Demokrasi adalah Kompetisi yang Memuaskan Semua Pihak

Oleh Presidium Putu Surya Adnyana
– Pemilihan pemimpin atau dengan kata lain Pemilu,Pilkada,Pilkades sudah sering
kita dengar, lakukan dan evaluasi bahkan tanggal 9 Desember 2015 ini akan
diadakan Pilkada serentak di Indonesia bagi kabupaten kota maupun provinsi yang
jabatan kepala daerahnya sudah habis. Pilkada tak bisa dipisahkan dengan kata
demokrasi, yang dimana Demokrasi Indonesia saat ini menitik beratkan pada
pemilihan suara terbanyak atau voting yang seringkali menimbulkan butut
panjang, tidak hanya diwaktu pemilihan dilakukan, Namun setelah selesai pun
masih hangat untuk dibicarakan dan didikusikan bahkan diperdebatkan. Pro kontra
terus diasah dan disulut bagaikan air dan minyak yang sangat sulit
bersatu,orang ketiga selalu mencari panggung untuk menyiram agar api pro kontra
tetap menyala. Dalam demokrasi yang menonjolkan voting sebagai jalan akan
menghasilkan adanya pihak yang kalah dan menang, adanya pihak yang yang di
puaskan dan tidak di puaskan, adanya pihak yang terwakili dan tidak terwakili bahkan
ada pihak yang di agungkan dan ada yang di jatuhkan. 

Sehingga slogan “Demokrasi
Tak Selalu Memuaskan Semua Pihak”  seakan
benar adanya, apalagi terbukti setelah selesainya pesta demokrasi masih adanya
pihak-pihak yang saling hujat,hina menghina dan tidak adanya kebersaaman dalam
membangun suatu daerah. Bahkan lebih parahnya lagi dan menjadi trend negri ini
membuat kongres tandingan atau mungkin nanti pllkada Tandingan. Namun perlu
kita pahami bahwa “Demokrasi Adalah Kompetisis Yang Memuasakan Semua
Pihak”  Disini bukan masalah
demokrasinya yang salah atau sistemnya yang keliru, tetapi bagaimana kedewasaan
masyarakat dalam memahami dan menyadari arti demokrasi itu. Seharusnya
demokrasi di artikan sebuah kompetisi yang melahirkan sesuatu yang terbaik dan
diputuskan serta dipilih oleh rakyat tanpa ada tekanan dan imimg-iming apapun.
kata menang dan kalah itu hanya pada waktu kompetisi berlangsung, setelah itu
mari kita berjabat tangan dan bergandeng tangan membangun bangsa ini secara
bersama-sama. Hilangkan rasa kecewa, rasa kalah, rasa benci dan ego sektoral,
kita boleh kecewa dan sedih tetapi kita tak boleh membenci,ego atau bahkan
mengutuk orang lain walaupun kita kalah. Bukankan nama lain dari kalah menang
puas atau pun becin adalah rasa, dan nama lain rasa adalah kehidupan, serta
nama lain dari kehidupan adalah proses, jadi mari kita nikmati perjalanan
proses ini untuk menambah kedewasaan sehingga pemahaman dan kesadaran kita
meningkat. Ketika dewasaan sesorang bertambah tentu pemahan tentang sesuatu
akan lebih luas dan kesadarannya jiwanya akan bangkit. Kata kunci dari
berdemokrasi adalah kedewasaan,Yang sebenarnya tidak hanya dalam berdemokrasi
saja, tetapi dalam menjalani hidup di dunia ini juga perlu kedewasaan, karena
hanya dengan pendewasaan pemahaman didapat, hanya dengan pemahaman kesadaran
diraih. Ketika kesadaran sudah kita peroleh sudah barang tentu kebahagian
meyertai hidup sesorang. Sehingga demokrasi tidak lagi menimbulkan pro kontra
tetapi memuaskan semua pihak karena semua pihak sudah sadar bahwa setelah
kompetisi usai saatnya kita bersama-sama mengisi kemerdekaan dengan
melaksanakan kewajiban sesuai kemampuan masing-masing.

Komentar Anda