KMHDI MENDORONG TINGKATKAN PRESTASI SEPAK BOLA NASIONAL

Bagi masyarakat Indonesia olahraga sepak bola bukan sekedar olah raga biasa, bola adalah simbol persatuan dan lebih dari itu bola juga merupakan bahasa universal yang dapat mengkomunikasikan semua orang di dunia tanpa memandang status sosial, suku, ras maupun golongan tertentu. Tidak memandang mereka yang berasal dari masyarakat perkotaan hingga mereka yang bermukim dipelosok negeri, semua akan bersatu dan meninggalkan aktifitas sejenak demi sepak bola.
Kecintaan yang besar masyarakat terhadap persepakbolaan Indonesia terlihat dari dukungan yang tiada henti meski prestasi semakin meredup. Obrolan diwarung kopi hanya bisa bercerita tentang sejarah persepakbolaan nasional, momen Olimpiade Melbourne pada tahun 1956 masih dianggap sebagai salah satu prestasi paling fenomenal. Kala itu timnas Indonesia yang dilatih Toni Pogaknik asal Yugoslavia berhasil masuk Olimpiade dan mencatat hasil gemilang dengan menahan Uni Soviet 0-0 dalam pertandingan pertama. Namun sebagian besar pemain kemudian mengalami cedera dan kelelahan sehingga harus takluk dalam pertandingan play off dengan skor 0-4.
Masyarakat saat ini merindukan kebangkitan garuda muda, sudah terlalu lama lagu kebangsaan Indonesia Raya tidak berkumandang di perhelatan internasional. Terlebih lagi setelah Kementrian Pemuda dan Olahraga menerbitkan SK Menpora No. 01307 tahun 2015 tentang sanksi administratif terhadap pengurus PSSI dan kegiatan-kegiatannya. Tentu konsekuensi dari pemberian sanksi tersebut akan menambah panjang penantian kita akan prestasi Tim Nasional sepak bola Indonesia.
Keputusan pemberian sanksi administratif tersebut sebagai akibat dari pengabaian surat peringatan pertama, kedua dan ketiga yang dilayangkan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga kepada Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). PSSI dianggap tak menuruti aturan pemerintah terkait transparasi keuangan dan regulasi kompetisi Indonesia Super League atau sekarang bernama Qatar National Bank League. Kebijakan Menteri Pemuda dan Olahraga dengan penerbitan SK Menpora No. 01307 tahun 2015 mengundang kontroversi ditengah-tengah masyarakat.
Dalam kutipan surat FIFA untuk Sekertaris Menpora Alfitra Salam tertanggal 22 Mei 2015 melalui faksimili pada Sabtu (23/5/2015), mengatakan pengambilalihan segala kewenangan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga membuat PSSI melanggar pasal 13 dan 17 Statuta FIFA,”. Dalam surat tersebut FIFA juga memberikan tenggang waktu kepada Kemenpora hingga tangal 29 mei 2015, bilama mana hingga tenggang waktu tersebut Kemenpora tidak mencabut SK Menpora No. 01307 tahun 2015 makan PSSI terancam diberikan sanksi oleh FIFA.
Jika merujuk pada Statuta FIFA edisi terbaru, April 2015, disebutkan pada Pasal 2 ayat ā€˜eā€™ bahwa tujuan dibentuknya FIFA salah satunya adalah untuk meningkatkan integritas kompetisi dan mencegah adanya penyalahgunaan asosiasi sepakbola. Hal tersebut tentunya sejalan dengan maksud dari Menpora membekukan PSSI yakni karena PSSI tidak mengindahkan intruksi pemerintah untuk melakukan transparasi keuangan dan regulasi kompetisi. Dengan asumsi FIFA berpegang teguh pada statutanya sendiri, harusnya Menpora bisa meyakinkan FIFA bahwa tujuan dari pemberian sanksi administratif PSSI ini adalah menegakan statuta FIFA sehingga ancaman sanksi FIFA tidak dijatuhkan kepada Indonesia.
Terlepas pada ancaman sanksi FIFA, masyarakat juga harus realistis dalam memberikan penilaian dan menyikapi persoalan ini. Jika melihat perkembangan persepakbolaan Indonesia hari ini tentu kita sangat prihatin akan capaian prestasinya. Lalu siapa yang salah, siapa yang harus bertanggung jawab..? Berbicara sepak bola ya berbicara PSSI. Berbicara PSSI sontak terlintas di benak kita adalah konflik yang tiada henti dan minim akan prestasi. Artinya PSSI sebagai induk persepakbolaan Indonesia harus menyadari dan segera berbenah untuk mewujudkan prestasi. Pemerintah juga harus berperan dalam melakukan pembinaan sehingga ada sinergisitas antara pemerintah dalam hal ini Kemenpora dengan PSSI.
Sikap Imam Nahrawi, selaku Menteri Pemuda dan Olahraga yang akan mempertimbangkan kembali revisi SK Menpora No. 01307 tahun 2015 tentang sanksi administratif terhadap pengurus PSSI dan kegiatan-kegiatannya dengan memperkuat posisi Tim Transisi sebagai untuk mengawas PSSI secara profesional merupakan keputusan yang tepat. Dan kami mengajak masyarakat untuk bersatu mendorong uapaya pembenahan persepakbolaan Indonesia demi mewujudkan prestasi untuk mengharumkan nama Bangsa. Selain itu para pemain juga harus bersabar, kita tidak mungkin terus mempertahankan kondisi persepakbolaan kita saat ini yang minim akan prestasi.
Apapun konsekuensi yang akan diberikan FIFA kepada Indonesia (PSSI), kita harus bersatu dan menerimanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita membangun persepakbolaan kedepan yang semakin maju dan berprestasi.
EKA SAPUTRA, S.T
Presidium Pimpinan Pusat KMHDI 2014 – 2016

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai