Ada asap pasti ada (…)

Disebuah dusun, hiduplah seorang penasehat kerajaan yang cukup bijaksana yang bergelar Sri Simeleketehe. Suatu hari profesor Langlinglung bertandang menemui Sri Simeleketehe untuk mencurahkan permasalahannya dengan I Wayan Belog, salah satu mantan bawahannya yang dulu menjabat Supervisor (pengawas lapangan).

Prof Langlinglung berkata: Saya adalah seorang wakil pimpinan sebuah perusahaan yang membawahi 2 orang Supervisor. Saya telah memberikan berbagai kasih sayang dan perhatian serta kemuliaan kepada mereka berdua. Apa yang mereka inginkan selalu saya penuhi, bahkan saya telah memberi sebelum mereka memintanya. Tetapi apa yang saya dapatkan?, mereka sama sekali tidak memiliki rasa hormat dan kasih sayang kepada saya sebagai seorang pelindung dan pemelihara. Mereka sepintas terlihat memusuhi saya, bahkan I wayan Belog telah pergi meninggalkan perusahaan tanpa memberi tahu saya sebelumnya. Katanya sambil berlinangan air mata.

Sri Simeleketehe mendengarkan dengan seksama, dan menganggukkan kepalanya dengan wajah prihatin.

Tidak berapa lama kemudian Sri Simeleketehe berkesempatan bertemu dengan I Wayan Belog, dan memulai sebuah pembicaraan dengan wajah bijaksana; Wayan Belog yang aku kasihi, engkau adalah seorang yang sangat beruntung memiliki seorang atasan seperti profesor Langlinglung yang melindungi dan mengasihimu dengan sepenuh hatinya, sudah selayaknyalah engkau berterimakasih dan membalas segala kebaikkan hati beliau. Dan tidaklah baik engkau meninggalkan beliau tanpa kabar berita, yang menyebabkan beliau menjadi sedih berkepanjangan.

I Wayan belog dengan wajah belognya mencoba menjelaskan duduk perkaranya dan bertutur; Mimih dewa ratu agung…, Baginda Sri Simeleketehe kok memvonis saya sih…? Kejadiannya bermula ketika saya baru lahir di perusahaan prof Langlinglung, beliau adalah orang yang hanya mementingkan kesenangan duniawi bagi dirinya sendiri saja, dan beliau terkenal sangat pelit pada karyawannya. Beliau juga tidak pernah mendengarkan keluhan dari kami para bawahannya karena sifat Nresangsya-nya (mementingkan dirinya sendiri). Jangankan kepada kami para bawahannya, kepada pucuk pimpinan perusahaanpun ia sangat kejam. Sudah berapa kali pak pimpinan difitnah hingga masuk penjara karena beliau, tetapi pak pimpinan tidak pernah berniat memecat prof Langlinglung.

Sri Simeleketehe menggeleng dan bertitah; Anakku Wayan Belog, Tidak mungkin orang sebaik Prof Langlinglung bertindak seperti itu. Beliau adalah seorang yang bijaksana, itu terlihat dari caranya bertutur kata yang sangat sopan dan berwibawa….

Tapi Sri… (I Belog memotong titah Sri Simeleketehe untuk membela diri), Saya pergi dari perusahaan itu karena beliau juga. Salah satu kebijakan perusahaan yang dibuat prof Langlinglung adalah karyawan tidak boleh menikah dan memiliki anak, agar konsentrasinya pada pekerjaan tidak terpecah. Dan ketika saya menikah, beliau mengumpulkan berbagai perserikatan untuk menasehati saya agar saya mengurungkan niat untuk berkeluarga, bahkan untuk menggagalkan pernikahan kami. Ahirnya kami ngotot melaksanakan pernikahan, dan suatu saat ketika istri saya mengandung, oleh Prof Langlinglung kami dianjurkan untuk menggugurkan kandungan istri saya. Karena itulah saya memutuskan untuk pergi meninggalkan perusahaan. Karena menggugurkan kandungan merupakan dosa kedua yang terbesar dalam kehidupan ini.

Sri Simeleketehe menggeleng lagi mirip orang tripping dan berkata; Sudahlah Belog, janganlah engkau memfitnah seorang profesor sebaik Langlinglung itu. Cepatlah engkau meminta maaf kepada beliau dan kembalilah bekerja lagi sembari membalas jasa-jasanya selama ini kepadamu.

I Wayan Belog hanya diam seribu bahasa, tidak ada gunanya membela diri lagi. Seorang bijaksana seperti Sri Simeleketehe-pun hanya mendengarkan cerita sepihak, dan memandang siapa si pembicara itu. Dalam benak sang penasehat kerajaan itu tidaklah mungkin seorang Profesor berkata bohong, meski kenyataannya I Wayan Beloglah yang mengalami dan menjalani sendiri berbagai kenyataan pahit bersama Prof Langlinglung.

Hari ini I Wayan Belog mendapat satu pelajaran: Dalam menarik suatu kesimpulan, Hendaknya dipertimbangkan dua sisi yang berlawanan, dan kesampingkanlah status sosial dalam menilai, menimbang dan memutuskan segala sesuatunya.

###Tidak mungkin ada asap bila tidak ada api. Namun sebagian orang tetap mengagungkan si api dan selalu menyalahkan si asap yang menyesakkan nafas, tanpa peduli bahwa ia berasal dari si api juga adanya. ###

Suksma,

TTS – Djaksel
(Dikutip secara utuh dari ASD KMHDI – Karya IB Tamtam)

Komentar Anda