Ketut Tomy Suhari, Kader KMHDI yang Ciptakan Kapal tanpa Awak dan Mampu Saingi Eropa

I Ketut Tomy Suhari atau yang akrabnya dipanggil Tomy merupakan lulusan Sarjana Geodesi di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Dia diwisuda pada 11 Maret 2017 kemarin, dengan predikat wisudawan terbaik. Namun bukan prestasi akademi IPK yang membuat dia mendapat predikat wisudawan terbaik, tapi karena penemuannya sehingga dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dalam bidang nonakademik.

Tomy juga aktif diorganisasi kemahasiswaan khususnya Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia, dia pernah menjabat sebagai Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) di PC KMHDI Malang periode 2014-2016.

Semasa kuliahnya, Ia menciptakan kapal mini tanpa awak yang dapat mengukur posisi, suhu, dan kedalaman suatu perairan yang dangkal. Tak main-main ciptaannya itu mendapatkan sejumlah tawaran dari dalam negeri maupun luar negeri, salah satunya Malaysia.

Kapal buatannya diberi nama Shumoo atau singkatan dari Small Hydrography Marine Boundary Boat. Menariknya, kapal berbahan baku fiberglass dengan panjang 130cm, lebar 35 cm dan bobot 15kg, ini dilengkapi dengan teknologi global positioning system (GPS), thermometer, dan echosounder.

Mahasiswa Hindu perantau asal Singaraja ini dikenal sangat gigih, dan punya ambisi yang besar untuk menciptakan sesuatu yang berguna.

“Sejak semester satu, saya berkeinginan saat lulus nanti harus menghasilkan suatu produk. Karena saya kuliah dijurusan Geodesi, maka saya berpikir untuk membuat inovasi dibidang kapal,” kata Tomy.

Berkat penemuannya itu, Tomy mendapatkan predikat sebagai salah satu wisudawan terbaik meski indeks prestasi kumulatif (IPK)-nya hanya 3,5. Akan tetapi, Tomy meraih prestasi dibidang nonakademik. Bahkan, pemilik Geo Envy, sebuah perusahaan dari Malaysia hadir di ITN secara langsung saat wisudanya untuk menjajaki pemasaran produk yang dibuat Tomy.

Apa yang membuat kapal tersebut menarik? Kapal mini tanpa awak yang awal pembuatannya mendapatkan bantuan dana dari Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) ini mampu melakukan pemetaan dasar pada sungai, danau, bendungan, dan pertambangan.

“Kemampuan deteksi kedalaman bisa ditambah dengan cara mengunggahnya melalui wifi” jelas Tomy.

Berkolaborasi dengan beberapa mahasiswa teknik mesin, teknik elektro, dan teknik informatika, Tomy merancang kapal yang dioperasionalkan mengunakan remote control ini. Mengenai data posisi kapal, kedalaman, dan status baterai pun bisa langsung dikirim melalui gelombang wifi ke laptop.

Shumoo mampu mengukur kedalaman 0,5-100 meter dengan radius 500 meter. Kapal ini sangat kompetitif dipasaran dengan harga berkisar Rp. 70 juta- Rp 80 juta.

“Saya yakin mampu bersaing karena di Eropa harga kapal semacam ini mencapai Rp. 1,5 Miliar, sedangkan di Indonesia hanya di produksi di Bandung dengan harga sekitar Rp. 650 juta,” pungkasnya.

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai