Nyepi Atau Sekedar “Sepi”

 Nyepi Atau Sekedar “Sepi”

 

Di zaman penuh tuntutan ini, manusia seakan tidak mampu lepas dari berbagai aktifitas yang mengikatnya, entah itu urusan kantor, keluarga, politik, kebutuhan akan hiburan untuk memperoleh kesenangan dan lain sebagainya. Setiap harinya manusia seolah dipekerjakan oleh waktu dan kondisi untuk merealisasikan tuntutan tersebut, tuntutan yang tidak ingin bernego dan bersikeras untuk dipenuhi. Hal ini memunculkan kalimat bermakna konotasi yang menggelitik, dimana bukan lagi manusia yang mengatur waktunya, tapi waktu yang menguasai dan mengendalikan manusia.
Catur Brata Penyepian, bagian krusial dari serangkaian ritual Nyepi, sebagian besar umat Hindu menjadikannya sebagai hari intropeksi diri untuk berbenah di hari selanjutnya, memusatkan pikiran kepada Ida Shang Hyang Widi Wasa atau menjadi awalan tahun Saka dalam memperbaiki kualitas hidupnya. Hal yang menarik mulai muncul jika kita melihat sisi kehidupan lain dibalik pelaksanaan Catur Brata Penyepian, segelintir umat justru memberi “penampakan” aktivitas yang kontras,  penampakan yang berbeda dengan mereka yang mampu hening dan khusuk di hari raya Nyepi. Umat Hindu yang tergolong demikian, biasanya dituntut dengan lingkungan dan keadaan mereka, meskipun hari raya Nyepi sudah dijadikan hari libur nasional. Misalnya seorang dokter yang masih harus menangani pasien sehingga mereka tersudut pada kondisi tanpa pilihan, kondisi yang mengharuskannya tetap menjalani profesi dengan mengatasnamakan profesionalitas dan tanggung jawab. Ini merupakan suatu tuntutan mengikat yang mungkin dapat dimaklumi.
Mirisnya, hal serupa terjadi namun dengan penjelasan yang sedikit berbeda, dimana terjadi di salah satu desa yang berada di perbatasan antara Propinsi Sumatera Selatan dan Propinsi Lampung, tepatnya di Desa Kelurahan Karang Agung. Ketika tepat hari pelaksanaan Catur Brata Penyepian tiba, justru beberapa umat tetap bepergian ke rumah tetangga dan tetap bekerja di sawah secara diam-diam. Hipotesis alasan dibalik hal ini mungkin karena hari-hari mereka yang terbiasa sibuk dengan pekerjaan di sawah, ladang dan beternak, sehingga jika kemudian sehari saja mereka harus melaksanakan empat Brata Penyepian yang mengharuskan mereka berhenti dari rutinitas, mereka akan merasa tidak betah untuk berdiam diri. Pada akhirnya mereka memilih untuk mengobrol dengan teman-teman mereka untuk mengusir kejenuhan dengan cara keluar rumah secara diam-diam. Bahkan budaya meceki (berjudi) juga menjadi tradisi kebanyakan kaum pria di desa tersebut ketika berlangsungnya pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Berikut ini adalah potongan percakapan penulis dengan salah satu umat yang merencanakan untuk meceki.
(sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia)
Penulis: “Sekarang rame dengan ogoh-ogoh, besok seketika sepi desanya”
Pemuda : “beh… lebih baik meceki besok, di Mulatok (desa sebelah:red), disana rame”
Penulis: “Gimana tah, Nyepi kok malah meceki?
Pemuda: “Dari pada di rumah nggak ada kerjaan, kan enakan gitu”
Percakapan singkat diatas cukup mencerminkan bahwa ada saja umat di desa tersebut memaknai Nyepi hanya sebagai hari ‘sepi’, hari dimana yang penting desa terlihat lebih sepi dari sebelumnya, namun dibaliknya mereka tetap beraktifitas dengan diam-diam. Maka esensi Nyepi lengkap dengan Catur Brata Penyepian dibenak mereka masih hanya sebatas pengetahuan agama saja, paradigma mereka belum sampai ke arah untuk menerapkan secara sadar dan menjaga kesakralan Nyepi. Semua nampak seolah Nyepi yang penting hanya sepi.
Dibalik fakta-fakta kecil yang terjadi dalam kuantitas besar seperti yang dipaparkan diatas, secara penuh bukanlah menjadi kesalahan mereka. Sosialisasi sangat dibutuhkan bagi mereka, sosialisasi utuh dan sistematis mulai dari pengenalan lebih dalam guna memberi definisi yang benar mengenai Nyepi dalam paradigma mereka. Rasanya sudah seharusnya organisasi-orgasisasi keumatan terjun langsung menjangkau hingga ke wilayah daerah terpencil untuk merealisasikan rencana sosialisasi tersebut. Karena ternyata, dibalik khusuk dan heningnya perayaan Nyepi di beberapa wilayah lain, masih saja ada desa-desa terpencil yang belum memiliki pemahaman benar mengenai Nyepi serta Catur Brata Penyepian.
Sebagai salah satu organisasi berbasis Hindu, Pimpinan Daerah Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Sumatera Selatan (PD KMHDI Sum-Sel) menjalani perannya sebagai bagian dari organisasi yang turut membantu meminimalisasi disorientasi pengetahuan mengenai Nyepi. Meskipun dalam kapasitasnya, hal ini bukan sepenuhnya porsi KMHDI, tetapi sebagai generasi penerus Hindu yang di wadahi dengan wadah organisasi yang mengedepankan kaderisasi sudah seharusnya peduli terhadap masa depan Hindu. Tidak hanya itu, dalam Jati Diri KMHDI juga dijelaskan mengenai “religiusitas” artinya proses kaderisasi di dalam KMHDI juga untuk kepentingan nilai-nilai agama. Dalam hal ini, kepedulian PD KMHDI Sum-Sel terlihat pada kunjungan atau sosialisasi yang telah dilakukkan ke desa-desa yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. Program ini sudah dilakukan kurang lebih ke-28 desa yang ada di Sumatera Selatan. Hal ini bukanlah semata menjadi ajang untuk meningkatkan eksistensi PD KMHDI Sum-Sel di mata masyarakat, namun merupakan bentuk tindakan nyata dalam merealisasikan konsep religius yang di kedepankan. Seperti yang terjadi di kelurahan Karang Agung diatas, ini merupakan menjadi PR baru bagi PD KMHDI Sum-Sel untuk selalu memberikan sosialisasi atau pengetahuan tentang Nyepi kepada mereka.

BIODATA PESERTA

Peserta 1

Nama : I Kadek Andre Nuaba

Tempat/Tgl Lahir :  Karang Sari, 11 Januari 1994

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Utusan : PD KMHDI Sumatera Selatan

No. Anggota : 2011120052

Alamat Sekretariat: Pura Agung Sriwijaya, Jln. Seduduk Putih No. 19 Kenten Palembang

Perguruan Tinggi : Universitas Sriwijaya

Alamat Perguruan Tinggi : Jln. Palembang-Prabumulih KM. 32 Indralaya

Fakultas/Jurusan : Ilmu Komputer/Sistem Komputer

Nomor Induk Mahasiswa : 09111001046

Handphone: +628 56 6484 6308

e-mail : andre_ikan94@yahoo.co.id

 

Peserta 2

Nama : Ni Wayan Puspa Pandani

Tempat/Tgl Lahir :  Air Saleh, 15 Juli 1992

Jenis Kelamin : Perempuan

Utusan : PD KMHDI Sumatera Selatan

No. Anggota : 2011120043

Alamat Sekretariat: Pura Agung Sriwijaya, Jln. Seduduk Putih No. 19 Kenten Palembang

Perguruan Tinggi : Universitas Sriwijaya

Alamat Perguruan Tinggi : Jln. Palembang-Prabumulih KM. 32 Indralaya

Fakultas/Jurusan : Kedokteran/Pendidikan Dokter Umum

Nomor Induk Mahasiswa : 04101401125

Handphone: +628 52 0818 3828

e-mail : wayancardiacaa@yahoo.com

 

Komentar Anda