Krisis Tata Krama, KMHDI Implementasi Jati Diri Bangsa

Jumat, 04 November 2016 – Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHD) melaksanakan Seminar Nasional dengan tema Implementasi Nilai – Nilai Jati Diri Bangsa dalam Bernegara. Seminar Nasional yang merupakan rangkaian kegiatan Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) X KMHDI ini menghadirkan tiga tokoh nasional diantaranya I Dewa Gede Palguna (Hakim Konstitusi MK), Ir. Ketut Sustiawan (Komisis XI DPR RI) dan Lucky Hendrawan (Budayawan).

Presidium Pimpinan Pusat KMHDI Putu Suwiasa mengungkapkan Seminar Nasional ini dilaksanakan atas keprihatinan KMHDI terhadap karakter generasi muda Indonesia yang kian hari menghilangkan identitas sebagai anak bangsa. Kegiatan ini hadir sebagai media edukasi singkat bagi para peserta untuk kembali melihat kedalam terkait moralitas diri.

“Sebagai bagian dari NKRI, KMHDI hadir disetiap lini pergerakan termasuk sebagai reminder generasi muda terkait tata karma dan pengembalian moral. Indonesia pada dasarnya sangat megedepankan tata krama baik berkata maupun bertindak. Melalui kegiatan ini kita ingin menyadarkan bahwa saat ini kita sudah jauh meninggalkan hal tersebut” ungkapnya.

Narasumber pertama I Dewa Gede Palguna dalam materinya menyampaikan bahwa Indonesia hari ini merupakan buah manis dari pergerakan dan perjuangan yang dibangun dari rasa senasib dan sepenanggunagan yang kemudian sepakat untuk hidup bersama dalam sebuah Negara kesatuan.

“Sehingga Indonesia bukan hanya sebuah Negara dengan perkumpulan masyarakat saja, melainkan konsepsi politik yang memiliki cita-cita yang luhur dan Indonesia dibentuk atas keberagaman layaknya melody membentuk harmoni yang indah, itulah bangsa kita” ungkapnya.

Sebagai generasi penerus bangsa, sejarah adalah pembelajaran yang utama. Bagaimana bangsa ini dibentuk dan dipersatukan atas perbedaan. Sejarah menjadi catatan paling penting untuk menciptakan karakter kebangsaan, seperti yang dikumandangkan Bapak Proklamasi Ir. Soekarno Jas Merah “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”

Narasumber ke tiga Lucky Hendrawan mengungkapkan penurunan kondisi jati diti anak bangsa saat ini “Indonesia sudah merdeka, tapi belum berdaulat. Merdeka tetapi tidak punya arah dan tujuan kemana dan apa yang harus kita lakukan sebagai anak bangsa. Itulah penyebab utama degradasi moral dan tata krama saat ini” ungkap Kang Lucky  yang juga merupakan seorang Dosen.

Beliau juga menjelaskan bagaimana generasi muda seharunya memandang antara nusantara dan Indonesia dengan lebih seksama. Bicara Nusantara, berarti bicara Indonesia sampai dengan Filipina, Myanmar, Laos bahkan sampai dengan Thailand yang secara konstitusional berbeda dengan Indonesia. Indonesia. 88 tahun yang lalu lewat peristiwa Sumpah Pemuda, kita sepakat untuk hidup bersama negara yang kita sebut dengan Indonesia.

Antusiasme untuk merdeka jangan sekedar berada ditataran berjuang untuk merebutnya, tetapi memproyeksikan visi dan cita-cita bangsa, hendak dibawa kemana bangsa ini, mau dijadikan apa Negara ini adalah kemerdekaan yang utama. Jangan sampai perjuangan memperebutkan kemerdekaan yang mengorbankan seluruh tumpah darah anak bangsa menjadi sia-sia karena ketidakpahaman kita dalam mengejawantahkan cita-cita kemerdekaan.

Rapat kerja Nasional Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia X tahun 2016 harus mampu merefleksikan cita-cita kemerdekaan bangsa dalam merumuskan giat kerja 1 periode kepengurusan. Euforia pergantian pengurus pimpinan pusat yang baru harus dimaknai dengan hadirnya semangat baru untuk membuat karya nyata dan meningkatkan eksistensi organisasi. Para pimpinan harus mampu menerjemahkan cita-cita pendiri dan harapan para kader KMHDI diseluruh pimpinan daerah dan pimpinan cabang se-Indonesia, sehingga perumusan program kerja nanti benar-benar sejalan dengan semangat perjuangan bangsa dan mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. *Sekum

Komentar Anda