‘Boarding School’ Sebuah Pilihan

Salah satu konsekuensi diselenggarakannya Pasraman Formal adalah pola pengasuhan dan pola pembelajaran yang harus intim. Intensitas ini bukan hanya dicirikan kesamaan tempat tinggal antara guru dan murid, tetapi juga seluruh suasana yang melingkupinya. Selintas, imajinasi ini membawa kita pada suasana Upanisad di masa silam. Guru atau acarya tidak hanya akan bertindak sebagai guru, tetapi juga sekaligus “orang tua kedua” bagi para murid atau brahmacari. Mereka hidup bersama, menjalankan nilai dan norma aguron-guron, mirip Bhagawan Domia mengasuh dengan baik Sang Weda, Sang Utamaniu, dan Sang Arunika.

Tujuan utama Pasraman Formal, sebagaimana diatur dalam PMA Nomor 56 Tahun 2014 adalah menghasilkan “ahli agama”, sebuah tujuan yang diinspirasi dari PP Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Keluaran ini tidak bisa diproduksi dengan proses yang biasa-biasa saja, apalagi konvensional. Perlu cara-cara luar biasa, out of the box, di luar mainstream. Karenanya, tinggal bersama dalam waktu yang lama (boarding school) menjadi pilihan paling rasional. Pesantren Islam, 200 tahun silam sudah melakukannya.

Masalahnya, apakah boarding school akan seturut dengan kebutuhan untuk melahirkan “ahli agama”? Biarkan waktu yang akan menjawabnya. Masih dan selalu terbuka kemungkinan pola ini dievaluasi. Terlalu dini jika harus bertungkai pangkai sebab PMA ini belum dieksekusi. Lebih baik menyiapkan segala piranti dan energi positif agar Pasraman Formal berjalan sukses. Prediksi, ramalan hingga kekhawatiran boleh saja, dan itu sah. Tapi menyiapkan portofolio koreksi bagaimana penyelenggaraan Pasraman Formal jauh lebih bermartabat.

Boarding school adalah pengejewantahan dari komprehensivitas kebutuhan pendidikan keagamaan Hindu. Dan ini satu nilai tambah karena Pasraman Formal juga sepenuhnya mengadopsi standar nasional pendidikan seperti tertuang dalam PP Nomor 19 Tahun 2005. Sebenarnya, apa itu boarding school?

Seperti disinggung sepintas di awal, boarding school adalah sistem sekolah dengan mengasramakan guru dan muridnya. Mereka akan berada dan selalu bersama dalam kurun waktu tertentu, misalnya, satu semester, lalu diselingi libur, bisa saja satu bulan, hingga murid pasraman menamatkan sekolahnya. Di lingkungan asrama itu, murid dapat berinteraksi dengan sesama murid dan para guru. Artinya, contoh yang baik dapat mereka saksikan langsung dan lakukan tanpa tertunda. Sehingga pendidikan kognisi, afektif dan psikomotor dapat terlatih dengan optimal. Dalam sistem boarding school, pendidikan seni dan olahraga bukan lagi ekstrakurikuler.

Satu hal yang sangat diperlukan untuk menyukseskan boarding school adalah “kekekatan” aturan main di asrama, tentu dengan batas-batas yang wajar. Pengetatan seperti ini penting agar pasraman tak terserang virus yang kerap menjangkiti sekolah-sekolah umum, virus yang masih belum terobati. Pasraman harus imun dari sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.

Untuk memenuhi harapan ideal ini, maka delapan standar pendidikan nasional sesuai regulasi sedapat mungkin memadai. Lebih khusus lagi, boarding school harus diisi oleh murid yang terseleksi dengan jumlah yang tidak harus banyak, bukan karena alasan biar gampang mengawasinya, tetapi lebih kepada efektivitas dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Beberapa keliyanan inilah yang akan membedakan boarding school dengan sekolah umum. Tapi, apakah boarding school akan semudah ini?

Sekilas, boarding school agak cocok dengan karakteristik kebudayaan Hindu, terutama Bali, karena orang Hindu (Bali) cenderung berkelompok, menganut kolektivitas. Mereka suka berkumpul, nyaris tidak bisa hidup dengan memilih individualisme. Di Bali, mereka membentuk sekaa, dari yang paling kecil hingga desa pakraman. Di luar Bali, mereka membangun banjar dan karena alasan teologis, membangun padmasana. Bagaimana dengan Hindu yang berkembang di Jawa? Idem. “Kumpul ora kumpul sing penting mangan” bahkan menjadi tagline mereka. Paguyuban Jawa ada di mana-mana. Secara umum, orang Hindu yang berangkat dari kebudayaan dengan rumpun seperti ini, hidup kolektif menjadi penanda yang khas.

Meski begitu, khusus kebudayaan Bali, melepas anak-anak mereka untuk hidup sendiri, jauh dari keluarga bukanlah kelaziman. Terlebih anak lelaki tunggal yang harus tinggal di keluarga batih. Setelah berkeluarga pun, mereka masih menganut patrilokal, atau setidaknya tak jauh-jauh dari keluarga inti. Mungkin pemolaan ini pula, sebuahpanti, lagi-lagi terutama di Bali tidak pernah menjadi tempat favorit untuk menitipkan anak-anak di panti asuhan, apalagi menitipkan orang tua di panti jompo. Boarding school, dengan segala kelebihannya, mau tidak mau, harus dilakoni demi dan untuk menghidupi masa depan pendidikan keagamaan Hindu. Sulit memang, tapi pilihan ini harus dicoba, meski bukan untuk coba-coba.

Kahlil Gibran, penulis Lebanon dengan percaya diri pernah mengatakan: “anak-anak itu seperti panah, yang setelah meluncur dari busurnya, akan segera menjadi milik kehidupan”. Ungkapan ini mungkin tak akan sepenuhnya pas untuk kebudayaan Hindu (Bali), tetapi Pasraman Formal dengan sistem boarding school sudah kita sepakati, sudah kita pilih!

Oleh: I Nyoman Yoga Segara I Penulis, Antropolog IHDN Denpasar
Source: Majalah Wartam/Edisi 23/Januari 2017

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai