Wajah Prostitusi Padang Galak Bali

1321779413553926219

Seorang PSK ABG (Wajah sengaja tak dinampakkan) sedang menerima Guidance and Counselling

Dua helikopter Apache milik Air Force Amerika Serikat, berbaling-baling dua, terbang rendah, mengawasi jalannya KTT Asean 2011 di Nusa Dua, Bali. Kedua helikopter ini seolah mengiringi perjalananku hari ini (19/11/2011). Keduanya dengan sangat gagah dan sangar bergelayut di awan Nusa Dua, Denpasar, Ubud, Tabanan, Kediri.. Di atas daratan dan pantai.

Di bawah terik metahari membakar kulit, penulis menuju lokalisasi mesum Padang Galak, Bali. Sebuah kompleks pelacuran yang sangat sinis sebetulnya, kenapa?. Sebab lokalisasi ini dikelilingi pura pemujaan. Dua buah pemandangan yang sangat kontras.

13217797292131895430

Dari luar nampak perbincangan antara tamu dan PSK

Pintu gerbang kompleks prostitusi ini sangat terbuka, setiap pelintas jalan beraspal ini dapat melihatnya dengan jelas. Beberapa wanita dengan pakaian minimalis, lentingan rokok di jemari dan sebuah telpon genggam di tangan kirinya. Mereka menyambut saya dengan sangat ramahnya dan tersenyum-senyum sambil memperbaiki rok mininya dan baju tank-topnya.

Aktifitas kompleks pelacuran ini terbuka di siang hari dan tutup jam 12 malam. Berbeda dengan lokalisasi lain yang umumnya beroperasi sepanjang malam dan tutup pada siang hari.

* * *

Rupanya Bali sampai detik ini masihlah identik dengan Tiga “S”: Sea, Sun dan Sex. Khususnya Sex, Bali sudah terkategori bahaya laten akan penularan HIV/AIDS. Bayangkan, Bali mencapai angka 4.552 kasus di mana 483 kasus ini adalah prevalensi dan insidence rate periode Januari-Agustus 2011. Hubungan seksual menempati urutan pertama sebagai penyebab transmisi virus yang mematikan ini.

 

1321779888118490722

Di tempat inilah virus itu dihidupkan

Diskriminasi Intervensi

Bertahun-tahun sudah intervensi terhadap pencegahan dan rehabilitasi ini, dominan disasarkan pada kelompok wanita berisiko. Yang ironis: Kaum lelaki terbiarkan dan tanpa jejak. Pengen rasanya memburu para lelaki ini namun sangat sulit untuk ditemukan kecuali saat mereka lagi ON FIRE di kompleks pelacuran. Setelah pergi dan mungkin pulang ke rumahnya, maka sudah tak mampu lagi terdeteksi mereka berada di mana

Adat Tak Mampu

Masyarakat Bali yang kental dengan religi dan pemujaannya, pun hanya bisa mengelus dada dan tak mampu berbuat apa-apa atas kian eksisnya bisnis esek-esek khusunya di Padang Galak, Sanur dan Carik-Lumintang.

13217799951964811363

Masyarakat Bali yang terkenal relijius tak dapat berbuat banyak dalam pencegahan penularan HV/AIDS

Kawasan mesum yang telah lama berdiri ini sepertinya tak tersentuh dengan perda ataupun penggerebekan. Operasi yang dilancarkan oleh kepolisian, selalu bocor sebelum operasi itu dilakukan. Aneh terasa, operasi itu sepertinya bocor otomatis.

Persepsi Keliru Terhadap Ornop

Sering kudengar beberapa tudingan terhadap LSM yang melakukan pendampingan terhadap PSK. Persepsinya adalah LSM sengaja “memelihara” eksistensi prostitusi demi mendapatkan proyek baik dari luar negeri maupun dalam negeri. Anggapan ini sungguh keliru, aktifitas trans-seksual, trans-demografis, trans kultural melejit dengan kecepatan tinggi dan serasa tak mampu lagi menghentikannya kecuali dengan cara memperlambatnya. Pada “memperlambat” inilah area para LSM agar kematian itu tidak se-segera tiba.

Tiada jalan lain kecuali memberi intervensi seperti ini sebab cara-cara lain sudah tak mampu membendung laju pertumbuhan HIV/AIDS khususnya di Bali dan Indonesia pada umumnya

1321780171432174609

Kompasiner ini sedang mumet dan mencemaskan nasib masyarakat Bali yang tak putus dirundung mata rantai penularan HIV/AIDS. Ia temui saudara tuanya untuk curhat kali ya….!!!

Demikian reportase Kompasianer Makassar ini melaporkan dari Denpasar. Semoga kita senantiasa merenungkannya, bukan tak mungkin Bali akan LOSE GENERATION disebabkan anak-anak mereka “terbunuh” oleh perilaku seksual dan gaya hidup akan narkoba.

Sekiranya terjadi sinergitas antara ketegasan aparat, kesadaran masyarakat dan bertumpu kepada agama dan keyakinan masing-masing, maka sungguh virus-virus pembunuh generasi itu sanggup kita singkirkan. Apa daya, aparat tak serius memberantas bisnis esek-esek bertarif 50-70 ribu ini. Sebuah bayaran hanya puluhan ribu tapi berbayar pengobatan jutaan rupiah dan berakhir dengan kematian tragis.

Fatalistik

Para PSK ini sepertinya telah patah arang, ia sesungguhnya sering dibekali aneka keterampilan dalam membuat home industry agar mereka memperoleh penghasilan yang wajar dan manusiawi. Namun kata mereka: “Menjadi pelacur, gampang dapat duit dan enak”. Ironis Baliku……!!!! ( Sumber : http://regional.kompasiana.com/2011/11/20/wajah-prostitusi-padang-galak-bali)

Komentar Anda