PERAYAAN NYEPI SEBAGAI WUJUD PENGAMALAN NILAI-NILAI PANCASILA

Hari raya nyepi diperingati setiap tahun baru saka yaitu jatuh saat matahari berada di atas garis katulistiwa, dimana pada saat ini matahari, bulan, dan bumi berada pada satu garis lurus. Pada saat ini seluruh belahan bumi mendapat sinar yang sama. Meratanya bumi mendapat sinar matahari melambangkan keadilan, karena keadilan adalah cita-cita seluruh umat manusia.
Dalam memperingati perayaan nyepi satu tahun sekali,dilakukan berbagai rangkaian. Dimana setiap rangkaian acara ini memiliki makna sebagai wujud pengamalan nilai-nilai ideologi bangsa Indonesia yaitu pancasila.
1. Melasti atau Makiyis sebagai perwujudan sila ke-1 dan sila ke-2
Lontar Sang Hyang Aji Swamandala : Melasti ngarania ngiring prewatek Dewata anganyutaken laraning jagat papa klesa, letuhing bhuwana.
Artinya :Melasti adalah meningkatkan Sraddha dan Bhakti pada para Dewata manifestasi Tuhan Yang Maha Esa untuk menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa dan mencegah kerusakan alam
Dalam lontar Sundarigama : Manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata. Sementara Melasti dalam ajaran Hindu Bali berbunyi nganyudang malaning gumi ngamet Tirta Amerta atau menghanyutkan kekotoran alam menggunakan air kehidupan. Laut sebagai simbol sumberTirtha Amertha (Dewa Ruci, Pemuteran Mandaragiri).
Selain melakukan sembahyang, Melasti juga adalah hari pembersihan dan penyucian aneka benda sakral milik Pura (pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya) benda benda tersebut di usung dan diarak mengelilingi desa, ini bertujuan menyucikan desa, selanjutnya menuju samudra, laut, danau, sungai atau mata air lainnya yang dianggap suci.
Dapat kita tekankan bahwa melasti sebagai wujud pengamalan nilai Ketuhan Yang Maha Esa yaitu Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, dimana umat hindu sudah memiliki kepercayaan Hindu dengan dasar kitab suci Weda. Selain itu juga Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab dengan wujud berupa peningkatan Sraddha dan Bhakti kepada para Dewata sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa (Lontar Sang Hyang Aji Swamandala).

Selain pengamalan sila ke-1, sila ke-2 Kemanusian Yang Adil dan Beradap juga dipadat diamalkan yaitu pada saat melasti seluruh umat mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya, seluruhnya umat manusia dianggap sama dengan dibersihkan dan dihanyutkan segala kekotoran serta penderitaan dalam dirinya yaitu menggunakan tirta amertha.

2. Tawur sebagai perwujudan nilai sila ke-3 dan sila ke-5
Tawur adalah wujud dari penyucian lingkungan masyarakat dan alam semesta. Anganyut laraning jagat (menganyutkan/membuang penderitaan lingkungan masyarakat) dan anganyutaken letehing bhuwana (menghanyutkan/membuang kotoran alam semesta sehingga terjadi hubungan harmonis antara manusia dengan alam lingkungan, manusia dengan manusia, serta manusia dengan hyang whidi.

Sering kita jumpai didalam masyarakat melakukan tawur dengan berbagai sarana dan prasaran berupa caru, tetabuhan, dan tirta amertha. Bahkan ada sarana dan prasarana yang lebih besar lagi sesuai tingkatan wilayah, semakin besar tingkatan wilayah semakin besar dan banyak sarana dan prasarananya. Namun selain itu tidak kalah penting dalam memaknai tawur ini yaitu makna tawur itu sendiri yaitu menghanyutkan/membuang penderitaan lingkungan masyarakat serta kotoran alam semesta, pada zaman ini penderitaan lingkungan sangat banyak seperti kerusakan lingkungan karena pertambangan, penebang hutan liar, lingkungan pemakain narkoba, lingkungan PSK (pekerja seks komersial), dan lain lagi. Nah semua itu dapat kita bersihkan dengan upacara tawur, namun kalau kita tidak menghentikan serta memperbaiki segala macam jenis penderitaan atau kotoran masyarakat serta alam semesta ini maka makna tawur itu sendiri hanya sekedar pelaksana tanpa pencapaian sempurna. Namun jika kita melaksanakan tawur serta melaksanakan makna tawur itu maka kita juga dapat mewujudkan nilai pancasila ke-3 yaitu sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa dan mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa dan nilai pancasila sila ke-5 yaitu suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri dan suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial. Dengan menyadarkan satu orang untuk tidak memakai narkoba maka kita sama saja melaksanakan tawur dan mengamalakan nilai pancasila berupa mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa, memberikan pertolongan kepada orang lain,dan melakukan kegiatan untuk keadilan dan kesejahteraan sosila. Kalau semua umat saling menyadarkan untuk tidak memakai narkoba dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan baik merugikan dirinya sendiri, orang lain, maupun alam semesta ini, maka penderitaan lingkungan dan kotoran alam semesta ini dapat dihanyutkan.

