PD KMHDI SulSel Rayakan Hari Raya Saraswati dengan Dharma Tula

Sabtu, 4 Oktober 2014 – Hari Raya Saraswati merupakan hari raya umat Hindu yang melambangkan hari ilmu pengetahuan suci, sebagai seorang pelajar atau mahasiswa tentu hari ini merupakan hari yang sangat suci. Oleh karena itu PD KMHDI Sulawesi Selatan bekerja sama dengan DPP Peradah Indonesia Sulawesi Selatan dan DPK Peradah Indonesia Kota Makassar melaksanakan kegiatan Dharma Tula atau diskusi keagamaan. Dharma Tula pada hari raya Saraswati ini dilakukan di Pura Giri Natha Makassar setelah persembahyangan Bersama (sesi malam) selesai.

Ketua Non Biro Kajian Hindu PD KMHDI Sulawesi Selatan, Made Budiarsa mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk merefleksikan atau mengingatkan kembali kepada Umat Hindu khususnya generasi muda Hindu tentang makna Hari Raya Saraswati itu dan Peran Pemuda serta pelajar dalam mewujudkan kemajuan Hindu dimasa depan.

Kegiatan yang diikuti sekitar 60 orang ini menghadirkan seorang Narasumber yang sudah tidak asing di mata Umat Hindu Kota Makassar karena beliau sering mengisi kegiatan-kegiatan mimbar keagamaan Hindu di Media. Beliau adalah Bapak Made Sukarta, S.Kep., M.Kes. yang merupakan seorang akademis dan Ketua PHDI Kota Makassar periode 2008-2013. Sepanjang kegiatan Dharma Tula narasumber didampingi oleh Moderator Putu Nopa Gunawan, ST.

http://kmhdi.files.wordpress.com/2014/10/saraswati-1.jpg
Foto : Proses Pemaparan Materi oleh Bapak Made Sukarta, S.Kep., M.Kes.

Dalam Pemaparannya mengenai refleksi simbol Saraswati terhadap generasi muda Hindu, Bapak Made Sukarta mengatakan bahwa
“Hindu adalah agama yang sangat baik, banyak konsep-konsep dalam Hindu yang telah digunakan oleh Negara – negara besar di dunia. Nilai- nilai kebenaran dan kasih sayang sangat jelas terkandung dalam ajaran – ajaran Hindu, itulah sebabnya mengapa kita mesti meninggalkan jalan kebenaran jika kita sudah ada pada jalan kebenaran”.

Selain itu, beliau juga menekankan pada peran Perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau sangat menyarankan bahwa wanita hendaknya juga memiliki pendidikan yang tinggi, sebab ketika wanita tidak berpendidikan maka ketika itu pula awal dari kesensaraan wanita.

“Ilmu pengetahuan dilambangkan oleh seorang Dewi, lantas mengapa wanita Hindu tidak berpendidikan” tambah Pak Made.
Lebih dari itu beliau sangat menekankan bahwa dalam masa Brahmacari merupakan masa yang suci, maka hendaknya tidak dicampur dengan masa Greastha. Sebab beliau melihat banyak mahasiswa jaman sekarang dalam masa Brahmacari melakukan hal yang tidak semestinya dilakukan dalam tingkatan Brahmacari.

http://kmhdi.files.wordpress.com/2014/10/saraswati-2.jpg
Foto : Peserta Dharma Tula

Setelah kegiatan Dharma Tula selesai, kegiatan dilanjutkan dengan Sembahyang dan Meditasi tengah malam bersama dengan Siswa-Siswi Pasraman Widya Dharma yang di puput langsung oleh Ida Pandita Dharma Yadnya Sam Yoga. Bahkan setelah kegiatan persembahyangan selesai Ida Pandita memberikan wejengan kepada Kader PD KMHDI SulSel dan Siswa – siswi Pasraman mengenai bagaimana “dedudonan” dalam melakukan persembahyangan di Pura Giri Natha, serta penekanan Ida Pandita terhadap “eling” (ingat) nya kita terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sebab pada zaman saat ini kita tidak perlu bertapa seperti yang dilakukan oleh Maha Rsi, tapi cukup dengan selalu menyebut Nama Suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Setelah acara persembahyangan tengah malam bersama selesai maka kegiatan dilanjutkan dengan “mekemit” bergadang bersama oleh anggota PD KMHDI Sulawesi Selatan dan Pemuda Hindu sambil menunggu Persembahyangan Banyu Pinaruh pada keesokan harinya. (PNG – Infokom PD KMHDI SulSel)

Komentar Anda