Pelangi di Balik Nyepi

Hari raya nyepi merupakan hari suci bagi umat Hindu sebagai pergantian tahun baru saka. Nyepi diidentikkan sebagai hari yang sunyi atau sepi. Sebenarnya ada makna yang lebih mendalam daripada itu, yaitu tenang secara lahir dan bathin untuk menyambut tahun baru berikutnya. Hari raya nyepi dilakukan melalui beberapa rangkaian kegiatan yaitu mekiyis (melasti), pecaruan (buta yadnya), pengerupukan, nyepi, dan ngembak geni. Pada hari raya nyepi kita wajib melakukan catur bratha penyepian yang terdiri dari:
a. Amati Geni, kita tidak menyalakan api. Maksudnya adalah kita harus mampu menahan atau mengendalikan segala bentuk amarah (akroda) dan hawa nafsu (kama) yang berasal dari dalam diri kita.
b. Amati Lelungan, kita tidak bepergian/keluar pekarangan rumah, tetapi pemusatan pikiran (yoga, samadhi) yang perlu kita lakukan untuk menenteramkan rohani.
c. Amati Lelanguan, kita tidak berpesta pora, menghindari makan, minum, dan sura (minuman keras). Upawasa/puasalah yang harus kita lakukan.
d. Amati Karya, kita tidak melakukan suatu pekerjaan/perbuatan yang mengganggu ketenteraman bathin.
Catur bratha penyepian bertujuan untuk mencapai Sattyam (keadilan dan kebenaran), Sivam (keluhuran dan kejayaan), Sundaram (ketenteraman dan keharmonisan). Kesucian pikiran (manacika) harus mampu kita jaga ketika melaksanakan nyepi karena pikiran menjadi pengendali manusia dalam menjalani kehidupan. Hal ini karena:
Pikiran menentukan perkataan
Perkataan menentukan perbuatan
Perbuatan menentukan karakter
Karakter menentukan masa depan

Ketika perayaaan nyepi kita hendaknya merenungkan segala dosa-dosa baik yang berasal dari pikiran, perkataan maupun perbuatan yang kita lakukan pada tahun-tahun silam. Kita harus melakukan introspeksi diri sehingga mampu mengubah hal-hal yang buruk manjadi lebih baik di hari-hari ke depannya. Nyepi merupakan hari yang keramat tetapi penuh anugerah. Mengapa? karena jika perayaan nyepi dilakukan dengan baik, maka dosa-dosa yang kita lakukan selama 6 bulan sebelumnya akan terkikis. Betapa bermaknanya perayaan nyepi ini. Namun, pada kenyataannya tidak banyak umat yang benar-benar mau memaknai perayaan nyepi yang datang setiap satu tahun sekali ini. Justru banyak umat yang memanfaatkan hari suci ini untuk bersenang-senang walaupun lingkungan umat sudah dijaga oleh pecalang. Banyak sekali yang melanggar aturan secara diam-diam.

Di kampung Restu Buana, Rumbia, Lampung Tengah misalnya, banyak kelompok bapak-bapak yang berkumpul di suatu tempat untuk berjudi, main ceki secara diam-diam. Ada juga kelompok pemuda berkumpul di salah satu rumah temannya untuk makan-makan/pesta pora, bahkan ada yang mabuk-mabukan. Beberapa pemuda ada yang pergi dari rumah sebelum hari raya nyepi agar bisa bermain/bersenang-senang di luar kampung sehingga tidak dipergok oleh pecalang. Ada juga anak-anak muda yang nekat keluar rumah dengan berkendara secara diam-diam dengan mencari kelengahan pecalang karena alasan bosan terkurung di rumah. Padahal tujuan dari adanya pecalang yang berkeliling di jalan adalah untuk penjagaan kampung agar umat bisa melaksanakan penyepian dengan tenang. Setiap umat yang diketahui melanggar aturan adat akan dikenai sanksi. Tetapi justru banyak umat yang mengumpat dan tidak menghiraukannya. Cara atau sikap seperti itu tidak akan mendatangkan anugerah apa-apa. Justru orang-orang yang berbuat adharma di hari suci seperti hari nyepi ini akan bertambah dosanya.

