Nyepi Adalah Langkah Penyelamatan Lingkungan Hingga Menciptakan Kedamaian Bhuana Alit

Nyepi merupakan salah satu hari raya umat Hindu berdasarkan penanggalan atau kalender caka yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Dalam perayaannya, nyepi dirayakan setiap tahun baru caka yang jatuh dalam hitungan Tilem Kesanga (bulan mati yang ke-9). Kata nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap), yang kemudian diimplementasikan oleh umat Hindu dengan cara mencari kesunyian. Pada dasarnya tujuan utama dalam hari raya nyepi adalah untuk memohon ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia atau microcosmos) dan Bhuana Agung (alam semesta atau macrocosmos).
Sebelum umat Hindu melaksanakan nyepi, beberapa rangkaian upacara harus ditempuh oleh umat Hindu yang khususnya ada di daerah Bali, yakni pertama melakukan upacara melasti, bhuta yadnya, catur brata penyepian, dan upacara ngembak geni.
Untuk upacara melasti umat Hindu melaksanakannya mulai dari tiga atau dua hari sebelum hari raya nyepi berlangsung. Melasti berasal dari kata lasti yang berarti mata air, dan fungsi melasti yakni untuk menyucikan bhuana agung dan bhuana alit. Namun kalau mengacu pada lontar Sundari Gama upacara melasti dimaknai dengan menghanyutkan kotoran yang disimbulkan berupa menghanyutkan tanah pekarangan dan tanah prahyangan (tempat suci) ke mata air seperti sungai, danau, ataupun laut. Karena tanah yang dihanyutkan merupakan simbol dari kekotoran bumi. Sedangkan kalau mengacu pada lontar Sang Hyang Aji Sue Menala, melasti dapat dimaknai dengan mengambil air suci atau amerta yang dilakukan oleh para dewa yang digunakan untuk menyucikan bhuana alit dan bhuana agung, termasuk dalam penyucian ini seluruh prasarana upacara disucikan lewat tirta amerta tersebut (Wilasa, 2013).
Selanjutnya sehari sebelum nyepi yaitu pada tilem kesanga, kembali umat Hindu melaksanakan upacara bhuta yadnya (pecaruan kesanga) di masing-masing wilayah seperti perumahan, di catus pata (perempatan agung) banjar, catus pata desa, catus pata kecamatan, catus pata kabupaten, hingga catus pata provinsi. Tawur (pecaruan) merupakan tahap penyucian dengan mempersembahkan berbagai saji yang terbuat dari bahan yang ada di alam semesta ini, seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, hingga hasil panen pertanian dan perkebunan dengan tujuan menghilangkan kekotoran yang ada di bumi dan memohon supaya bhuta kala (roh jahat yang ada di setiap waktu) tidak mengganggu kehidupan di bumi.
Ketika prosesi upacara melasti dan bhuta yadnya sudah dilakukan, setelah itu umat Hindu melaksanakan hari raya nyepi. Dalam nyepi ini umat Hindu menghentikan berbagai aktivitasnya dengan melaksanakan catur brata penyepian yang terdiri dari amati geni (tidak menggunakan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Dalam nyepi umat melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi dengan tujuan untuk menghilangkan diri dari sifat danawa (sifat keraksasaan) menjadi madawa (sifat kedewataan).
Setelah hari nyepi usai, rangkaian perayaan tahun baru caka ini diakhiri dengan hari ngembak geni (mulai menghidupkan cahaya atau api). Dalam ngembak geni umat Hindu se-dharma melakukan kegiatan dharma shanti (melakukan kebenaran untuk kedamaian) dengan keluarga besar dan tetangga, serta saling maaf-memaafkan antara satu dengan yang lainnya.
Dari berbagai berbagai upacara yang dilakukan umat Hindu, konsep nyepi memiliki nilai-nilai positif terhadap kelangsungan hidup bhuana alit dan bhuana agung dalam upaya menyelamatkan lingkungan hingga menciptakan kedamaian. Contoh saja mulai dari bhuana alit, dimana upacara nyepi yang diawali dari upacara melasti, bhuta yadnya, catur brata penyepian, hingga upacara ngembak geni merupakan wujud dari langkah penyucian lahir dan bathin dalam diri manusia dan langkah untuk menciptakan hubungan harmonis atau kedamaian antar sesama, dengan cara bermaaf-maafan dengan keluarga maupun tetangga.
Begitu juga dari bhuana agung, umat Hindu sangat berperan dalam upaya penyelamatan alam, kebersihan udara, dan pengendalian pencemaran lingkungan hidup. Karena selama nyepi umat Hindu menghentikan aktivitasnya selama 24 jam dengan cara melakukan catur brata. Jadi boleh juga dikatakan konsep nyepi ini sangat sejalan dengan target Bali sebagai provinsi yang bersih dan hijau (clean and green), sehingga memberikan kesempatan bagi alam untuk melakukan rehabilitasi. Selain itu, umat Hindu sudah memberikan kepada bumi sehari atau 24 jam untuk lebih bernafas bebas tanpa dicampuri oleh polusi seperti CO2 dan zat-zat kimia lainnya.
Berdasarkan hasil penelitian di pelabuhan dan juga di Bandara Ngurah Rai yang dilakukan oleh Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim, dimana pelaksanaan nyepi tahun baru caka 1935 mampu mengurangi emisi dari sektor transportasi laut dan udara yang mencapai 20.000 ton perharinya (Fajar Bali, Sabtu, 9 Maret 2013).
Lebih-lebih peringatan nyepi juga mampu menekan konsumsi listrik serta menghemat penggunaan bahan bakar solar. Karena pembangkit yang biasanya memasok produksi listrik tidak digunakan secara maksimal. Dalam nyepi tahun ini, konsumsi listrik di Bali berkurang hingga 60 persen dibandingkan hari biasanya. Penghematan listrik saat nyepi juga bisa diperkirakan mencapai 290 MW atau senilai sekitar Rp. 4 miliar bila dirupiahkan.
Dari data PLN Bali, saat perayaan nyepi tahun 2011 beban puncak subsistem Bali pada pukul 17.00 wita hanya 284,5 MW dari hari biasanya beban puncak mencapai 540 MW dari daya seluruhnya 610. Sedangkan nyepi pada tahun 2012 beban puncak pukul 18.00 wita sebesar 322,2 MW. Kalau nyepi tahun 2013 konsumsi listrik saat beban puncak sekitar 375 hingga 400 MW.
Maka pelaksanaan nyepi sudah memberikan bukti nyata dalam upaya penyelamatan lingkungan hingga bisa menciptakan kedamaian antara bhuana alit dan bhuana agung dan ini juga tidak lepas dari konsep Tri Hita Karana yang ada di Bali.

oleh :

I Ketut Bagus Arjana Wira Putra,S.S.
Ketua PC KMHDI Badung

Komentar Anda