Kekuatan Naturalisme dan Bencana Jepang

Jepang yang sebelum kejadian 11 Maret '11 adalah negara maju dengan berbagai perkembangan teknologi dan sumber daya manusianya di segala bidang. Apa yang terjadi setelah hari itu adalah Jepang menjadi negara 'Super' dengan kekuatan dari keyakinan yang dimilikinya mampu menghadapi besarnya bencana yang diterima oleh mereka. Mulai dari gempa, tsunami dan kini radiasi nuklir.

Ada pertanyaan yang terbersit disini, apa yang membuat orang jepang bisa menjadi setegar itu dalam menerima kejadian ini. Karena dalam sejarah negara yang sering dilanda gempa ini adalah kali pertama mereka mengalami bencana yang jauh lebih parah bahkan bila dibandingkan dengan kejadian bom hiroshima dan nagasaki sewaktu perang dunia II kemaren.

Berdasarkan makalah yang dibuat oleh Siti dahsiar Anwar mengenai "Cara Berpikir Orang Jepang: Sebuah Perspektif Budhisme", diungkapkan bahwa salah satu cara berpikir orang jepang yang dianut adalah paham keduniawian (genseshugi) yang menunjukkan bahwa orang Jepang pecinta kehidupan naturalis. Paham ini pun mereka tunjukkan dengan banyaknya karya-karya mereka yang bertemakan tentang alam diantaranya adalah bonsai (pohon yang dikerdilkan), ikebana (seni merangkai bunga ala jepang), dan fusuma (seni lukis pada dinding ataupun pintu rumah).

Paham naturalis jepang ini banyak diambil dari ajaran Shinto selain Budha sendiri, yang menilai bahwa "yang mutlak" adalah sama dengan "dunia gejala (Karma)" atau dunia fenomena adalah merupakan suatu yang mutlak. Orang jepang melihat segala yang terjadi didunia ini sebagai suatu yang mutlak akan terjadi, dan menerima kenyataan apa adanya. Mereka melihat bahwa sesuatu yang mutlak ini bukanlah dalam definisi dunia yang berbeda dengan dunia gejala ini, melainkan merupakan satu kesatuan yang utuh. Paham ini juga didukung dengan kondisi alam di jepang yang berada di wilayah angin musim dengan iklimnya yang sedang mampu memberikan kenyamanan dan kehangatan tersendiri bagi orang jepang. Ini juga terungkap dalam salah satu puisi oleh Otomo Tabito (665 – 751) berikut ini :

Kono yo ni shi
tanoshiku araba
komu yo ni wa
mushi ni tori nimo

ware wa nari namu
Ikeru mono tsuhi ni mo
shimuru mono ni araba
ima aru hodo wa
tanoshiku arana

yang artinya kurang lebih seperti berikut ini :

Bila di dunia ini
telah ku reguk segala bahagia,
ku rela terlahir kembali sebagai unggas atau pun serangga

Bila dikatakan yang hidup ini
akhirnya kan mati jua
kini selagi ku hidup
kan kuraih segala bahagia

Dari sini dapat diketahui bahwa orang jepang benar-benar adalah orang-orang yang sangat menghargai alam semesta dengan segala isinya. Paham naturalis ini pun ternyata telah mereka jalanin sejak dahulu kala, bahkan sebelum masuknya berbagai paham atau agama lain ke negeri mereka.

Seperti layaknya setelah pemboman hiroshima dan nagasaki, semoga jepang bisa bangkit kembali dari tantangan baru nya ini.

Referensi:
Anwar, Siti Dahsiar (2004), Cara Berpikir Orang Jepang: Sebuah Perspektif Budhisme, Makara Sosial Humaniora, Vol 8. No. 3.

Referensi Gambar:
Semua gambar diambil dari situs news.yahoo.com

Komentar Anda