Nikah Massal di Wates Tengah

 
Pasangan Kakek-Nenek Terharu
UPACARA pernikahan (pawiwahan) massal yang melibatkan delapan pasang pengantin di Banjar Adat Wates Tengah, Duda Timur, Selat, Karangasem, Minggu (4/9) kemarin, berlangsung lancar dan meriah. Suksesnya pawiwahan itu tidak lepas dari kontribusi banjar adat setempat yang bekerja sama dengan Wakil Gubernur A.A. Puspayoga, Bali Post, Bali TV dan Radio Besakih.

Dari delapan pasang itu, pasangan Putu Yastika (46) dan Wayan Tarmi tercatat paling tua. Bahkan, pasangan ini sudah menyandang predikat kakek dan nenek karena sudah punya empat cucu. Sementara pasangan termuda adalah Putu Adi Supawan (26) yang mempersunting Tutut Wulan Dewi. Selayaknya para peserta pengantin massal itu tersenyum sumringah, selain karena prosesi pawiwahan-nya berlangsung lengkap, meriah dan lancar, juga dihadiri pejabat, tokoh masyarakat, berbagai hiburan, bahkan diliput media cetak/elektronik. Bahkan, mereka langsung mendapat akta pernikahan.

Dari delapan pasangan, suami-istri Yastika-Wayan Tarmi termasuk keluarga sederhana. Maklum, kerja kesehariannya hanyalah nandu/nyakap tanah di Banjar Kubu Dalem, Pujungan, Pupuan, Tabanan. Dia meninggalkan daerah asalnya Wates Tengah sejak 1963 bersama orangtuanya, Wayan Nerti (alm) dan Ni Nengah Nambring. Tidak heran, lantaran serba kurang, pasangan ini berpikiran pragmatis saja. Mereka hanya meresmikan pernikahannya yang didasari rasa cinta pada 1987 silam dengan upacara biyakawon saja.

''Beruntung berkat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kami akhirnya bisa melangsungkan pawiwahan dengan prosesi yang selayaknya setelah kami punya empat cucu dari anak putri pertama dan kedua kami, Putu Yasmini dan Kadek Juni Antini,'' ujar Yastika terharu. Dia dikarunia enam anak, anaknya yang bungsu bernama Made Semaradana masih berusia 4,5 tahun. ''Suksma ping banget kami aturkan kepada semua pihak, dari Prajuru Banjar Adat Wates Tengah, Pak Wagub, Pak Satria, dll. Kami sebagai keluarga miskin hanya bisa berdoa saja, semoga karma tulus yang dilakukan mendapat pahala setimpal,'' tukas Yastika yang menegaskan keprihatinannya, enam anaknya hanya mengenyam pendidikan hingga SD saja.

Ternyata, adik laki-laki Yastika yang bernama Made Warsa juga ikut dalam prosesi nikah massal ini bersama istri tercintanya, Nengah Shanti. Pasangan ini juga nandu di Pujungan, dan telah memiliki tiga buah hati.

Pernikahan massal yang masih belum populer di Bali ini memang berlangsung sangat meriah. Betapa tidak, acara ini tidak saja diliput langsung Bali TV, Bali Post serta media lainnya, juga dimeriahkan berbagai hiburan yakni suguhan tari Bali berikut gambelannya, lagu-lagu pop Bali dari artis BRTV, Arjuna dan Agung Dessy. Yang istimewa, pernikahan massal yang di-puput dua sulinggih sekaligus itu yakni Ida Pandita Mpu Parama Sadhu Daksa Natha dan Ida Pandita Mpu Daksa Yoga Acala, dihadiri Wagub Bali A.A. Puspayoga, anggota Dewan Pers Satria Naradha yang juga Pimpinan Kelompok Media Bali Post, Ketua Majelis Agung Desa Pakraman Jro Mangku Wayan Suwena, Kepala Desa Duda Timur Gede Pawana. ''Siapa tidak tersanjung. Kami seperti mendapat lotere ratusan juta rupiah,'' ujar Putu Adi Supawan, disetujui Yastika dan Made Warsa.

Sementara lima pasangan lainnya yakni Komang Suardika-Ni Made Sriani, I Wayan Kembar-Ni Nengah Sriani, Made Sudana-Ni Luh Sri Darmawati, Komang Gatra-Ni Ketut Sriasih, Komang Suardika-Ni Wayan Sekar, juga menyatakan rasa berbunga-bunga. ''Siapa tidak bangga dengan apa yang kami terima sebagai berkah luar biasa dari Ida Hyang Widhi Wasa. Tetapi untuk mendapat berkah ini, kami harus menunggu belasan tahun,'' kata mereka kompak, sembari menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang membantu.

Ketua Majelis Agung Desa Pakraman Provinsi Bali Jro Mangku Wayan Suwena menyatakan sesuai awig-awig atau tatwa, tidak ada yang salah dengan nikah massal ini. ''Tujuan masomah (berumah tangga), hidup saumah (serumah) adalah membentuk keluarga suputra — anak yang baik. Apalagi, prosesi pawiwahan nikah massal ini termasuk luar biasa. Aed juga telah dilewati dengan baik seperti sebelumnya, mapiuning ke anak lingsir, sulinggih di gria, kepada guru, pura keluarga, desa adat, dll,'' tegas Jro Mangku Wayan Suwena, yang sangat salut dan respek kepada semua pihak yang terlibat yang memiliki aksi konstruktif dan positif pada momen ini. (ram) (Sumber : Milist KMHDI diposting oleh made mariana)

Komentar Anda