Memaknai Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Çaka 1937

Om Swastyastu,
Om Anubadrah Kratawo Yantu Wiswatah
(Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru)

Satyam Eva Jayate…!
Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas Asung Wara Nugraha-Nya kita senantiasa sehat dalam menjalankan aktivitas keseharian. Serta atas seizin-Nya lah, kita juga masih dapat merayakan Hari Raya Suci Nyepi Tahun Baru Çaka 1937 dengan penuh kasih.

Saudara-saudara, segenap kader Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) di seluruh tanah air Indonesia. Melalui momentum perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1937 kami mengajak kepada kita semua untuk melaksanakan Nyepi dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian yakni:
1. Brata Amati Geni Tidak menyalakan api selama hari Nyepi, dimana api yang dimaksudkan disini adalah sifat-sifat kroda manusia, seperti amarah,
2. Brata Amati Karya Brata ini dimaksudkan bahwa pada hari Nyepi umat tidak boleh melakukan pekerjaan,
3. Brata Amati Lelanguan Brata ini dimaksudkan bahwa pada hari Nyepi umat tidak boleh melaksanakan kegiatan yang berfoya-foya atau bersenang-senang dan Hiburan,
4. Brata Amati Lelungan Brata ini dimaksudkan bahwa pada hari Nyepi umat tidak boleh berpergian melainkan harus tetap diam di rumah atau tempat-tempat suci.
Selain melaksanakan Catur Brata Penyepian marilah kita memaknai Nyepi dengan melaksanakan introveksi diri. Introveksi yang kami magsud adalah untuk mengevaluasi segala perbuatan prilaku kita sebagi individu-individu sebagai bentuk pertanggungjawaban kita kepada Sang Pencipta, Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sehingga kita datap menjadi insan yang lebih baik, terbebas terhadap belegu nafsu duniawi dan pada akhirnya akan mencapai kepada tujuan kita yakni kebahagian yang abadi (Moksartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma).
Saudara-saudara para kader KMHDI, tentu tanggung jawab kita bukan hanya sebagai individu-individu semata, karena kita sebagai mahluk sosial dan telah mengikrarkan diri menjadi bagian dari KMHDI yang memiliki semangat dan cita-cita perjuangan yang mulia yakni Mewujudkan Masa Depan yang Lebih Biak Bagi Umat Hindu dan Negara. Oleh karena itu, melalui momentum perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Çaka 1937 marilah kita sebagai kader KMHDI melakukan introveksi diri terhadap tugas dan tanggung jawab dalam mengemban amanah yang sangat mulia tersebut.

Jika kita tinjau kembali kondisi Organisasi KMHDI saat ini, tentu kita harus akui bahwa KMHDI masih sangat jauh dari kondisi ideal sebagaiman yang tertuang dalam cita-cita diatas. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, maka kader-kader KMHDI harus menjadi kader yang berkualiatas. Yang kami magsud kader berkualitas adalah mereka yang didalam dirinya telah tertanam nilai-nilai jati diri KMHDI yang Religius, Humanis, Nasionalis dan Progresif, yang sadar akan tugas tanggung jawabnya dan mau berjuang dijalan dharma untuk mewujudkan masadepan Umat Hindu, Bangsa dan Negara menuju perubahan yang lebih baik. Tentu semua itu akan terwujud hanya dengan kemauan, semangat tinggi dan kesadaran kerja. Kerja…. kerja… dan kerja. Karena kerja adalah kewajiban dan dharma.

Tema Nasional perayaan Tahun Çaka 1937 yakni “Penyucian Diri dan Alam Semesta, Menuju Peningkatan Kualitas Kerja”. Jika kita menelaah lebih dalam terkait permasalahan bangsa saat ini maka Hari Raya Nyepi Tahun Çaka 1937 hendaknya menjadi momentum baik bagi pemerintah untuk melakukan introveksi dan evaluasi. Sudah 70 tahun Indonesia merdeka, namun yang menjadi pertanyaan kita semua adalah benarkah kita merasakan sebagai warga negara yang benar-benar merdeka layaknya bangsa-bangsa lain yang telah merdeka…? sejauh mana Negara hadir dalam mewujudkan kesejatrahan sosial serta memberikan rasa keadilan bagi seluruh rakyatnya?.

Permasalahan bangsa kita saat ini adalah Merosotnya Wibawa Bangsa. Negara tidak mampu memberikan rasa aman, tindakan kekerasan dan kriminalitas yang penanganannya sangat lamban sehingga berujung pada tindakan main hakim sendiri yang dilakukan oleh masyarakan dan bahkan ancaman terorisme yang kian semakin menakutkan. Lemahnya penegakan Hukum, ditandai dengan gagalnya pemerintah dalam menangani kasus-kasus besar yang melibatkan para kaum-kaum pemilik kekuasaan dan kaum pemodal dan ironisnya hal ini berbanding terbalik pada kasus-kasus hukum yang melibatkan masyarkatak kecil seakan-akan hukum menunjukan kegagahannya sebagai panglima tertinggi bagi para pencari keadilan.