Di hari nyepi, jarang sekali orang tua yang mau berpuasa. Jangankan yang tua, yang muda saja banyak yang tidak melakukannya. Banyak orang tua yang beranggapan “biar yang muda saja yang berpuasa, yang tua sudah tidak perlu lagi”. Ini sungguh anggapan yang salah. Padahal, orang tualah yang seharusnya memberi contoh kepada anak-anaknya, terkhusus dalam hal spiritual karena karakter orang tua merupakan cermin karakter bagi anak-anaknya. Sungguh kecil sekali aplikasi ajaran agama oleh orang tua kepada anaknya. Hal ini karena mereka hanya memikirkan harta/pendapatan ekonomi saja demi kesejahteraan keluarga. Bagi mereka mengusahakan kesejahteraraan hidup sang anak lebih penting dengan cara memenuhi setiap kebutuhan atau keinginan sang anak sehingga mereka tidak kalah saing dengan yang lain. Padahal lebih daripada itu, penanaman nilai-nilai agama lebih penting sebagai pondasi untuk menjalani kehidupan di tengah-tengah keragaman umat manusia di Indonesia.

Nyepi seharusnya menjadi moment yang sakral. Umat manusialah yang menjadi pelakunya. Sepi tidak hanya diciptakan di lingkungan diri saja, tetapi juga pada sang diri itu sendiri. Jika sang diri sudah terjaga di hari yang suci ini, maka lingkungan pun akan ikut terjaga. Jika keduanya sudah terjaga, maka ketenangan dan kedamaian akan tercapai. Itulah makna dari nyepi. Perayaan nyepi mulai dari acara melasti sampai hari nyepi itu sendiri mencerminkan ritual dan budaya adat Hindu, khususnya di Indonesia.

Di daerah Bali, sehari sebelum nyepi selalu diadakan penggotongan ogoh-ogoh dengan maksud untuk mengusir roh-roh jahat sehingga umat hindu bisa melaksanakan nyepi dengan tenang. Ketika hari nyepi, jalan-jalan dijaga oleh pecalang, tidak ada orang atau kendaraan yang berlalu-lalang, baik dari umat hindunya ataupun umat agama yang lain. Ini artinya umat non hindu menghormati umat hindu yang sedang melaksanakan kegiatan keagamaan. Tidak hanya di Bali, beberapa daerah di Lampung seperti Rumbia, Seputih Banyak, Seputih Raman, Seputih Mataram, dan beberapa daerah Lampung yang dihuni oleh umat hindu juga demikian. Begitu juga di Palembang, Pekan Baru, dan Makasar juga melaksanakan rangkaian perayaan nyepi ini.

Di Bandarlampung, dua hari sebelum nyepi, yaitu pada hari Minggu, 10 Maret 2013 diadakan parade budaya nusantara dalam rangka memeriahkan hari raya imlek dan penyambutan nyepi. Beberapa budaya daerah dipertunjukkan seperti barongsai, ogoh-ogoh, reog ponorogo, delman, sepeda ontel, mersing band, pengantin adat Lampung, topeng monyet, jaipongan dan lainnnya. Ini merupakan cermin dari tri kerukunan umat beragama.

Parade budaya nusantara di lapangan Saburai, Bandarlampung

Kemudian sehari sebelum nyepi juga diadakan pecaruan sekaligus penggotongan ogoh-ogoh di sekitar bunderan gajah yang merupakan pusat pertiwi di Lampung. Jika suasana seperti itu dapat terus terjadi, maka akan tercipta kearifan lokal di Indonesia.

Pengarakan ogoh-ogoh di sekitar tugu adipura, Bunderan Gajah, Bandarlampung

Sebenarnya, perayaan nyepi tidak hanya berhenti di hari nyepi itu saja. Ngembak geni sering terlupakan oleh umat hindu karena merasa sudah terbebas dari bratha penyepian. Setiap umat hindu perlu ditekankan untuk melakukan ngembak geni pada keesokan hari setelah nyepi, dimana sesama umat saling kunjung-mengunjungi serta saling maaf memaafkan. Jika jalan ini dilakukan, maka akan timbul rasa hormat-menghormati, cinta kasih serta saling asah asih dan asuh. Rasa kekerabatan pun akan terjalin erat sehingga tercipta kedamaian dan keharmonisan dalam masyarakat. Hal ini akan mampu mengantarkan umat hindu menjadi umat yang bermartabat.

Oleh: Ni Wayan Nila SL

Biodata Penulis
Nama : Ni Wayan Nila Sri Lestari
Tempat/Tanggal Lahir : Restu Buana, 14 September 1992
No. Anggota : 30910083
Alamat Kepengurusan : PC KMHDI Bandarlampung / Jl.Mawar Indah No.2 Labuhan
Dalam, Kedaton, Bandarlampung
Nomor KTP/KTM : 1802095409920001 / 1013024048
Nama dan Alamat Kampus : Universitas Lampung / Jl. Soemantri Brojonegoro No. 1
Gedungmeneng Bandarlampung
Nomor Hp : 0856 5881 3874

Komentar Anda