MPAB PC KMHDI PALOPO & PELANTIKAN PENGURUS BARU




Pura Mandira Taman Sari Kota Palopo, 16-17 Oktober 2010

Setelah menjadi salah satu Cabang KMHDI, PC KMHDI Kota Palopo terus melakukan aktivitas untuk menunjukkan eksistensi sebagai organisasi yang menghimpun mahasiswa Hindu di berbagai Kampus yang terdapat di Kota Palopo dengan berbagai aktivitas baik kegiatan internal berupa Kaderisasi KMHDI maupun kegiatan Pengabdian Masyarakat seperti penggalangan dana untuk Korban Tragedi Banjir Bandang Di Kec. Battang, Kota Palopo dan beberapa dan aktivitas sosial lainnya.

Bertempat di Pura mandira Taman Sari Kota Palopo Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Darma Indonesia (PC KMHDI) Kota Palopo melaksanakan Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) Angkatan VI Tahun 2010, sebuah pura yang cukup megah di Kota Palopo, pura yang sebagian besar didirikan dengan dana swadaya umat Hindu dan diresmikan Pada Bulan September 2009. Pura tersebut kini menjadi pusat kegiatan umat Hindu di Kota Palopo, meski berada dalam kondisi yang cukup memprihatinkan karena kurangnya rasa toleransi masyarakat yang ada di sekitar pura. Suatu kondisi yang kerap kali menimbulkan suasana yang kurang nyaman setiap kali umat hindu Kota Palopo melaksanakan aktivitas keagamaan terlebih jika dilaksanakan di malam hari.

Acara MPAB diawali dengan persembahyangan bersama Peserta, Panitia dan Para Undangan, kemudian acara pembukaan dilaksanakan di Wantilan pura. Dalam laporannya Ketua Panitia  Gusti Ayu Rai Widyanti menyampaikan bahwa MPAB kali ini diikuti oleh 45 peserta dari kurang lebih 7 kampus di Kota Palopo. Hal ini ditambahkan oleh Ketua PC KMHDI I Wayan Mardhinatha Umbara dalam sambutannya dimana dia menyampaikan kepada para peserta bahwa sangat penting bergabung dalam organisasi seperti KMHDI untuk menjalin persaudaraan dan solidaritas antar sesama mahasiswa hindu.

Sementara itu Made Miarsana, Presidium Pimpinan Pusat KMHDI yang hadir pada kesempatan tersebut dalam sambutannya menyampaikan beberapa hal diantaranya kepada para peserta MPAB untuk bisa bergabung dengan KMHDI dalam mewujudkan visi KMHDI sebagai wadah pemersatu dan alat pendidikan kader mahasiswa hindu dengan misi menciptakan kualitas kader mahasiswa hindu yang berkualitas. Dan juga menekankan bahwa aktivitas KMHDI tidak akan mengganggu kegiatan akademik para anggotanya dengan catatan harus pintar-pintar membagi waktu.

Pelantikan Pengurus PC KMHDI Kota Palopo Periode 2010 – 2012

Acara MPAB kali ini dirangkaikan dengan pelantikan Pengurus baru
PC KMHDI Kota Palopo Periode 2010-2012 dimana Sabha III telah dilaksanakan pada 4-5 September 2010 di Pura Mandira Taman Sari dan terpilihlah I Wayan Mardhinata Umbara menggantikan I Made Bawayasa, S.Pd yang menjadi ketua di periode sebelumnya. Kepengurusan baru ini juga telah melaksanakan Rapat Kerja Cabang (RAKERCAB) pada tanggal 3 Oktober 2010 untuk menyusun program kerja  yang akan dilaksanakan dalam 2 tahun kengurusan mereka.

Dalam pelantikan ini Presidium  PP KMHDI menitip pesan agar Pengurus Baru tetap menjalin komunikasi dengan pengurus demisioner untuk tercapainya kesinambungan yang positif bagi organisasi. Hal ini juga untuk mengantisipasi start pengurus agar tidak dimulai dari NOL lagi bagi kepengurusan baru yang nantinya akan menghambat laju organisasi.

Kunjungan ke Umat Hindu Suku Asli Toraja

Rangkaian Kegiatan di Palopo diakhiri dengan kunjungan ke umat hindu di Kabupaten Tana Toraja, umat hindu suku asli Toraja yang dikunjungi tepatnya berkedudukan di RT Sipate, RW Mandetek, Kelurahan Tambunan, Kecamatan Makale Utara, Kabupatan Tana Toraja. Kunjungan diawali di Pura Tambunan Litak sebuah pura atau tempat peribadatan yang kondisinya cukup sederhana namun tidak mengurangi getaran energy spiritual saat melaksanakan persembahyangan ditempat suci tersebut yang dipimpin oleh ketua rombongan I Made Bawayasa,S.Pd

Rombongan pun akhirnya melakukan diskusi dengan beberapa umat hindu di pura tersebut untuk sedikit menarik informasi seputar keadaan umat hindu di Toraja serta sejarah pembangunan pura tersebut. Keesokan harinya rombongan bertemu tokoh umat Hindu di daerah tersebut yang diberi gelar Tominawa atau Pinandita. Dari diskusi tersebut diketahui beberapa informasi seperti jumlah KK umat hindu didaerah tersebut sekitar 40 KK.

Mengenai kondisi umat sendiri Tominawa (pemangku) Nenek  Sonda mengaku cukup miris mengingat kondisi umat Hindu suku asli Toraja ini belum memperoleh  perhatian yang cukup baik dari pemerintah ataupun dari sesama umat hindu sendiri. Dari kunjungan KMHDI ini juga beliau berharap agar semua element umat hindu bisa memberikan sesuatu yang bisa membangkitkan spirit umat hindu di Tana Toraja ini. Dari pengakuannya sendiri diketahui bahwa sudah cukup banyak ahli antropolgi dunia dari beberapa Negara yang sudah melakukan penelitian dan menghasilkan buku tentang bagaimana tradisi umat hindu Toraja. Namun beliau sangat sedih karena dari kalangan umat hindu sendiri  di Indonesia  belum ada yang menunjukkan ketertarikan untuk menggali bagaimana sesungguhnya tradisi umat hindu disana maupun bagaimana metode atau cara mereka memuja Hyang Widhi yang dalam sebutan Umat Hindu di Toraja di sebut dengan nama Puang Matua.

Ada beberapa symbol hindu yang dimiliki umat hindu di Toraja atau dalam hal ini berkeyakinan Alotodolo, yaitu batik manurung, sebuah batik yang berupa bendera bergambar burung garuda dan naga anantha boga. Namun symbol ini tidak bisa ditunjukkan kepada rombongan karena sangat sakral dan hanya dikeluarkan pada upacara tertentu. Namun untuk melihat bendera tersebut Tokoh agama hindu yang masih tetap melayani konsultasi baik dari pemeluk islam maupun kristiani tersebut menyarankan kepada Rombongan KMHDI untuk hadir pada upacara Melaspas Tempat Suci di Nonongan, tepatnya pada tanggal 22 Januari 2011. Mereka mengundang generasi muda hindu yang ingin melihat langsung tradisi atau tata cara mereka dalam melaksakan ritual pindah rumah atau melaspas rumah dalam tradisi hindu suku Toraja.

Komentar Anda