Persoalan ekonomi, Indonesia sampai saat ini masih menjadi Korporat-Korporat Asing yang mengeruk habis kekayaan alam Indonesia dan Indonesian hanya menjadi cukong-cukong asing, menjadi budak di tanah air sendiri. Padahal sangat jelas sebagaimana yang terkandung dalam Pasal 33 UUD 1945 Ayat 3, dikatakan bahwa: bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sudah kah negara melakukan itu? Namun kita juga harus berbangga bahwa Indonesia saat ini masuk dalam 10 besar negara-negara dunia dengan pertumbuhan perekonominya. Namun sangat disayangkan pertumbuhan perekonomian tersebut tidak dibarengi Gini Ratio antara penduduk kaya dengan penduduk miskin yang semakin kecil justru fhaktanya semakin besar, dan persentasi masyarakat miskin semakin bertambah. Berarti kesejahtraan hanya dinikmati oleh segelintir orang saja dan bahkan untuk korporat Asing.
Masyarakat semakin tidak percaya kepada institusi publik dan para pemimpin yang tidak kredibel sebagai toladan untuk menjawab harapan publik. Perebutan kekuasaan ditingkat elit seakan-akan menjadi hal yang lumbrah dan dipertontonkan secara gambalang dan menjadi konsumsi publik. Kepentingan kelompok dan golongan tertentu saat ini telah berada diatas segalanya dan tidak lagi meletakan kepentingan masyarakat sebagai yang utama, sehingga segala upaya dan daya dilakukan untuk memenuhi hasrat yang haus akan kekuasaan.
Masalah-masalah tersebut tentu tidak akan terselesaikan jika kita berdiam diri, tidak juga hannya dengan semangat kerja semata, melaikan dengan membangun kesadaran kerja. Bahwa kerja adalah kesadaran, kewajiban dan dharma. Sebagaimana dalam ajaran Kitab Suci Bhagavad Gita, BAB II. Seloka 19 dikatakan
“Oleh karena itu, lakukanlah tugas kewajiban tanpa keterikatan pada tujuan dari perbuatan, karena orang yang melakukan tugas kewajibanya tanpa keterkaitan pada tujuan,maka orang tersebut akan sampai kepada Tuhan Yang Maha Esa”.
BG. BAB II.19

Kesadaran kerja menjadi hal yang sangat penting bagi kita semua, khususnya bagi para pemangku kepentingan baik Eksekutif maupun Legeslatif. Selain kesadaran kerja, bekerja sesuai tugas dan tanggung jawab yang telah ditentukan dan mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab masing-masing adalah sebuah keharusan. Karena persoalan yang terjadi saat ini adalah banyak yang tidak paham tugas dan tanggung jawabnya dan justru mengambil tugas dan tanggung jawab orang lain. Misalkan banyaknya pejabat publik, kepala daerah, kaum politik yang bekerja hanya demi pencitraan sehingga dapat mengangkat popularitas sesaat semata demi kepentinggan tertentu layaknya hal itu adalah pekerjaan selebritis-selebritis. Tidak lagi dapat dibedakan mana ranah politik, agama, sosial dan juga popularitas ala selebritis, tentu jika ini terus dilakukan akibatnya akan sangat berbahaya. Hal ini dapat kita lihat pada Kitab Suci Bhagavad Gita, BAB III. Seloka 35 dikatakan
“Sesungguhnya jauh lebih baik melaksanakan tugas-tugas kewajiban sendiri walaupun dilakukan dengan penuh kekurangan, dibandingkan dengan melakukan tugas kewajiban orang lain walaupun dilakukan dengan sempurna. Ketika orang menekuni tugas dan kewajibanya sendiri, kematian pun menjadi berkah, sebab melaksanakan tugas kewajiban orang lain itu penuh dengan bahaya”.
BG. BAB III.35

Maka kami Pimpinan Pusat KMHDI mengajak kepada kita semua hendaknya memaknai Hari Raya Nyepi Tahun Çaka 1937 dengan melaksanakan mulat sarira (Introfeksi diri), membangun kesadaran kerja dan bekerja berdasarka tugas dan tanggung jawab sebagai mana yang telah ditentukan. Dengan demikian maka cita-cita perjuangan bangsa mewujudkan kemandirian bangsa kesejahtraan sosial dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia akan terwujud. Dan Indonesia menjadi negara maju, negara besar bangasa yang disebagi oleh bangsa-bangsa lain bukanlah hanya isapan jempol semata.
Om Shanti Shanti Shanti Om.

Jakarta, 21 Maret 2015
PRESIDIUM PIMPINAN PUSAT KESATUAN MAHASISWA HINDU DHRMA INDONESIA Masa Bhakti 2014-2016
EKA SAPUTRA, S.T

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai