“Suara Kul-Kul” Seolah Menjadi Pembebasan Catur Brata Penyepian (Desa Karang Sari SUM-SEL)

Pada hari raya nyepi umat hindu diibaratkan kepompong yg sedang dalam proses metamorfosa, yang sekarang adalah kepompong yang tenang, diam, hening, menyatu dengan jiwa yang suci, menanti kesejukan udara. Merasakan sinar matahari yang menyinari seakan sinar suci sang hyang widhi hadir dalam air tanpa tepi, tenang, menyejukkan dan menggugah kedasar jiwa kita. Sehingga saat sudah menjadi kupu-kupu, kembali terbang menjelajah alam, hidup dengan menghisap madu pada sari bunga, tanpa keserakahan, keangkuhan dan keegoisan. Namun bukan hal diatas yang akan menjadi topikl pembahasan pada artikel ini, karena pembahasan mengenai makna dari perayaan Nyepi sudah menjadi hal yang sering dibahas, Mungkin dalam Dharma Wacana, diskusi ataupun sosialisasi keagamaan. Meskipun sebenarnya hal tersebut harus dipelajari secara konsisten.

Hal yang berhubungan dengan ide-ide kreatif dan berbau anyar justru mampu menjadi trending topic dalam kehidupan masyarakat. Untuk itu penulis berusaha menyajikan ide-ide kratif dan baru yaitu mengenai “Suara Kul-Kul” Seolah Menjadi Pembebasan Catur Brata Penyepian.

Kul-kul adalah sebuah benda yang mampu memberikan intruksi atau arahan tertentu kepada masyarakat yang berada pada suatu daerah tersebut. Banyak umat Hindu terutama Hindu Bali yang menggunakan kul-kul sebagai sebuah sarana untuk memberikan perintah ataupun arahan kepada warga disuatu daerah. Berbicara mengenai Nyepi, dalam perayaannya disetiap daerah memiliki khas tersendiri yang menjadi corak kearifan lokal Hindu Bali disetiap daerahnya masing-masing. Mungkin ada suatu daerah yang merayakan nyepi dengan puasa, berkumpul dan menyepi bersama keluarga dan lain sebagainya.

Dalam artikel ini, seperti post_title diatas mengenai suara kul-kul, tradisi ini terjadi di desa Karang Sari. Desa ini berada di perbatasan antara provinsi sematera selatan dengan lampung. Desa ini tergolong terpencil, sehingga tradisi-tradisi yang dilaksanakan disana merupakan hasil dari kesepakatan banjar Bali didaerah tersebut saja. perayaan nyepi didesa ini dirayakan dengan melakukan catur brata, dimulai pada pukul 06.00 WIB ditandai dengan bunyi kukul dibanjar. Seperti biasa suasananya sepi, tidak ada yang bepergian, tidak ada yang bekerja, pemadaman listrik dan tidak ada yang bepergian. Seolah daerah ini diam dari hiruk pikuk rutinitas setiap hari sebagai petani, pedagang, pelajar mapun juga ibu rumah tangga.

Sejak kecil saya maupun sebagian besar pembaca yang beragama hindu sudah terbiasa merayakan hari raya nyepi dengan upawasa/berpuasa, dilakukan turun temurun sehingga sudah menjadi hal yang wajib. Sama halnya dengan catur brata, yaitu amati geni, amati lelanguan, amati lelungan dan amati karya. Tetapi lain daerah lain pula tradisi warganya dalam merayakan hari raya nyepi, jika didaerah saya sudah terbiasa dengan tradisi berpuasa. Lain pula dengan tradisi didesa yang berada di kabupaten Ogan Komering Ulu ini. Didesa ini semua warganya tidak ada yang berpuasa, seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa desa ini tetap melaksanakan catur brata. Apakah jika tidak berpuasa seseorang bisa dikatakan tidak taat terhadap ajaran agama ? atau tidak. Karena puasa dalam ajaran agama Hindu bukanlah untuk mengumpulkan pahala kebaikan atau menghapus dosa, tetapi mendekatkan diri dengan Tuhan.

Kembali kepada suara kul-kul, tepat pukul 18.00 WIB, terdengar suara kul-kul untuk yang kedua kali pada hari nyepi. Menandakan bahwa warga bisa beraktivitas kembali, ibu-ibu memasak, anak-anak bermain, ada juga yang bermain, bepergian kemanapun yang mereka mau. Seolah suara kul-kul menjadi tanda pembebasan mereka dari catur brata penyepian, suara kul-kul juga menjadi suara yang ditunggu-tunggu warga di desa Karang Sari. Kemudian tetap pukul 19.00 WIB, catur brata penyepian dilanjutkan kembali. Bukankah dalam catur brata penyepian sesungguhnya tidak ada waktu jeda atau istirahat dalam menjalankannya untuk bekerja dan bersenang-senang ? lantas apa manfaatnya berpantang untuk bersenang-senang? bukankah semua orang ingin hidupnya senang ?. Ketika senang, energi didalam tubuh berlipat ganda, hal ini terjadi karena hormon insulin meningkat. Insulin membantu tubuh mengkonversi makanan menjadi energi bertambah, tanpa insulin, glucose dari makanan yang kita makan tidak mampu memasuki sel, dan glucose ini menumpuk didalam darah, mengakibatkan diabetes. Energi inilah yang sangat bermanfaat untuk mewujudkan hal-hal yang besar dalam hidup. Namun dalam hidup, senang sering menyebabkan ketidakharmonisan dalam hidup, misalnya: melakukan hobby, bila berlebihan bisa mengkorusikan waktu untuk kerja, tugas-tugas, bahkan untuk keluarga tercinta.

Sebaiknya di indahkan bahwa bukanlah berpatokan pada adanya suara kul-kul, seperti yang terjadi didesa Karang Sari lantas bisa menunda waktu untuk melakukan catur brata penyepian, karena makna penyepian sebenarnya adalah diam. Seperti ungkapan Master Sufi Rumi, hanya pada air yang tenang kita bisa melihat bayangan bulan yang bulat. Ketenangan (diam) mampu merefleksikan diri kita lebih terang. Sejelas bayangan bulan purnama pada air dalam tempayan yang tidak bergelombang. Dalam diam kita bisa melihat diri kita lebih jelas, apa yang telah kita lakukan, apa yang mejadi kelebihan dan kekurangan kita. Suara kul-kul memang sudah menjadi tradisi warga desa Karang Sari, menjadi keunikan tersendiri untuk desa Karang Sari dalam melakukan catur brata penyepian.

Digabungkan jadi satu, ternyata apa yang telah disepakati dan diwariskan leluhur, banyak sekali manfaatnya, asalkan sesuai jengan jaman ini, dan mampu dipahami lebih mendalam untuk mengetahui maknanya. Melakukan penyepian dapat menjadi waktu untuk instrospeksi diri. Persoalannya adalah, berpuasa atau tidak, paham atau tidak dengan ajaran agama, sungguh-sungguh atau tidak dalam melakukan catur brata itu, ataupun suara kul-kul yang ada didesa Karang Sari. Tetapi bagaimana kualitas “pikiran”, “ucapan” dan “tindakan” menjadi lebih baik atau buruk setelah menekuni berbagai jalan (catur brata) itu. Tiga komponen itulah yang menjadi parameter seseorang beragama atau tidak.

Biodata Penulis
Nama : Nikadek Siska Dwi Diantari
Tempat, tanggal lahir : Karang Agung, 19-03-1994
Jenis kelamin : Perempuan
Utusan : PD KMHDI SUMSEL
Nomor anggota : 2011120066
Alamat sekertariat : Pura Agung Sriwijaya, Jl Seduduk Putih No.19 Kenten Palembang
Perguruan tinggi : Universitas Sriwijaya
Alamat pergu : jl Palembang prabumulih KM 32 Indralaya
Fakultas/Jurusan : Fakultas Kedokteran/Pendidikan Dokter Umum
No induk mahasiswa : 04111401066
Handphone : 085838282238
Utusan : PD KMHDI SUM-SEL

Komentar Anda