3. Nyepi
Bhuana aguang dibersikan saat tawur, dan bhuana alit dibersihkan saat melasti. Maka tinggal jiwa (Atman) yang belum disucikan. Atman itu sendiri dapat disucikan dengan tapa, brata, yoga-semadhi.
No Pengendalian Pelaksanaan
1 Tapah Catur Brata penyepian :
1. Amati agni (tidak menyalakan api)
2. Amati karya (tidak bekerja)
3. Amati lalanguan (tidak menghibur diri : HP, TV, musik, dan lai-lain dimatikan
4. Amati lalungan (tidak berpergian)
2 Brata Puasa 24 jam ; bila perlu mona (tidak berbicara)
3 Yoga-semadhi Yoga
Semadhi

Dengan melaksanakan penyucian jiwa (atman), maka kita dapat mengamalkan nilai sila ke-1 yaitu takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai ritual ajaran Hindu yang sudah diatur dalam kitab suci weda. Selaian sila ke-1 kita juga dapat mengamalkan nilai sila-sila yang lain yaitu dengan kita melakukan pengendalian Tapah berupa Catur Brata penyepian secara langsung berdampak bagi seluruh alam semesta, lingkungan, serta keberlangsungan umat manusia atau bangsa. kalau kita hitung-hitung secara ekonomi 1×24 jam umat tidak menyalakan api, tidak menyalakan TV, tidak berpergian menggunakan kendaraan baik motor maupu mobil dan alat transfortasi lainya, tidak telphonan menggunakan HP atau Telphon rumah, tidak makan, dan aktivitas lain maka berapa rupiah uang yang tidak dikeluarkan?, kalau kita tidak membawa kendaraan maka berapa banyak umat yang kita selamati dari polusi udara?, kalau kita tidak berbicara maka berapa orang yang tidak kita sakiti karena perkataan yang tidak baik(Mada)?serta banyak lagi dampak positif yang dapat kita capai baik bagi keadilan, kesejahteraan, maupun ketentraman individu maupun seluruh umat atau bangsa.

Pada perayaan nyepi ini semua nilai-nilai dapat diamalakan, baik secara langsung maupun dalam jangka waktu yang panjang.
Nilai sila ke-1 dapat diwujudakan secara langsung dengan berbhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui ajaran Agama Hindu yaitu melaksanakan Nyepi, nilai sila ke-2 dapat kita amalakan dengan mengembangkan sikap tidak semena-sema terhadapt orang lain yaitu dengan tidak berpikir, berkata, maupun melakukan tindakan yang tidak baik. Nilai sila ke-3 dapat diamalkan dengan memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial yaitu dengan berpergian maka kita sudah dikatakan menjaga dan memelihara ketertiban dunia, dengan tidak berpikir, berkata, dan berbuat buruk maka kita juga menjaga perdamaian abadi serta keadilan sosial. Nilai sila ke-4 dapat diamalkan yaitu tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain. Nilai sila ke-5 yaitu tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.

Namun yang paling besar pengaruh dari Nyepi dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila yaitu pada saat nyepi kita mensucikan jiwa, jika jiwa sudah suci maka segala sesuatu yang berdampak buruk akan dapat dihilangkan. Dan kelima sila Pancasila akan dapat terealisasi dengan baik dan tidak akan ada lagi permasalahan bagi bangsa dan Negara.

4. DharmaSanti (Ngembak Agni) sebagai perwujudan nilai sila ke-2, sila ke-3, sila ke-4, dan sila ke-5
Dharmasanti (Silaturahmi) untuk upaksama (saling memaafkan) baik antar keluarga, masyarakat, dan tokoh-tokoh masyarakat atau pejabat, juga umat lain (non Hindu) untuk mengeratkan tali persaudaraan sebagai wujud toleransi antar sesama umat manusia (manusahita). Pada saat dharmasanti juga diadakan musyawarah guna merencanakan apa yang akan dilaksanakan kedepan bagi suatu kerajaan atau Negara kedepannya.
Dari penjabaran terkait dharma santi diatas jelas bahwa nilai sila ke-2 dan ke-5 dapat diamalakan yaitu seluruh umat atau bangsa dan pemimpin atau pejabat saling bertoleransi dan berkumpul sehingga kemanusian yang adil dan beradap serta keadilan sosial akan dapat dicapai. Nilai sila ke-3 dapat diamalkan dengan mengahadirkan semua umat baik hindu maupun non hindu serta pemimpin-pemimpin bangsa makan persatuan itu akan tercapai. Nilai sila ke-4 diamalkan dengan adanya musyawarah antar umat Hindu dengan umat Hindu, umat Hindu dengan umat lain dan antar umat dengan pemimpin atau pejabat sehingga tercipta interaksi dan hubungan yang baik kedepannya.
Oleh : I Made Suteja
Biodata Penulis

Nama : I Made Suteja
Tempat/Tanggal Lahir : Seputih Banyak, 18 Desember 1992
No. Anggota : 30910082
Alamat Kepengurusan : PC KMHDI Bandarlampung / Jl.Mawar Indah No.2 Labuhan
Dalam, Kedaton, Bandarlampung
Nomor KTP/KTM : 1802101812920001 / 1013022037
Nama dan Alamat Kampus : Universitas Lampung / Jl. Soemantri Brojonegoro No. 1
Gedungmeneng Bandarlampung
Nomor Hp : 085768722135

Komentar Anda