NYEPI UNTUK MERAMAIKAN HATI

Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka (Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa). Hari Nyepi jatuhnya pada sasih kedasa yaitu penaggal ke pertama di sasih ke dasa, sedangkan Tilem ke IX (kesanga) adalah penutup tahun saka. Adapun rangkaian hari raya nyepi

 

  1. Upacara Melasti

Dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi. Pelaksanaan upacara Melasti disebutkan dalam lontar Sundarigama seperti ini: "….manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata". Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas, tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci. Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut. Setelah upacara Melasti usai dilakukan, pratima dan segala perlengkapannya diusung ke Balai Agung di Pura Desa. Upacara Melasti ini jika diperhatikan identik dengan upacara Nagasankirtan di India. Dalam upacara Melasti, pratima yang merupakan lambang wahana Ida Bhatara, diusung keliling desa menuju laut dengan tujuan agar kesucian pratima itu dapat menyucikan desa. Sedang upacara Nagasankirtan di India, umat Hindu berkeliling desa, mengidungkan nama-nama Tuhan (Namas-maranam) untuk menyucikan desa yang dilaluinya.

Menurut ajaran Hindu, melasti adalah nganyudang malaning gumi ngamet Tirta Amerta atau menghanyutkan kekotoran alam menggunakan air kehidupan. Laut sebagai simbol sumber Tirtha Amertha (Dewa Ruci, Pemuteran Mandaragiri).
Makna Upacara melasti yakni proses pembersihan lahir bathin manusia dan alam, dengan jalan menghayutkan segala kotoran menggunakan air kehidupan. Oleh karena itu prosesi sembahyang dilakukan di sumber-sumber air. Upacara ini juga bertujuan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar Umat Hindhu diberi kekuatan dalam melaksanakan rangkaian Hari Raya Nyepi.

  1. Tawur (Pecaruan) dan Pengrupukan

Sehari sebelum Nyepi, Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.

 

  1. Nyepi

Keesokan harinya, yaitu pada panglong ping 15 (atau tilem Kesanga), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini dilakukan puasa Nyepi yang disebut “Catur Brata Penyepian” dan terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Brata ini dilakukan sejak sebelum matahari terbit. Menurut umat Hindu, segala hal yang bersifat peralihan, selalu didahului dengan perlambang gelap. Intisari dari perlambang-perlambang lahir itu (amati geni), menurut lontar “Sundari Gama” adalah “memutih bersihkan hati sanubari”, yang merupakan kewajiban bagi umat Hindu. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin). Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan hari raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti diubah.

 

  1. Ngembak Geni (Ngembak Api)

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada tanggal “ping pisan (1) sasih kedasa (X)”. Pada hari inilah Tahun Baru Saka tersebut dimulai. Umat Hindu bersilaturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain. Dengan suasana baru, kehidupan baru akan dimulai dengan hati putih bersih. Jadi kalau tahun masehi berakhir tiap tanggal 31 Desember dan tahun barunya dimulai 1 Januari, maka tahun Çaka berakhir pada “panglong ping limolas (15) sasih kedasa (X)”, dan tahun barunya dimulai tanggal 1 sasih kedasa (X).

 

Selain melakukan segalah macam rangkaian hari raya Nyepi dan Catur Brata Penyepian, di hari itu umat Hindu melakukan Tapa, Berata, Yoga, Samadhi untuk mengadakan koreksi total pada diri sendiri, serta menilai pelaksanaan Trikaya (kayika = perbuatan, wacika = perkataan, manacika = pikiran) di masa lampau, kemudian merencanakan Trikaya Parisudha (Trikaya yang suci) di masa depan. Dengan demikian hari Nyepi Adalah Untuk Meramaikan Hati dengan mengisi wawasan kesadaran untuk tahu akan hakikat dan tujuan hidup di dunia ini, bahwa bukan sekedar mengejar harta dan kesenangan belaka, tetapi bagaimana hidup ini makin bermanfaat dan berguna bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar, sehingga tercaipainya keharmonisan dan kebahagian di alam semesta. Apalagi tema nyepi tahun 2016 kali ini mengakat tema tentang “kebergaman perekat persatuan” artinya kita bersatu tidak hanya pada yang seagama saja, tetapi semua mahluk yang ada di dunia ini. Melalui kesadaran spiritual manusia akan selalu memandang semua mahluk adalah ciptaan Tuhan dan setiap mahluk ada Tuhan didalam, sehingga tidak ada yang patut di benci,dihina dan bahkan diskriminasi. Bukankah perbedaan itu seperti warna pelangi, ketika warna itu bersatu acan menjadikan pelangi yang indah, begitulah dengan perbedaan ketika kita bersatu kita akan lebih kuat, harmonis, damai dan bahagia.

Alam telah banyak mengajari kita, hanya saja kita tidak terlalu bijak memaknainya, kita selalu membibit,menanam,menyiram,memupuk hal negative didalam hati dan lingkungan kita. Kita terlau ego akan hidup ini, kita selalu melihat semua yang berbeda dari kita adalah keliru bahkan salah, sehingga yang berbeda harus disamakan dengan cara yang keras,marah dan bahkan pebrontakan serta pembunuhan. Didalam hidup ini kita bukanlah hakim yang mampu memutuskan seseorang itu buruk atau jahat karena kita berbeda, sehingga yang tepenting adalah bagaimana kita untuk memaknai, mamaafkan,menerima, dan mensyukuri dari apa yang terjadi dalam hidup ini

 

Selamat Tahun Baru Saka 1938 Tahun 2016

Semoga di Hari Nyepi tahun ini kesadarn kita meningkat

Semoga seluruh mahluk berbahagia.

 

Jakarta, 8 Maret 2016

Putu Surya Adnyana (PTSA)

Komentar Anda