KMHDI Bandar Lampung Tuntut Pembatalan Reklamasi Teluk Benoa

Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Bandar Lampung menggelar aksi ‘Solidaritas for Bali’ untuk menolak reklamasi Teluk Benoa, Sabtu, 13 Desember 2014. Dalam aksinya, mereka menyampaikan empat tuntutan, salah satunya menuntut pembatalan reklamasi.

Berikut tuntutan KMHDI melalui rilis yang diterima Duajurai.com di Bundaran Tugu Adipura, Enggal, Bandar Lampung, hari ini:
1. Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus membatalkan Perpres 51/2014 dan kembali ke Perpres 45/2011;
2. Gubernur Bali mesti membatalkan reklamasi Teluk Benoa;
3. Menghentikan liberalisasi dan privatisasi asing pada sektor sumber daya alam Indonesia;
4. Menegakkan Pasal 33 UUD 1945.

Informasi dari situs Forbali menyebutkan, Teluk Benoa terletak di sisi tenggara Pulau Bali. Sedangkan yang direncanakan untuk direklamasi adalah Pulau Pudut. Reklamasi seluas 838 ha itu akan dikelola oleh PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI). Perusahaan itu menyiapkan dana sekitar Rp30 triliun untuk membangun berbagai objek wisata di lokasi tersebut.

Padahal, Teluk Benoa merupakan kawasan konservasi yang memiliki banyak fungsi vital dalam pelestarian ekosistem. Menurut Forbali, selain melanggar peraturan, mereklamasi kawasan konservasi dapat memberikan dampak negatif bagi ekosistem maupun kehidupan masyarakat sekitar.

“Tari Kecak di Tugu Adipura Bandar Lampung Pikat Pengendara”

http://kmhdi.files.wordpress.com/2014/12/tarikecaklampung.jpg

Tari Kecak dalam aksi ‘Solidaritas for Bali’ memikat perhatian pengendara yang melintasi Bundaran Tugu Adipura, Enggal, Bandar Lampung, Sabtu, 13 Desember 2014. Aksi yang dilakukan Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Bandar Lampung itu dalam rangka menolak reklamasi Teluk Benoa di Pulau Dewata.

Pantauan Duajurai.com, puluhan pengendara tampak melihat penari ketika lampu merah di Bundaran Tugu Adipura. Meski lampu sudah hijau, mata mereka seolah tak bergeming kepada sang penari. Bahkan, saat kendaraan mulai berjalan, tatapan pengendara tetap tertuju pada tarian Kecak.

Dalam aksinya, KMHDI menampilkan tarian dari dua daerah, yakni Lampung dan Bali. Selain Tari Kecak, mereka juga membawakan Tari Sigekh Penguten (Sembah), Tari Cendrawasih Bali, Gamolan Pekhing Lampung, Tari Topeng Bali, dan Tari Betik.

Made Suwito, Ketua UKM Hindu Unila yang merupakan bagian KMHDI Bandar Lampung, mengatakan, parade budaya yang mereka lakukan di Bundaran Tugu Adipura untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa dua budaya dapat disatukan dalam sebuah pertunjukan. “Kami ingin mengajak masyarakat Lampung untuk menanamkan semboyan ‘Lampungku, Damai itu Indah,” ujarnya.
sumber :http://www.duajurai.com/ruwajurai/kmhdi-bandar-lampung-tuntut-pembatalan-reklamasi-teluk-benoa/

Komentar Anda