PEMUJAAN SARASWATI DALAM TRADISI WEDA DAN SASTRA HINDU







Saraswati dalam bahasa sansekerta bermakna sesuatu yang mengalir, percakapan,katakata. Di dalam kitab suci Weda Saraswati dipuja sebagai Dewi sungai. Posisinya sebagai Dewi kata-kata baru ditemui dalam kitab-kitab Brahmana.Ramayana,dan Mahabharata. Belakangan Saraswati dikenal seagai Sakti Dewa Brahma. Nama lain dari Dewi Saraswati adalah Bharati,Brahmi,Putkari,Sarada,Wagiswari (John Dowson,1979:285; Davane,1968). Ragunath Airi menyatakan bahwa dipujanya Saraswati sebagai Dewi Sungai tidak lepas dari keinginan untuk mendapatkan kemakmuran,kesejahteraan hidup,oleh karena itu sungai Saraswati kemudian sangat disucikan sebagaimana sungai gangga dan jamuna. Dengan demikian Saraswati sejatinya telah muncul sejak jaman Weda, seiring perkambangannya Saraswati memiliki banyak galar yang merupakanpengejawantahan dari salah satu ayat dalam kitab suci yaitu :Ekam satwiprah bahuda wadanti,yang artinya hanya satu Tuhan tetapi para orangarif bijaksana menyebut-NYA dengan banyak nama.

Saraswati dipuja sebagai dewi kata-kata dikaitkan dangan cerita kitab Itihasa yaitu Ramayana yang menceritakan pada saat Rahwana bertapa bersama Kumbhakarna para Dewa sangat khawatir terhadap permintaan Kumbhakarna untuk mendapatkan tahta Indra, kemudia para Dewa meminta pertolongan kepada Dewi Saraswati untuk tinggal di Bungkahing lidah Kumbhakarna agar Kumbhakarna tidak meminta sesuatu yang bukan haknya. Akhirnya kumbhakarna salah dalam pengucapan Tahta Indra menjadi Tatanindra yang artinya tempat tidur sehingga Kumbhakarna dikenal sebagai penidur.

Saraswati dikenal sebagai Dewi Ilmu pengetahuan karena sebuah kisah dalam purana yang menyebutkan ketika Saraswati turun kedunia,beliau memiliki saudara yang bernama Saraswata. Saraswata sangatlah bodoh banyak Guru yang tidak mau mengajarinya. Saraswati merasa kasihan kepada saudaranya itu kemudian Saraswati mengajarkan kepada saraswata intisari dari ke empat Weda yang sangat luas kepada Saraswata hanya dalam waktu 4 hari. Bahkan Narada pun dibuat bingung akan luasnya intisari Weda yang di ajarkan oleh Saraswati oleh karena itulah Dewi Saraswati Disebut sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan.

            Perwujudan Dewi Saraswati mengandug makna simbolik ,diantaranya dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Dewi Saraswati yang sangat cantik adalah personifikasi dari aspek feminim sang pencipta yang melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu sangat menarik
  2. Wina adalah simbol Rta ( tertib alam ) dan Nada Brahman ( irama alam semesta )
  3. Genitri adalah simbol doa dan pemusatan pikiran,dan memiliki makna ilmu pengetanuan tiada awal dan akhir.
  4. Gulungan daun palma ( lontar ) adalah simbol dari buku ( kitab ) merupakan tempat tersimpannya ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.
  5. Burung merak adalah simbol dari ego yang harus ditaklukkan.
  6. Burung swan ( angsa ) adalah simbol wiweka ( kemampuan menimbang-nimbang atau memilih yang lebih baik dan benar ).
  7. Teratai adalah simbol nilai ilmu pengetahuan itu suci,tidak ternodai oleh ketidakbenaran.

