Nyepi Sebagai Semen dalam Menyusun Bata-Bata Kultural Indonesia

Membiacarakan dan menyebut kata “Indonesia”, menyegarkan ingatan kita akan keberagaman yang tiada habisnya untuk dibicarakan. Indonesia adalah negara yang kaya akan agama, budaya, ras dan suku. Keberagaman Indonesia ini mampu menjadi sebuah kekayaan permanen negara yang tidak dapat diukur dengan hanya sekedar nilai mata uang , keberagaman Indonesia menjadi ciri khas negara yang mampu membuat medan magnet tersendiri bagi warga negara asing dari berbagai belahan dunia untuk menilik Indonesia, terlebih memiliki rasa bangga terhadap Indonesia. Dengan identitasnya sebagai negara multikultural , Indonesia mampu membangun ”rumah” Bhineka Tunggal Ika yang kokoh dan berpotensi menjadikan Indonesia sebagai negara “kaya” dan berintegritas serta kuat di mata dunia.
Dibalik keistimewaan Indonesia yang tak habis di urai, muncul sebuah tantangan besar bagi masyarakat untuk menciptakan sekaligus mempertahankan sikap solidaritas untuk menjaga hidup yang harmonis, mengingat banyaknya masyarakat Indonesia yang terjerat kedalam sisi negatif era globalisasi yang seolah menjadi trend, namun tanpa disadari mencetak manusia-manusia apatis. Hal seperti inilah yang mampu memecah keharmonisan hidup antar umat beragama di Indonesia.
Agama adalah bagian krusial atau yang sangat mendasar untuk dibahas. Menurut Dr. MA Amsal Bakhtiar dalam bukunya yang berpost_title Filsafat Agama, agama adalah suatu sistem kepercayaan kepada Tuhan yang di anut sekelompok manusia dengan selalu mengadakan interaksi dengan-Nya. Agama juga menjadi identitas spiritual dan keyakinan seseorang. Sebagai salah satu komponen keberagaman Indonesia, yang mana sudah diakui lebih dari 5 agama di Indonesia, agama bisa menjadi salah satu bagian yang mempersatukan bangsa dg menimbulkan suatu sikap toleransi yang tinggi. Karena pada hakikatnya, keberhasilan kita dalam menjaga sikap sesuai dg aturan agama, akan menuntun kita untuk pandai pula bersikap secara professional dibidang lain, untuk itu perlu adanya sebuah pemaknaan dan toleransi yang mendalam terhadap hal-hal kecil yang ada pada setiap agama di Indonesia
Nyepi , berbicara mengenai Hari Raya Nyepi, maka kaitannya sangat erat dengan catur brata penyepian yang secara tidak langsung bertolak belakang dengan aktivitas masyarakat pada umumnya. Catur Brata penyepian yang masing-masing adalah Amati Geni (tidak menyalakan api atau lampu), Amati Pekaryan (tidak melakukan suatu pekerjaan), Amati Lalanguan (tidak berhura-hura / bersenang- senang) dan Amati Lelungan (tidak berpergian). Jika tidak ada rasa toleransi dari umat non-Hindu maka pelaksanaan Nyepi tidak akan sesuai dengan catur brata penyepian yang ada, mengingat pada umumnya masyarakat non-Hindu tetap melaksanakan kegiatan seperti biasa misalnya bepergian, menggunakan kendaraan dan lain sebagainya. Untuk itu perlu adanya pemahaman-pemahaman mengenai agama dan keumatan, sehingga akan terciptanya hidup yang harmonis ditengah kulturalisme. Tetapi tidak seharusnya kita fokus terhadap penghambat, namun mulai mencari dan merealisasikan solusi. Walaupun secara teoritis seperti diungkapkan diatas, tetapi Perayaan Nyepi sekarang ini malah sudah menjadi alat sebagai ajang meningkatkan solidaritas.
Banyak hal yang terjadi menunjukkan bahwa Nyepi justru membangun rasa saling memiliki. Di Sumatera Selatan, setelah ritual nyepi, umat Hindu terutama dari unsur organisasi KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia) mengadakan simakrama (kunjungan silahturahmi), sejenis halal bihalal ke tempat tinggal umat Hindu yang lainnya. Hal yang menarik, simakrame ini melibatkan teman-teman dari Organisasi Kepemudaan (OKP) lain seperti Keluarga Mahasiswa Budhis Palembang (KMBP), Organisasi Persatuan Vegetarian, Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dll. Dalam acara puncak perayaan Nyepi yaitu Dharma Shanti di Palembang juga dihadiri dengan penuh sukacita oleh teman kita dari agama lain. Hal ini merupakan langkah nyata bahwa umat beragama di Palembang telah membangun miniatur toleransi dalam hidup kultural di Indonesia. Keharmonisan ini tidak hanya ditunjukkan oleh warga di Palembang saja, seperti di Bali, pada perayaan Nyepi tahun 2012 ormas Nahdatul Ulama (NU) mengambil keputusan yang sangat bijak mengingat bahwa perayaan Nyepi pada saat itu bertepatan dengan hari Jumat, dimana biasanya umat muslim melakukan ibadah shalat Jumat di Masjid, umat beragama muslim tetap diizinkan untuk melakukan ibadah shalat Jumat di Masjid. Tentunya dengan toleransi juga dari umat muslim yaitu, tidak menggunakan pengeras suara dan beribadah ke Masjid dengan berjalan kaki, tentunya agar mencari Masjid terdekat dari tempat tinggal masing-masing (dikutip dari tulisan H. A. Azwar, Jhon Rico, selasa, 12 maret 2013) . “Bahkan, pada saat Nyepi pun bukan persoalan bagi umat Islam karena justru bisa dimanfaatkan untuk ibadah di dalam rumah, seperti membaca Alquran,” kata Taufik dalam dialog yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Denpasar.
Jika fakta diatas menjelaskan mengenai jalinan silahturhami dalam merayakan Nyepi yang melibatkan umat non-Hindu, lain halnya yang terjadi di Jombang, Jawa Timur.
Toleransi umat non-Hindu sangat tinggi, meskipun mereka tidak melaksanakan secara tradisi namun mereka tetap menghormatinya. Salah seorang pemangku Pura, Mangku Sulistiyo, mengatakan “kerukunan umat beragama di daerah itu selalu terjaga. Warga yang tidak merayakan Nyepi memang mengurangi aktivitas di luar rumah. Itu sebabnya, meski di sini mayoritas warga tidak beragama Hindu, tetapi selama perayaan Nyepi berlangsung suasana desa lebih sepi,” ujarnya. Hari raya Nyepi secara spiritual memang dilaksanakan oleh umat Hindu, tapi secara kultural, hari raya nyepi adalah salah satu budaya Nasional Indonesia milik seluruh rakyat indonesia. Sudah semestinya seluruh umat beragama di Indonesia memiliki dan mempercayainya secara tradisi. Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa Nyepi bisa menjadi salah satu bagian dari miniatur multikultural Indonesia dalam menjaga keutuhan Bhineka Tunggal Ika. Jika fakta diatas sudah menguatkan kebenaran dari konsep Nyepi yang mampu menjadi pengikat multikulturalisme di Indonesia, apa alasan yang mampu membantah untuk itu? Dengan menyadari dan menerapkan, serta menjaga keberlangsungan berbagai program dan kegiatan terkait Perayaan Nyepi yang melibatkan berbagai umat, bukan tidak mungkin bahwa Nyepi benar-benar menjadi tinta yang menggoreskan penggalan kata bernama “persatuan” bagi seluruh umat beragama di Indonesia.

BIODATA PESERTA
Peserta 1
Nama : I Kadek Andre Nuaba
Tempat/Tgl Lahir : Karang Sari, 11 Januari 1994
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Utusan : PD KMHDI Sumatera Selatan
No. Anggota : 2011120052
Alamat Sekretariat: Pura Agung Sriwijaya, Jln. Seduduk Putih No. 19 Kenten Palembang
Perguruan Tinggi : Universitas Sriwijaya
Alamat Perguruan Tinggi : Jln. Palembang-Prabumulih KM. 32 Indralaya
Fakultas/Jurusan : Ilmu Komputer/Sistem Komputer
Nomor Induk Mahasiswa : 09111001046
Handphone: +628 56 6484 6308
e-mail : andre_ikan94@yahoo.co.id

Peserta 2
Nama : Ni Wayan Puspa Pandani
Tempat/Tgl Lahir : Air Saleh, 15 Juli 1992
Jenis Kelamin : Perempuan
Utusan : PD KMHDI Sumatera Selatan
No. Anggota : 2011120043
Alamat Sekretariat: Pura Agung Sriwijaya, Jln. Seduduk Putih No. 19 Kenten Palembang
Perguruan Tinggi : Universitas Sriwijaya
Alamat Perguruan Tinggi : Jln. Palembang-Prabumulih KM. 32 Indralaya
Fakultas/Jurusan : Kedokteran/Pendidikan Dokter Umum
Nomor Induk Mahasiswa : 04101401125
Handphone: +628 52 0818 3828
e-mail : wayancardiacaa@yahoo.com

Komentar Anda