindu di Cirebon, dan mengenal Pura Agung Jati Pramana Cirebon lebih dekat. Peserta kegiatan Tirta Yatra ini terdiri dari anggota KMHDI Jawa Barat dan beberapa teman dari anggota KMHDI Jawa Barat yang berkeinginan untuk mengikuti perjalanan suci bersama KMHDI Jawa Barat ke Cirebon. Pada kesempatan ini pula, Tirta Yatra ini diselingi dengan kegiatan  ramah tamah dengan pengurus pura, pemuda-pemudi Hindu Cirebon, dan masyarakat Hindu di Cirebon serta kegiatan ngayah di Pura Agung Jati Pramana dengan melakukan kegiatan bersih-bersih di daerah pura dan sekitarnya, setelah persembahyangan selesai dilaksanakan.

Perjalanan ini diawali dengan berkumpul bersama sesuai dengan waktu yang ditentukan yaitu 05.00 pagi. Namun, jam karet Indonesia memang sudah menjadi kebiasaan yang belum berubah di kalangan mahasiswa. Baru satu, dua, hingga tiga orang yang hadir tepat pada jam 05.00. Menunggu tentulah sesuatu yang membutuhkan waktu. Pada beberapa orang, pandangan dengan kata ‘menunggu’ adalah membuang-buang waktu. Jam tangan sudah menunjukkan pukul 06.00, tetapi belum semua peserta tirta yatra hadir. Panitia Tirta Yatra KMHDI Jabar mulai khawatir dan menghubungi peserta yang konfirmasi untuk ikut secara personal. Ada beberapa peserta yang ‘PHP’, yang akhirnya membatalkan keikutsertaan dirinya dalam kegiatan ini. Untung saja panitia bukanlah manusia ‘baper’ sehingga menerima kewajaran peserta yang konfirmasi namun tidak hadir meskipun itu dalam batas yang tidak wajar. Uang keberangkatan Tirta Yatra KMHDI Jabar pada setiap peserta pun ditagih dengan baik-baik oleh panitia. Pukul sudah menunjukkan 07.00, dan bus Wakatrans yang akan menemani peserta Tirta Yatra KMHDI Jabar ke Cirebon pun berangkat.

Perjalanan panjang disusuri peserta Tirta Yatra KMHDI Jabar menuju Pura Agung Jati Pramana di Cirebon. Cemilan kecil telah dinanti-nanti peserta pun mulai dibagikan. Rundown acara mulai disebar, dalam hal ini kegiatan tidaklah mulai ngaret karena panitia sudah paham akan kebiasaan jam karet Indonesia. Pada rundown, keberangkatan memang dilakukan pukul 07.00. Cemilan yang disediakan panitia tentu tidak mencukupi kadar cemilan yang biasa dimakan oleh peserta. Ada beberapa peserta yang berinisiatif untuk membawa makanan sendiri dan membagikannya pada peserta lainnya. Sungguh rasa saling berbagi yang tumbuh di antara peserta Tirta Yatra KMHDI Jabar. Perjalanan keberangkatan memang awalnya sunyi, namun salah satu anggota KMHDI Jabar, Raditya mulai membuat kegaduhan kecil yang membuat suasana semakin seru dan tidak membosankan. Lagu-lagu kecil mulai dimainkan dengan gitar bersama Adit yang juga merupakan anggota KMHDI Jabar. Sebagian besar peserta memilih untuk bermain dengan gadget-nya, tidur, atau hanya diam menikmati perjalanan. Semua terlihat menenangkan, tetapi hal yang sesungguhnya ingin dirasakan dalam perjalanan ini adalah kekeluargaan dan mulai untuk saling mengenal antar peserta Tirta Yatra KMHDI Jabar.

Setelah melewati perjalanan Tol yang cukup panjang dan lama, tiba saatnya bus Wakatrans ini membelokkan dirinya menyusuri jalan kecil yang menunjukkan rombongan semakin dekat dengan Pura Agung Jati Pramana ini. Sampailah rombongan Tirta Yatra KMHDI Jabar di Pura Agung Jati Pramana yang terletak di Cirebon. Udara panas yang tak biasa bagi peserta rombongan yang mayoritas tinggal di Bandung ini tidak menyurutkan semangat dan sradha bhakti untuk sembahyang di pura ini. Peserta rombongan satu per satu turun dari bus dengan membawa tasnya menuju pura. Warga Hindu Cirebon menyambut rombongan Tirta Yatra KMHDI Jabar dengan suka cita. Ketua PHDI Cirebon, Pengurus Pura Agung Jati Pramana, Pinandita, dan sesepuh Pura Agung Jati Pramana pun sudah berada di tempat dalam keadaan siap untuk menyambut kehadiran rombongan Tirta Yatra KMHDI Jabar.

Peserta Tirta Yatra KMHDI Jabar mulai mengganti pakaian menjadi pakaian adat ke pura. Ruang ganti pakaian wanita dijaga oleh seekor anjing yang mirip serigala. Anjing yang kalem dan tampan membuat beberapa peserta perempuan rombongan terpesona dan ada beberapa orang lainnya yang takut anjing. Meluangkan 20 menit sejenak untuk berganti pakaian, akhirnya seluruh peserta Tirta Yatra KMHDI Jabar siap untuk melakukan persembahyangan di Pura Agung Jati Pramana ini. Peserta pun mulai memasuki daerah utama pura dan duduk dengan rapi. Kemegahan dan energi Pura Agung Jati Pramana ini memang sungguh luar biasa. Meskipun pura ini masih dalam tahap pembangunan, pura ini cukup nyaman dan bersih sebagai tempat bersinggah para umat menuju Ida Hyang Parama Kawi. Pura ini memiliki meru yang atapnya bersusun yang dikhususkan untuk memuja Prabhu Siliwangi. Meru ini juga merupakan penghubung seluruh susunan yang ada di seluruh penjuru. Melalui adanya meru ini, Pura Agung Jati Pramana dapat menghubungkan umat dengan kawitannya dimana pun berada karena seluruh susunan telah terhubung dengan Pura Agung Jati Pramana melalui Meru ini. Maka dari itu, pada persembahyangan di pura ini, dilakukan panca sembah sebanyak 6 kali karena sembahyang ke-3 dihaturkan pada susunan yang melinggih baik kepada Prabhu Siliwangi yang melinggih di Cirebon maupun susunan dari kawitan umat yang bersembahyang di pura ini.

KMHDI Jawa Barat Tirta Yatra di Pura Agung Jati Pramana Cirebon, Sabtu – 27 Mei 2017

