Putusan Hakim Sakiti Hati Rakyat Warga Demo Kejari dan PN GianyarGianyar

Berita Kabupaten 28 Januari 2011 | BP

Putusan Hakim Sakiti Hati Rakyat

Warga Demo Kejari dan PN GianyarGianyar

(Bali Post) –



Putusan lima bulan penjara yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Gianyar kepada penadah pratima, Roberto Gamba, dinilai telah menyakiti hati rakyat Bali, khususnya Agama Hindu. Putusan yang dijatuhkan pada penadah hasil pencurian pratima oleh hakim, dinilai sebagai putusan yang sama dengan penadah hasil pencurian sandal ataupun pencurian ayam. Putusan ini mengabaikan nilai-nilai spiritual atau benda suci yang sejak turun-temurun disakralkan oleh masyarakat Hindu Bali.

Aspirasi tersebut disampaikan eksponen masyarakat Hindu Bali dari Gerakan Pemuda Hindu Peduli Bali (Gandi) dan warga Desa Adat Samplangan sebagai korban pencurian pratima, perwakilan dari Desa Adat Gianyar, MMDP Gianyar, dan PHDI Gianyar, kepada pihak Kejaksaan Negeri Gianyar dan Pengadilan Negeri (PN) Gianyar, Kamis (27/1) kemarin.

Sekitar seratus orang dengan berpakaian adat Bali, sekitar pukul 09.00 wita, mendatangi kantor Kejari dan PN Gianyar untuk mempertanyakan sikap Kejari dan putusan hakim terkait hukuman yang dijatuhkan pada penadah maupun pencuri pratima yang selama ini telah mengobrak-abrik kesucian dan kesakralannya.

Aksi demo diawali dengan berjalan kaki dari Terminal Kebo Iwa menuju kantor Kejari Gianyar. Warga dengan menggunakan pakaian adat madya membawa sejumlah spanduk dan baliho berisi tulisan kecaman terkait dengan proses penegakan hukum yang dilakukan kejaksaan dan pengadilan dalam sidang kasus pencurian pratima. Tuntutan yang diajukan oleh JPU tidak sebanding dengan kesalahan yang dilakukan oleh tersangka yang sudah menodai kesucian dan keyakinan umat Hindu.

”Tuntutan JPU tidak membuat para pelaku jera melainkan dengan ringannya tuntutan dari JPU membuat para tersangka merasa melenggang bebas,” ungkap Koordinator Lapangan Gandi, Kadek Sumiardiata.

Demikian pula terhadap putusan hakim, yang sama sekali tanpa mempertimbangan bhisama PHDI yang salah satu butirnya mengatakan bahwa dalam menjatuhkan hukuman pidana oleh pengadilan (hakim) hendaknya dipertimbangkan nilai-nilai kehidupan spiritual sebagai unsur yang memberatkan atas penodaan terhadap benda-benda suci.

Atas kekecewaan tersebut, pendemo sempat meminta langsung kehadiran Ketua Majelis Hakim, Dina Pelita Asmara, S.H., untuk hadir di tengah mereka, guna memberikan klarifikasi terkait putusan yang dibuatnya. Sementara di Kejari, JPU diminta melakukan banding terkait putusan tersebut. Kepala Kejari Gianyar, Anita Asterida, S.H., M.H., menyatakan masih pikir-pikir sehingga membuat warga menggerutu. ”Kami perlu koordinasikan dengan atasan kami soal banding tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, meski sempat menunggu lama, Hakim Dina Pelita Asmara, S.H. akhirnya menemui para pendemo yang nyaris memaksa masuk ke ruangan PN Gianyar. Dina Pelita Asmara di hadapan pendemo mengatakan proses putusan hakim itu telah melalui proses pemeriksaan dalam persidangan.

Putusan hakim diterjemahkan tak bisa hanya sepotong-potong. Pihaknya siap akan memperlihatkan amar putusan yang berisi pengakuan dari saksi yang juga merupakan prajuru desa atau pura. ”Saya malah mempertanyakan masyarakat soal ketidakdatangan warga untuk menyaksikan bersama proses persidangan yang berlangsung terbuka untuk umum,” ungkapnya.

Aksi demo yang dilakukan ini memang diibaratkan nasi sudah menjadi bubur. Ketua MMDP kabupaten Gianyar, A.A. Alit Asmara, juga sangat menyayangkan putusan yang dijatuhkan pada terdakwa Roberto Gamba. ”Selama proses persidangan, kami sangat mempercayai aparat penegak hukum yang akan menjatuhkan sanksi hukum yang setimpal terhadap perbuatan yang dilakukan Roberto Gamba. Akan tetapi, harapan tersebut malah sebaliknya ketika kami mendengarkan putusan yang hanya lima bulan, dan 15 lagi Gamba akan bebas berkeliaran,” katanya.

Permainan Mafia

Bendesa Pakraman Samplangan, Ketut Budiana, menduga ada motif lain di belakang kasus Roberto Gamba. Roberto yang telah menghancurkan kesakralan pratima yang selama bertahun-tahun diwariskan masyarakat Bali mestinya dituntut hukuman mati untuk menghilangkan sakit hati masyarakat Bali. ”Tetapi sayang, hukumannya malah hanya lima bulan. Ini ada permainan mafia. Bali sudah dimasuki mafia hukum,” tegasnya.

Sementara itu, terkait dengan kelompok penadah dalam kasus pencurian pratima yang disidangkan di PN Gianyar, Oka Sukaya dan Sidemen divonis tujuh tahun, jauh lebih berat dari Roberto Gamba. Terhadap hal itu, pihak Oka Sukaya menyatakan banding, melainkan terdakwa Sidemen masih menyatakan pikir-pikir. (kmb16)

(http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=2&id=47437)

Komentar Anda