Hari Kebangkitan Nasional, Perekat Kebhinekaan Bangsa

 

Kajian Pimpinan Pusat KMHDI 2016-2018, dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei 2017)

Merdeka…….!

            Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) adalah Massa di mana bangkitnya semangat persatuan kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Kesadaran yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang. Harkitnas dikaitkan dengan lahirnya organisasi sosial yakni Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.  Munculnya organisasi ini didorong karena kondisi yang carut marut akibat  politik etis.  Oleh karenanya  kaum intelektual muda mulai memikirkan nasibnya dan memperjuangkan haknya untuk merdeka dari kolonialisme. Wahidin Sudirohusodo dan Dr. Soetomo pada awalnya bukan mendirikan organisasi politik, tetapi lebih kepada organisasi yang bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Namun seiring waktu Boedi Oetomo kemudian menjadi cikal bakal gerakan yang bertujuan untuk kemerdekaan Indonesia.

Indonesia adalah sebuah Negara kepulauan memiliki belasan ribu pulau yang tersebar dari ujung paling Barat Sabang hingga ujung paling Timur Marauke Papua. Memiliki berbagai macam suku, adat istiadat, bahasa, dan agama menjadi kekayaan yang  unik bagi bangsa Indonesia. Kemajemukan/keberagaman bangsa harus selalu dirawat oleh segenap masyarakat Indonesia. Tetapi keberagaman ini bisa menjadi cambuk ini yang dapat memecah belah bangsa bila Ideologi Pancasila tidak lagi dijadikan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Adanya gesekan kecil saja yang terjadi di tengah masyarakat dapat menimbulkan akibat yang fatal. Sudah sangat sering terjadi beberapa peristiwa yang mencabik-cabik rasa nasionalisme kebangsaan seperti: perang antar suku, pemberontakan, tawuran antar warga dan berbagai macam isu SARA kotor lainnya. Jangan sampai Bhineka Tunggal Ika hanya menjadi semboyan yang tertulis dan menjadi ingatan belaka saja. tetapi nilai esensi Bhineka Tunggal Ika harus menjadi semangat bersama dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Pemerintah haruslah memberikan perlakuan yang sama kepada rakyatnya di seluruh pelosok negeri. Negara harus hadir dalam menangani masalah yang ada. Masyarakat indonesia harus terbebas dari masalah SARA, karena bangsa ini dibangun bukan oleh satu golongan saja namun oleh seluruh gologan, ras, suku, dan agama. Hal seperti ini harus terus di dengungkan di kalangan masyarakat agar masyarakat mengetahui bahwa perjuangan menuju kemerdekaan dilakukan dengan mengorbankan cucuran keringan dan darah seluruh pahlawan.

Mencanangkan program saja belum cukup, perlu tindakan nyata dari pemerintah untuk memberikan pemahaman dengan turun langsung ke lingkunngan masyarakat. Memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya rasa nasionalisme diatas golongan apapun. Paham radikalisme yang perpotensi memecah belah bangsa sudah mulai menunjukan jubahnya.  Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian negara dalam menjaga keutuhan NKRI.  Gerakan ini tidak hanya terjadi di lingkup kecil organisasi saja, tetapi sudah masuk ke ranah pendidikan, mulai dari sekolah, sampai dengan kampus. Masuknya paham-paham anti Pancasila di lingkungan pendidian adalah ancaman yang serius, bila tidak segera disikapi dengan tegas dikawatirkan akan melahirkan sesuatu yang mengancam kedaulatan bangsa. Tentu hal ini tidak seharusnya terjadi di dalam lingkungan pendidikan yang mana   kaum intelektual seharusnya diajak  berfikir untuk memajukan bangsa ini bukan sebaliknya malah menjadi sarang pemecah belah bangsa.

Berangkat dari persoalan diatas, Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) mendukung upaya pemerintah untuk meberantas tuntas bibit-bibit dan akar radikalisme dalam bentuk apapun yang berpotensi memecah belah bangsa. Sebagai kaum Intelek Mahasiswa ataupun pemuda harus menjadi benteng utama dalam menjaga keutuhan NKRI bukan hanya sekedar berteori, berorasi, dan berpendapat, tapi kaum pemuda juga harus menunjukkan peran nyata dalam menajaga Kebhinekaan, terus aktif di dalam lingkungan masyarakat sembari memberikan pemahaman agar tidak terpengaruh dengan isu-isu Radikalisme yang ada di tengah-tengah masyarakat. Karena bagaimanapun pahamnya, bagaimanaun langkahnya jika ada paham yang bertentangan dengan azas konstitusi negara Republik Indonesia serta tidak sejalan dengan Pancasila sebagai dasar negara maka wajib diberantas tuntas agar tidak berkembang biak di lingkungan masyarakat.

Momen hari kebangkitan Nasional harusnya ditandai dengan kembalinya nilai luhur bangsa, kembalinya budaya Indonesia yang santun, dan juga kembalinya Bhineka Tunggal Ika di tengah-tengah masyarakat indonesia yang majemuk. Langkah Presiden Republik Indonesia  Ir. Joko Widodo dalam menyikapi polemik yang terjadi di tengah-tengah bangsa saat ini dengan melakukan pertemuan antar tokoh-tokoh umat beragama sangat tepat. Beberapa amanat yang di sampaikan oleh Presiden harapannya menjadi langkah bijak menjaga negara dari ancaman radikalisme. Pesan itu pada intinya mengingatkan kita bahwa kita semua adalah bersaudara. bila tidak bersaudara dalam agama, maka saudara sebangsa, bila tidak menjadi saudara sesama suku, maka kita saudara setanah air. oleh karena itu jangan lagi  saling mengejek, jangan lagi saling menjelakkan, dan jangan lagi saling memfitnah, kita teguhkan kembali semangat persatuan. Bhineka Tunggal Ika adalah semangat kita dalam membangun bangsa. Tanpa  semangat bersama tidak akan dapat menuju cita-cita kemerdekaan yang diamanatkan oleh UUD 1945.

KMHDI adalah bagian dari masyarakat, juga bagian dari bangsa itu sendiri, sehingga juga merupakan tugas dan tanggung jawab kader KMHDI berperan aktif menjaga keutuhan bangsa ini.  disamping itu negara memiliki peran yang sangat besar, keren kebijakannya dapat memberikan solusi untuk kondisi saat ini.  Beberapa solusi yang kami tawarkan kepada pemerintah adalah:

  1. Mebangkitkan semangat gotong royong di lingkungan sosial masyarakatan. Budaya gotong royong adalah identitas bangsa. Budaya ini mulai terkikis dan pudar karena tergerus arus global dan modernisasi. Dengan semangat gotong royong harapannya keharmonisan, tenggangrasa, toleransi dapat dipelihara.
  1. Pelestarian budaya nusantara. Ragam budaya Indonesia memiliki fungsi sebagai kearifan lokal yang sangat bernilai. Sehingga pelestariannya menjadi hal yang sangat penting untuk mengembalikan jati diri bangsa.
  1. Mendorong pemerintah untuk melaksanakan program Nawa Cita pada point ke-9 yaitu memperteguh kebhinekaan dan restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antar warga.  Dengan pendidikan berkarakter, harapannya tidak ada lagi organisasi kampus yang dijadikan sarang melahirkan paham-paham radikalisme, sarang anti Pancasila dan anti pluralisme.
  2. Mendukung pemerintah untuk malakukan pembubaran terhadap ormas yang bersebrangan dengan dasar Negara Pancasila. Paham yang tidak menerima domokrasi sama halnya menentang pancasila dan hal itu haru ditindak tegas oleh pemerintah.
  3. Mendorong Pemerintah untuk terus meningkatkaan Keamanan Intelegen Negara, melalui Mentri Menkopolhukam dengan terus melacak dan membongkar jaringan teroris radikalisme seperti ISIS di Indonesia yang megancam Keamanan Negara serta kenyamanan Masyarakat dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Hidup Bhineka Tunggal Ika

Satyam Eva Jayate…..!

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai