Protes dalam organisasi

(Kritik konstruktif)

Dalam suatu organisasi, selalu ada sekelompok orang yang memposisikan diri sebagai oposisi. Dalam kematangan sikap orang dewasa, oposisi harus dipandang sebagai sebuah pengambilan posisi yang berseberangan dalam proses pengambilan keputusan, dan bukan posisi yang beseberangan ketika keputusan telah diambil. Ini tidak berarti protes dalam suatu organisasi dilarang, namun hendaklah si-pengkritik selain mengkritik, juga mampu memberi kontribusi solusi yang akan memperbaiki kinerja organisasi. Kritik semacam ini sering disebut dengankritik konstruktif”.

Yang harus diingat oleh para oposisi dan pemimpin adalah, “pertengkaranhanya dimungkinkan pada saat perencanaan dan evaluasi. Pada saat perencanaan, semua pihak dapat saling mengajukan kritik satu sama lain ataupun membantah satu sama lain (tentu saja dengan alasan yang konstruktif dan rasional), namun  setelah dicapai kesepakatan maka seburuk apapun perintah dari seorang pimpinan, harus dilaksanakan. Apabila ternyata kemudian terbukti bahwa perintah pimpinan salah, maka tidak diperkenankan untuk melakukanperbantahanpada saat pelaksanaan karena seorang pemimpin akan kembali dievaluasi saat acara evaluasi. Pada saat evaluasi inilah para oposisi dan pemimpin kembalibertengkar” agar dapat membuat evaluasi yang baik dan detail atas acara yang telah dilaksanakan. Diharapkan dengan evaluasi yang matang, di kemudian hari kegiatan akan berjalan dengan lebih baik.

Bagi para oposan, kritik yang dikemukakan harus berbentuk sebuah kritik dengan konstruksi yang jelas, dimana langkah yang tidak disetujui dari pihak lain dirinci dengan baik, diberikan alasan yang masuk akal, dan kemudian ditawarkan langkah penyelesaian yang mendetail. Situasi yang sering dialami oleh penulis adalah, sebuah protes atau kritik, seringkali tidak disertai dengan penawaran langkah penyelesaian yang konstruktif. Harus diingat oleh semua pihak di dalam organisasi bahwa menyalahkan orang lain adalah sangat mudah, namun memberi saran yang bermutu adalah yang sulit. Apabila kritik hanya bernuansa kritik semata, tanpa usulan perbaikan, maka kritik semacam ini tidak akan membangun situasi yang lebih baik, kalau tidak malah akan membawa organisasi pada situasi kontra produktif.

Walaupun demikian, sikap oposisi dalam suatu organisasi sangat diperlukan sebagai sebuah faktor pengontrol organisasi dan juga harus diingat bahwa kematangan mengambil sikap dalam berorganisasi ternyata bergerak dengan laju yang signifikan dengan banyaknya organisasi yang diikuti serta lamanya waktu yang dihabiskan dalam berorganisasi. Untuk itu, para oposan harus menyadari bahwa tidak selamanya kritik yang mereka ungkapkan adalah sesuai dengan situasi yang dihadapi oleh para pengambil atau pelaksana keputusan, karena umumnya oposan berada diluar “inner circle” pengambilan keputusan, sehingga menghadapi situasi yang berbeda dengan para pelaksana atau pengambil keputusan. Untuk itu diperlukan suatu mekanisme yang akan mempermudah komunikasi dua arah antara oposan dan pengambil keputusan. 

Bagi mahasiswa Hindu, organisasi terbesar yang akan diikuti di masa depan adalah komunitas Hindu itu sendiri. Adalah sebuah langkah yang sangat bijaksana apabila para mahasiswa Hindu terlebih dahulu menggodok diri dalam berbagai organisasi yang masuk dalam sistem pelatihan Hindu maupun diluar sistem tersebut. Semoga dengan melatih diri di organisasi-organisasi mahasiswa Hindu, kita dapat meningkatkan kualitas diri menuju kematangan sikap dewasa yang akan berimbas pada kejayaan komunitas Hindu di masa depan. Makin lama seorang individu Hindu berkecimpung dan menimba pengalaman berorganisasi, maka kita dapat berharap di masa depan kejayaan komunitas Hindu akan terbayang dengan jelas

Salah satu jalan yang harus dikembangkan menuju kepada cita-cita besar diatas, adalah dengan mengembangkan kebiasaan memberikan kritik yang konstruktif. Dengan demikian kita dapat mengharapkan bahwa dimasa depan akan terbentuk suatu komunitas umat Hindu yang mampu mengkoreksi dirinya sendiri dan segera mengambil langkah perbaikan apabila terjadi kesalahan dalam mekanisme pengambilan keputusan.

Made Surya Putra (Antologi Sastra Digital KMHDI)

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai