LOKASABHA III PC KMHDI KONAWE ” DIANTARA PELUANG DAN TANTANGAN”

Sekretariat PHDI Kabupaten Konawe yang terletak di desa Mekar Sari, Unaaha tampak kurang terurus. Sampah dan coret-coretan anak kreatif yang salah tempat menumpahkan kreatifitasnya tampak di seluruh tembok bangunan. Tempat yang lebih tepat dikatakan bangunan tak bertuan inilah saksi sejarah bagi pelaksanaan Sabha III PC KMHDI Konawe, 19 Mei 2013.

Acara perhelatan sekali dalam dua tahun ini tampak sepi. Hadir dalam pembukaan Bendesa adat desa Sendang Mulya Sari dan Mekar sari, Sekretaris PD KMHDI Sulawesi Tenggara bersama tiga orang kadernya. Kader PC KMHDI Konawe sendiri yang hadir bisa di hitung jari, yaitu sejumlah 10 orang. Hadir pula dalam acara tersebut Presidium Pimpinan pusat yang di daulat untuk membuka acara. Ketua PHDI Kabupaten Konawe yang sedianya akan hadir tidak ada kelihatan tanpa memberikan konfirmasi pada panitia.

Acara yang sedianya dilaksanakan pada pukul 08.00 Wita molor sampai pukul 09.45, dikarenakan menunggu kehadiran kader PC KMHDI Konawe yang punya gawe rutin ini tidak kunjung datang. Selain menunggu kedatangan kader, molornya acara ini juga dikarenakan menunggu beberapa tamu penting yang berhalangan hadir.

Ketua Panitia, Hery Susanto dalam laporannya menyampaikan permohonan maaf kepada segenap undangan yang hadir lebih dahulu daripada kader PC KMHDI Konawe yang punya perhelatan dan menunggu satu jam lebih. Berbagai kendala yang dihadapi oleh panitia terutama pendanaan tidak menyurutkan semangat untuk tetap melaksanakan Sabha tepat pada waktunya sebagai salah satu indikator organisasi yang dikatakan sehat. Selanjutnya Gede Wira Pratama selaku Ketua PC KMHDI Konawe menyampaikan pertanyaan yang cukup menggelitik, “akankah Hindu tetap ada 50 tahun ke depan?”. Pertanyaan yang dilontarkan Wira menjadi renungan tersendiri bagi segenap peserta dan jawabannya pun tersimpan dalam sanubari setiap peserta yang hadir.

Ketut Nata selaku Presidium PP KMHDI dalam sambutannya menyampaikan bahwasanya Hindu akan tetap ada atau hilang sama sekali 50 tahun ke depan jawabannya ada di tangan kader-kader yang mengatakan dirinya sebagai mahasiswa Hindu. “Hal ini bisa kita pandang sebagai peluang sekaligus tantangan. Dilihat sebagai peluang karena pikiran kritis untuk eksistensi Hindu sudah mulai menjalar di sebagian mahasiswa Hindu sebagai generasi penerus dengan tercetusnya pertanyaan seperti di atas. Kemudian dilihat sebagai tantangan tatkala bagaimana kita sebagai bagian dari Mahasiswa Hindu yang tergabung dalam KMHDI ini berjuang untuk menularkan virus pemikiran kritis untuk eksistensi Hindu tersebut kepada mahasiswa Hindu yang lain yang masih apatis. Terlihat dari molornya kegiatan ini serta masih banyaknya kursi yang kosong, membuktikan tantangan bagi kita semua yang mengatakan diri mahasiswa Hindu terutama yang ada di Konawe ini untuk mengajak mereka sama-sama berpikir tentang Hindu ke depan”.

Kehadiran kader yang dapat dihitung dengan jari tidak lantas mengurangi semangat peserta sidang. Ini terbukti dari serunya perdebatan dalam setiap pleno yang dilalui. Kuantitas bukan jaminan untuk kualitas memang terbukti. Jumlah yang sedikit bukan berarti kualitasnya rendah, namun sebaliknya. Orang yang berkualitas sesungguhnya jumlahnya tidak banyak. Gambaran itulah yang dapat saya lihat di PC KMHDI Konawe.

Sabha III PC KMHDI Konawe menghasilkan 6 keputusan dan 6 ketetapan. Salah satunya adalah ketetapan tentang ketua periode 2013-2015 yang sebelumnya didahului dengan proses pemilihan yang pelaksanaannya dibantu oleh tim formatur. Pada proses pengajuan bakal calon dari 7 orang terjaring 4 orang sebagai calon ketua atas nama Putu Wiyana, Hery Susanto, Agus Puji Astawan dan Ketut Artawan. Proses selanjutnya adalah fit and propertest yang menyatakan ke empat calon ketua tersebut lolos. Keseriusan dan wawasan ke empat calon ketua tersebut selanjutnya diuji oleh para peserta sidang dalam pemaparan visi dan misi. Keempat calon ketua terlihat tenang dalam meladeni setiap pertanyaan dari peserta sidang. Berhubung musyawarah untuk mufakat tidak membuahkan hasil, jalan terakhir yang ditempuh adalah voting untuk menentukan pilihan dalam session pemungutan suara. Dari keempat calon ketua suara terbanyak dikantongi oleh Hary Susanto dengan 12 suara, selanjutnya disusul oleh Agus Puji Astawan dengan 4 suara dan Ketut Artawan dengan perolehan 2 suara. Sementara Putu Wiana tidak mendapatkan suara. Sampai pada pemungutan suara ini peserta sidang yang menandatangani absen sejumlah 16 orang.

Penutupan dan sekaligus pelantikan pengurus baru dilaksanakan pada pukul 18.00 Wita dengan peserta yang masih tetap bertahan sejumlah 15 orang. Presidium menyampaikan dalam kata penutupannya bahwasanya kepercayaan yang sudah diterima sebagai pengurus hendaknya dijaga dengan jalan melaksanakan semua tanggung jawab sebagai pengurus dan tidak pernah lari dari tanggung jawab tersebut. Hyang Widhi merestui Karma Yoga ini.

Satyam Eva Jayate.

Komentar Anda