Setelah persembahyangan selesai, peserta Tirta Yatra KMHDI Jabar menerima tirta amerta dari pinandita dan dilanjutkan dengan sesi makan siang. Pada sesi ini, peserta dan warga Hindu Cirebon makan bersama di daerah madya pura. Setelah makan siang bersama dilakukan, kegiatan selanjutnya adalah Silakrama bersama Pengurus pura, Pinandita, Ketua PHDI Cirebon, sesepuh pura, dan beberapa warga Hindu Cirebon. Silakrama dipimpin oleh seorang moderator cantik bernama Lara yang merupakan salah satu anggota KMHDI Jabar. Silakrama diawali dengan sambutan ketua panitia kegiatan Tirta Yatra KMHDI Jabar, ketua KMHDI Jabar, ketua PHDI Cirebon, dan pengurus Pura Agung Jati Pramana. Lalu silakrama ini dimulai dengan pemaparan dari pengurus Pura Agung Jati Pramana mengenai bagaimana pura ini dibangun dan kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan oleh umat Hindu Cirebon. Pemaparan selanjutnya dilakukan oleh sesepuh Pura Agung Jati Pramana. Pada kesempatan ini, Pak Dewa, sesepuh Pura Agung Jati Praman mengingatkan peserta Tirta Yatra KMHDI Jabar yang merupakan mahasiswa (kalangan intelektual) hendaknya tetap bisa menjaga nilai-nilai luhur keagamaan yang sifatnya lebih fleksibel lagi mengikuti tuntutan arus globalisasi dan pluralisme. Sebagai kalangan intelektual hendaknya tidak pernah berhenti untuk belajar Agama Hindu melalui buku dan sastra apalagi dengan adanya browsing Google yang sudah canggih seperti sekarang. Pak Dewa juga menyinggung bahwa budaya dan agama Hindu di Bali memang sangat kental dan sulit dibedakan. Hal itulah yang menyebabkan Bali sangatlah langka dan berbeda. Hendaklah kita paham akan mana yang merupakan ajaran Agama dan mana yang merupakan sebuah budaya. Pada kesempatan ini pula, Pak Dewa menghimbau kepada peserta Tirta Yatra KMHDI Jabar untuk selalu meningkatkan rasa toleransi antar umat beragama. Bila umat lain sedang mengadakan persembahyangan misal teman yang beragama Islam sedang sholat, maka hendaklah kita sebagai Hindu juga tidak melupakan tri sandya. Jangan sampai umat lain melihat kita sebagai Hindu seolah tidak pernah melakukan sembahyang. Selain itu, Pak Dewa juga menitikberatkan unsur kesucian bukanlah berdasarkan dari apa yang dilihat bersih, apa yang dilihat putih, tetapi dari niatnya. Agama Hindu sangat luar biasa dalam melakukan penyucian diri dan penyucian setiap sarana persembahyangannya. Padahal kita ketahui, janur yang biasa dibeli pasar, atau bunga untuk persembahyangan tentu dalam proses pengantarannya menuju pasar sempat diinjak atau mengalami ke-leteh-an, namun hal itu tidak menghambat kita sebagai Hindu untuk tetap bersembahyang dan menggunakan sarana tersebut karena setiap penggunaan sarana dilakukan penyucian melalui mantram. Mantram inilah yang energinya sangat luar biasa yang timbul dari getaran hati dan pikiran yang niat hanya untuk sang Brahman. Agama Hindu yang tidak memaksakan umatnya dan sangat fleksibel mengikuti jamannya inilah yang seharusnya membuat diri kita semakin bangga menjadi umat Hindu. Ajaran Hindu sangatlah universal, sehingga janganlah terkejut bila banyak orang yang ingin mempelajarinya dari berbagai penjuru di dunia. Berbanggalah menjadi umat Hindu dan tunjukkan bahwa umat Hindu juga memiliki kemampuan yang sama bahkan lebih dari yang lainnya, jangan takut menunjukkan eksistensi Hindu di Indonesia, tetap tekun dalam belajar dan berprestasi. Begitulah paparan yang disampaikan oleh sesepuh Pura Agung Jati Pramana kepada peserta Tirta Yatra KMHDI Jabar. Setelah sesi simakrama selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan bersih-bersih lingkungan pura dan sekitarnya. Pada kegiatan bersih-bersih ini, terlihat seluruh peserta turun tangan dengan penuh cinta kasih membersihkan Pura Agung Jati Pramana ini. Kegiatan bersih-bersih ini merupakan wujud keharmonisan kita sebagai manusia dengan alam semesta ini. Setelah melihat Pura Agung Jati Praman dan sekitarnya sudah bersih dan indah, ditutup dengan sesi foto bersama.

Foto bersama adalah kegiatan yang penting dalam berorganisasi dan belajar. Hal ini disebabkan mendokumentasikan suatu kegiatan sangat bermanfaat bagi siapapun yang bisa diinspirasi dengan adanya kegiatan tersebut. Melalui posting-an di media sosial, diharapkan organisasi mahasiswa Hindu lainnya yang ada di Indonesia dapat terinspirasi dan memetik kegiatan Tirta Yatra yang dilakukan oleh KMHDI Jawa Barat ini. Tak hanya menginspirasi, dokumentasi merupakan sarana untuk berbagi ilmu dan teladan bagi manusia lainnya yang mungkin belum bisa ikut serta menjadi bagian dari kegiatan ini. Harapan manfaat kegiatan ini tentu diharapkan dipetik paling banyak oleh orang-orang yang ikut mengambil bagian dari kegiatan ini seperti panitia dan peserta Tirta Yatra KMHDI Jabar ini. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi anda yang telah membacanya. Sekian dan terima kasih.

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai