Maknai Nyepi ; membangun Indonesia yang bermartabat “

Sejarah mencatat, pertikaian dan peperangan antar suku yang berkepanjangan terjadi di india pada awal abad Masehi (1935 tahun lalu), karena perbedaan keyakinan dan kedaerahan, sampai akhirnya Raja Kanista naik tahta atas keberhasilanya dalam meredakan konflik, hari penobatannya yang jatuh pada tilem sasih bulan kesembilan (sanga), sekitar bulan maret-april dijadikan penanggalan baru yaitu tahun baru saka yang seterusnya diperingati didaerah-daerah kekuasaannya sampai menyebar ke nusantara dan akhirnya ke Bali yang memerintah melakukan empat janji/ kewajiban yang disebut Catur Brata Penyepian.
Bangsa Indonesia yang besar dengan budaya luhurnya, akhir-akhir ini tengah mengalami degradasi nilai kemanusiaan dalam penampilan yang menyangkut SARA. Beberapa kasus SARA yang telah memuncak menjadi kerusuhan social dapat kita cermati diantaranya kasus Situbondo, Rengasdengklok, Banyuwangi, Napal Lampung dan terakhir di Balinuraga serta Sumbawa dan masih banyak tempat lain yang bergejolak merupakan kondisi yang sangat memprihatinkan. Kejadian – kejadian itu sangat merugikan kehidupan bersama baik material maupun nyawa dan berakibat langsung bagi kestabilan nasional. Tentu hal ini dalam membangun Indonesia yang bermartabat idiealya sesuai pembukaan UUD 1945 agar mandiri, maju, sejahtera dan berkeadilan.
Mengapa kemudian terjadi konflik Sara ? salah satu jawabanya adalah muncul kepentingan politik sesaat yang terkadang ramai mementingkan kepentingan golongan, cenderung sifat kita keluar diri tanpa mau intropeksi diri. Dalam momen Nyepi ini seseorang idiealnya tidak selalu keluar sifat demikian yang tidak akan mencapai ketenangan dan kedamaian, tetapi justru kedalam diri manusia yang murni akan ditemukan kesadaran untuk kita adalah satu, karena atman bersumber dari satu sumber yaitu Brahman, maka orang lainpun berasal dari Tuhan “ Vasudaiwa khutumbhakam” semua manusia adalah bersaudara, serta Hindu memiliki konsep eadaran yang disebut “Tat Tvam Asi” artinya saya adalah kamu, kamu adalah saya, yang pada hakikatnya jika kita menyakiti orang lain sama seperti menyakiti diri sendiri, begitu pula sebaliknya apabila kasih pada semua mahkluk hidup sama artinya mengasihi diri sendiri. Sebagai warga Negara yang sadar bahwa Indonesia adalah sebuah kata yang mengandung kehidupan komplek, baik dalam khasanah hidup individu dan sosialnya maupun kehidupan integral antar manusia, dengan aspek kerohanian yang terkandung didalamnya, yang harus diperjuangkan yaitu satu cita-cita nasional. Untuk menyadari ini dengan diam (nyepi) akan menemukan kesadaran diri, tanpa Nyepi pasti kita akan ramai diri kita masing-masing menyuarakan kepentingan pribadi diatas kepentingan umum. Oleh karena martabat bangsa itu akan dapat diperoleh jika bersatu, saling menghargai untuk membangun dengan wawasan kemanusiaan. Martabat merupakan harga diri bangsa. Apa mana Nyepi sesungguhnya untuk membangun Indonesia yang bermartabat ? mari kita lihat !
Nyepi berasal dari kata “sepi”,”sipeng” yang berarti sepi, hening, sunyi, senyap. Seperti namanya perayaan tahun baru Caka bagi umat Hindu di Indonesia ini dirayakan sangat berbeda dengan perayaan tahun baru lainnya, dimana perayaan umumnya identik dengan gemerlapnya pesta, kemeriahan, euphoria, dan hura-hura tetapi umat Hindu dalam merayakan Nyepi malah dilaksanakan dengan menyepi “ sepi”,hening”sunyi”,”senyap. Mungkin pertanyaan muncul di benak kita, mengapa perayaan tahun Caka tidak dilaksanakan dengan ramai dan pesta seperti perayaan tahun baru pada umumnya ? inilah merupakan cermin kebijaksanaan dan kejeniusan leluhur kita, dimana seperti pada perayaan hari raya Siwaratri, leluhur kita selalu menekankan kita tentang konsep “ Mulat Sarira” Perayaan dalam hening dan sepi agar kita belajar (intropeksi atau kembali ke jati diri) dengan merenung, meditasi, evaluasi diri dan bertanya tentang diri kita, siapa kita? Mengapa kita disini? Akan kemanakah kita nanti setelah meninggal dunia? Selama setahun ini apakah kesalahan yang perlu kita perbaiki ? di dalam rangkaian hari raya Nyepi sebenarnya terkandung makna yang mendalam tentang apa yang sangat dibutuhkan oleh umat manusia selama ini. Apa sesungguhnya hal yang sangat kita perlukan di saat beban hidup semakin berat, kehidupan semakin keras, belum lagi dihantui oleh tindakan kriminal, bencana alam dan aneka kejadian yang akan semakin mengguncangkan jiwa. Maka yang paling kita butuhkan adalah kedamaian. Rangkaian hari raya Nyepi yang dimulai dari Mekiis, Tawur atau Ngerupuk, Nyepi, Ngembak Geni dan Dharma Santi sebenarnya adalah rangkaian penuh makna untuk mencapai kedamaian tersebut.
Pertama, Mekiis atau melasti.
Melasti berasal dari kata “ Malas” artinya kotoran atau leteh sedangkan asti artinya membuang atau memusnahkan. Melasti merupakan rangkaian upacara Nyepi yang bertujuan untuk membersihkan segala kotoran badan dan pikiran (buana alit) dan juga alat upacara (buana agung) serta memohon air suci kehidupan (tirta amerta) bagi kesejahteraan manusia. Pelaksanaan Melasti ini biasanya dilakukan dengan membawa Arca, Pretime, barong yang merupakan simbolis untuk memuja manifestasi Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) diarak oleh umat menuju Laut atau sumber air untuk memohon pembersihan dan tirta amerta (air suci kehidupan). Seperti dinyatakan dalam Rg Weda II.35.3 “ Apam na patam paritasthur apah” yang artinya “ air yang berasal dari mata air dan laut mempunyai kekuatan untuk menyucikan. Selesai melasti Pretime, Arca dan Sesuhunan Barong biasanya dilinggihkan di Bale Agung ( pura desa) untuk memberkati umat .
Secara umum melasti itu kita artikan sebagai proses memohon tirta amerta untuk kesejahteraan semesta. Namun disamping itu, terdapat sebuah pemaknaan yang berhubungan dengan proses mencapai kedamaian. Saat kita dipantai, maka yang pertama kita lihat adalah deburan ombak, laut biru yang tenang dan garis cakrawala nyang luas membentang. Hal tersebut seakan berbicara kepada kita “ wahai engkau umat manusia, sudahkah kewajibanmu untuk belajar agama janganlah setengah-setengah, janganlah mempelajari pinggirannya. Jika engkau hanya belajar dipinggirannya, maka engkau tak ubahnya seperti ombak di pinggiran pantai itu “, orang yang bagaikan ombak di pinggiran pantai yang bicaranya selalu besar, merasa paling hebat, selalu ingin menguasai daratan serta jiwanya bergemuruh dan tidak tenang.
Bagaimanakah seharusnya seseorang mempelajari agama? Laut yang biru kembali berkata,” pelajarilah hingga kedalam, selamilah hingga kedasarnya, maka engkau akan mendapatkan ketenangan dan sekaligus kekuatan yang maha dasyat “ saat kita memandangi birunya laut, maka airnya sungguh tenang, jernih dan memikat. Begitupula dengan orang yang telah mendalami ajaran agama hidupnya akan tenang, pikirannya akan jernih dan hidupnya pun akan penuh dengan keindahan yang menawan. Bentangan cakrawala dilaut seakan berkata pada kita untuk membuka wawasan dan pikira kita seluas-luasnya bagi lautan yang tak bertepi. Jadi makna dari proses melasti adalah jalan pertama yang harus kita tempuh untuk menuju kedamaian tersebut.
Kedua, Tawur Agung atau Pengerupukan
Tawur Agung dilaksanakan sehari menjelang Nyepi yang jatuh tepat pada Tilem sasih Kesanga. Pecaruan atau Tawur dilaksanakan di catuspata pada waktu tepat tengah hari. Filosofi tawur artinya membayar atau mengembalikan, apa yang dibayar dan dikembalikan? Adalah sisa-sisa alam yang telah dihisap atau digunakan manusia. Sehingga terjadi keseimbangan maka sari-sari alam itu dikembalikan dengan upacara Tawur / Pencaruan Agung dipersembahkan kepada Bhuta, agar tidak menggangu manusia melainkan bisa hidup secara harmonis (bhuta somya). Filosofi tawur dilaksanakan di catuspata ( perempatan jalan) menurut Peranda Made Gunung agar kita selalu menempatkan diri ditengah artinya selalu ingat akan posisi kita, daan perempatan merupakan lambang tapak dara lambang keseimbangan agar kita selalu menjaga keseimbangan dengan atas ( Tuhan), bawah ( alam lingkungan), kiri kanan (sesama manusia). Setelah tawur pada catus pada diikuti oleh upacara pengerupukan yaitu menyebar – bnyebar nasi tawur, mengobori – obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburiu rumah dan pekarangan dengan mesiu serta memukul benda- benda yang biasanya kentongan hingga bersuara ramai/gaduh. Pada malam pengerupukan ini, di Bali biasanya tiap desa dimeriahkan dengan adanya ogoh=ogoh yang diarak keliling desa disertai dengan berbagai suara mulai dari kulkul, petasan dan juga “keplug-keplugan” yaitu sebuah bom khas Bali yang mengeluarkan sura keras dan menggelegar seperti suara Bom yang dihasilkan dari proses gas dari karbit dan air yang dibakar, ini semua bermakna bahwa seluruh roh-roh jahat yang ada sudah diusir dan dimusnahkan saat hari Raya Nyepi.
Ketiga, Nyepi
Jatuh pada penanggal Apisan sasih Kedasa. Perayaan nyepi tahun Caka 1935 masih relevan dalam kehidupan sekarang. Kehidupan dizaman kali (kaliyuga) dimana daya tarik dan pengaruh materi sangat kuat, cenderung orang lebih mengejar materi daripada spiritual. Melalui Nyepi, jika dilakukan seluruh dunia, polusi akan berkurang dan udara akan menjadi lebih bersih. Kehidupan modern sering mendorong orang menjadi stres oleh beban hidup yang berat. Nyepi ini dapat sedikit merelaksasi pikiran dan mengurangi beban batin. Cukup banyak sloka yang menyebut tentang tapa brata antaralain : Atharwaveda XII.I.I mengatakan : Satyam bradrtam vyram diksa, tapo brahma yadnya prthiwim dharayanti artinya sesungguhnya Satya (kebenaran), Rta (hukum alam), Diksa (pensucian), Tapa (pengekangan indria), Brahma (doa) dan yajna (Korban suci) yang menyangga dunia.Yajur Veda XX.25 mengatakan : dengan melakukan tapa (brata) seseorang memperoleh Diksa (pensucian), dengan melakukan diksa seseorang memperoleh daksina, dengan daksina seseorang memperoleh sraddha dan dengan sraddha seseorang memperoleh Satya. Selain itu Atharwa Weda VIII.9.3 mengatakan : Brahma-enad vidyat tapasa vispacit artinya orang yang bijaksana mengetahui Hyang Widhi dengan sarana Tapa ( penebusan dosa) serta Atharwa Weda IV.II.6 mengatakan : Yena devah svar aruruhur, hitva sariram amrtasya nabhim, tena gesma sukrtasya lokam, gharmasya vratena tapasaya sasyavah artinya dengan pertolongan Hyang Widhi, orang-orang bijaksana sesudah kematian memperoleh keselamatan, yang mencapai pusat nektar atau minuman dewa yakni kebahagiaan sejati. Semoga kami yang berkeinginan melalui pelaksanaan pertapaan yang keras dan menjalankan janji (brata).
Umat hindu merayakan Nyepi selama 24 jam dari matahari terbit (jam 6 pagi) sampai jam 6 pagi besoknya. Umat Hindu diharapkan bisa melaksanakan Catur Brata Penyepian yang menjadi larangan dan harus dijalankan sebagai berikut :
1. Amati Karya: tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani.
2. Amati Geni : tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu.
3. Amati lelungan : tidak berpergian melainkan mawas diri, sejenak merenung diri tentang segala sesuatu yang kita lakukan saat kemarin, hari ini9 dan yang akan datang.
4. Amati Lelanguan : tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusatan atau meditasi.
Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari raya Nyepi sangat dilarang untuk menyalakan api maupun apai nafsu yang ada padfa diri manusia dan sejenisnya, seperti makna terdalam dari Catur Brata Penyepian diatas. Karena orang yang paham akan hakikat Tatwa agama agar melaksanakan samadi, tapa dan yoga untuk mencapain alam sunya atau sunyi. Nyepi merupakan salah satu contoh beragama dengan Niwerti Marga yang artinya beragama dengan cara berbenah diri. Dalam penerapan catur brata penyepian ini umat manusia sudah sepatutnya pula menumbuhkembangkan Catur Paramita Dan Tri Pararta setelah pelaksanaan Brata Nyepi ini, diantaranya : Maitri (sikap persahabatan), Karuna (cintakasih), Mudita (selalu gembira), dan Upeksa (tidak suka mencampuri urusan orang lain) sementara Tripararta meliputi Asih (selalu memberi pertolongan), Punia (danapunia) dan Bhakti cinta kasih yang mendalam.
Keempat, Ngembak Geni
Upacara hari Ngembak Geni berlangsung setelah hari raya Nyepi berakhirnya Brata Nyepi. Pada esok harinya dipergunakan melaksanakan Dharmasanti, saling berkunjung dan maf-memaafkan sehingga umat Hindu Khususnya Bisa memulai Tahun baru Caka dengan Hal baru yang positif, baik dilingkungan keluarga maupun dimasyarakat, sehingga terbinanya kerukunan dan perdamaian yang abadi menurut tradisi. Pada hari Nyepi ini semua orang tinggal dirumah untuk melakukan puasa, meditasi dan bersembahyang serta intropeksi diri dengan meyimpulkan menilai kualitas pribadi diri sendiri. Menurut Ida Perande Gunung di Ngembak Geni ini setelah kita mendalami agama dan memaknainya, membuka wawasan serta memposisikan diri seimbang, maka barulah kita bisa mendapatkan kedamaian (santi) yang dilandasi atas dharma, maka dari itulah rangkaian terakhir dari hari raya Nyepi adalah Dharmasanti. Dharmasanti adalah puncak dari rangkaian hari raya nyepi tersebut.
Dengan ulasan tersebut diatas maka seluruh umat Hindu idealnya memaknai lebih secara mendalam rangkaian hari raya Nyepi tersebut maka akan tumbuh kesadaran untuk selalu memperdalam agama, membuka wawasan pikiran, hidup dalam keseimbangan lahir dan bathin, selalu intropeksi diri agar tercapainya kedamaian dalam diri. Memaknai Nyepi hendaknya tidak setahun sekali, alangkah indahnya jika kita bisa memaknai dan melaksanakan nilai-nilai suci dan kedamaian Nyepi dalam Kehidupan Sehari-hari, Nyepi ini dititik beratkan pada pendalaman oleh masing-masing individu, jika setiap orang sudah santi maka masyarakat juka akan diliputi kedamaian atau santi.
Dalam kaitannya membangun Indonesia yang lebih bermartabat tentu nilai- nilai Nyepi tersebut diatas dapat dipraktekan oleh umat hindu sebagi warga negara yang sangatnberperan dalam memperkokoh rasa kebangsaan terhadfap kelanjutan bangsa menginggat kejadian- kejadia Kasus yang melibatkan SARA, Korupsi,Kolusi Nepotisme yang semakin merajalela yang tidak menjunjung Pri kemanusiaan dan kesatuan tentu menganggu stabilitas negara indonesia yang mengakibatkan perpecahan, konflik dan sulit mencapai keadilan serta kedamaian. Maka perlulah sebagai generasi muda Hindu memperjuangkan 4 pilar kebangsaan seperti :
1. UUD 1945
2. Pancasila
3. Bhineka Tunggal Ika
4. NKRI
Konsep kebangsaan indonesia yang diuraikan diatas dalam memasuki masa depan dalam mewujudkan cita-cita bangsa indonesia, maka dari itu idiealnya kemauan bersama dari seluruh elemen bangsa dengan faktor-faktor pendukungnya yang dominan, seperti sejarah, bahasa, suku bangsa, wilayah, agama sudah harus bersatu. Faktor-faktor baru sesuai perkembangan dunia internasional sudah harus ditambahkan, seperti keadilan sosial dan pemerataan, baik untuk semua warga negara maupun antardaerah, termasuk pemerataan alikasi sumber daya alam dan sumberdaya manusia, keterbukaan dan demokratisasi termasuk meningkatkan partisipasi rakyat dalam pengambilan keputusan secara nasional dan daerah, peningkatan perlindungan HAM, mengurangai sampai batas minimum KKN dan faktor- faktor lainnya yang perlu diperhitungkan yang umunya saling kait-mengait.
Hasrat untuk hidup lebih bermartabat itulah sesungguhnya yang merupakan hakikat kekuatan pergerakan kemerdekaan nasional menentang berbagai bentuk pemerintahan yang represip yang ada sebelumnya dan yang termuat dalam peryataan-peryataan kemerdekaan. Semangat itulah juga yang kemudian menjadi tolak ukur dari kinerja Negara-negara kebangsaan itu sendiri. Pada tahap awal, Negara nasional di sekitar konsep kedaulatan Negara yang bersifat mutlak dan tidak dapat dibagi. Namun secara bertahap, telah berkembang bentuk tatanan ketatanegaraan baru, yang hanya berwujud jika kemutlakan pengertian kedaulatan tersebut agak dilonggarkan. Mungkin itu alas an tahun-tahun terakhir ini kita dapat melihat timbulnya berbagai wujud kerjasama antar Negara yang bertetangga, seperti ASEAN atau Uni Eropa. Format politik baru ini bukan saja secara bertahap dapat menerima pengurangan peranan Negara nasional, tetapi juga bersedia menempatkan Negara nasional sebagai bagian dari jaringan kerjasama antar Negara, yang memungkinkan terlayaninya dengan lebih baik berbagai kepentingan bersama antar bangsa- bangsa yang bertetangga, terutama dalam bidang sosial ekonomi.
Pada akhirnya kepentingan nasional dikejar dan diwujudkan dengan semangat kebangsaan atau nasionalisme. Semangat kebangsaan harus dibina untuk membangun Indonesia yang lebih bermartabat di mata dunia. Pada saat sekarang ini maupun untuk waktu-waktu mendatang di dalam millennium ketiga, nasionalisme, regionalism dan martabat bangsa tidak lagi berdiri sendiri secara terpisah, melainkan telah menjadi satu untaian yang kita perlukan untuk melanjutkan perjuangan guna mencapai tujuan dan sasaran pembangunan nasional.
Kesimpulan :
1. Memaknai hari Raya Nyepi dengan Rangkaian Upacaranya dari Melasti, Tawur, Nyepi, Ngembak geni dan berakhir Dharmasanti idealnya umat manusia lebih Mulat sarira atau intropeksi kedalam dirinya agar menjadi manusia yang kesadaran memiliki kekurangan, yang harus hidup berdampingan dengan orang lain ,kemudian mengedepankan nilai-nilai agama dalam berprilaku dalam bertindak dikehidupan sehari-hari sehingga timbullah kedamaian.
2. Membangun Indonesia yang lebih bermartabat setiap warga Negara Indonesia wajib memegang teguh empat (4) pilar kebangsaan yang akan menciptakan rasa keadilan, kejujuran, kerukunan dan kesejahteraan, disamping agar lebih memiliki jiwa nasionalisme tinggi sesuai pembukaan UUD 1945 dan ikut berpartisipasi dalam ketertiban dunia agar Negara Indonesia lebih disegani bangsa-bangsa lain sehingga bermartabat dimata dunia.

Daftar pustaka
Parisadha Hindu Dharma Indonesia Himpunan Kesatuan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek agama Hindu.
Titib, I Made, DR, Teologi dan symbol-simbol dalam agama Hindu dan makna Nyepi, 2003.
Pemerintah Provinsi Bali, Arti dan Fungsi sarana upakara, 2001.
Raka Mas, Drs.AA.G. tuntunan tatasusila untuk meraih hidup bahagia, Paramita, 2003.
Wiana, I Ketut , Memelihara tradisi Weda, PT,BP, 2002
Made Gunung Pedande, Nyepi Media mulat Sarira, 2007
Magnis Suseno, Franz. Pembangunan Indonesia dan Hak-hak asasi manusia Universal, majalah prisma no 11.
Zamroni, pendidikan untuk demokrasi: tantangan menuju Civil Societi. Yogjakarta. Bigraf Pub. 2001

oleh : Penulis : Dewa Putu Antara
Alamat : Pc Kota Metro Lampung

Komentar Anda