Di Bali Dewi Saraswati disebut juga Wagiswari Dhatridewi, lambang-NYA yang lebih dikenal berupa aksara ( dalam hal ini Aksara Bali ) Aksara Bali disamping merupakan lambang bunyi, juga terdapat aksara suci yang mengandung nilai magis,seperti aksara modre, loka natha,yang dipakai dalam aji kadyatmikan dan sebagainya. Dalam lontar Siwagama ada disebutkan bahwa sesungguhya carik dan bisah adalah asal dan kembalinya semua aksara     (“jatunya carik lawan wisah,sangkan paraning sastra kabeh”). Carik dan bisah kalau disandangkan pada aksara suara “A”, maka akan terbentuk aksara rwa bhineda Ang dan Ah, yaitu lambang purusa dan pradana, pati urip. Carik sama dengan cecek yang mempunyai makna konotatif aksara atau tulisan (penyarikan=juru tulis, sing nawang cecek=tidak mengetahui tulisan atau hurup). Rupanya cecek yang mempunyai makna tulisan ini kemudian diasosiasikan ke dalam cecek binatang ( binatang cecak ) yang kebetulan kepercayaan kepada cecak (totemisme) yang sudah ada sebelum agama Hindu dating ke Bali. Dalam hubungan ini kita juga mengenal angsa ( Aksara ) dengan angsa binatang. Yang disebut aksara angsa adalah ulu candra yaitu aksara yang tidak dibunyikan sebelum disandangkan pada aksara lain (I.B Kade Sindu).yangjelas bahwa yang dianggap sebagai Lingga atau pralingga dari Dewi Saraswati adalah lontar ,pustaka suci,kitab suci dan buku keagamaan dan tuntunan hidup lainnya.

Memuja Saraswati berarti memuja dan menjunjung tinggi nilai ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Ilmu pengetahuan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengusir ketidaktahuan(awidya). Awidya adalah sumber kesengsaraan. Dalam kitab sarasamuccaya disebutkan sebagai berikut:

Sang kinahaning kaprajnan ngaranya,tan alara yan panemu dukha,tan angirang yang panemu sukha tatan kataman krodha,mwang takut,prihati,langgeng mahening juga tutur nira,apan majnana,muniwi ngaraning majnana. ( sarasamuccaya.505 ).

Artinya:

Yang disebut orang yang memiliki kaprajnan(kebajikan),tidak bersedih hati jika mengalami kesusahan,tidak girang hati,jika mendapatkan kesenangan,tidak kerasukan nafsu marah dan rasa takut serta kemurungan,melainkan selalu tetap tenang juga pikirannya dan tutur katanya,karena berilmu,budi mulia pula disebut orang yang arif dan bijaksana.

            Kaprajnan adalah yang member cara pandang dan sikap mentalyang berpegang teguh pada kebenaran,sehingga tidak terombang ambing oleh perasaan duka,suka,benci,amarah,dan lain-lain. Kaprajnan dapat diperoleh dengan cara belajar dan berlatih terus menerus tanpa mengenal henti,karena ilmu pengetahuan dan kebajikan itu tidak ada batasnya.

Pelaksanaan hari suci Saraswati dilaksanakan mulai pagi hari sampai tengah hari yang merupakan waktu untuk memberikan penghormatan kepada dewi Saraswati sebagai penguasa ilmu pengetahuan yang diwujudkan dengan memberikan banten saraswati di atas buku-buku yang dikumpulkan pada satu tempat. Pada pagi hari umat Hindu melaksanakan persembahyangan dimaksudkan bahwa pada pagi hari pikiran kita masih jernih belum dipengaruhi oleh kesibukan dan rutinitas kita,sehingga diharapkan mampu menerima anugrah dari Dewi Saraswati berupa ilmu pengetahuan yang baru.

Pada malam harinya umat hindu mengadakan malam sastra untuk membahas ajaran agama Hindu yang berguna dalam kehidupan sehari hari. Kegiatan malam sastra hendaknya diikuti oleh seluruh umat Hindu karena pada malam sastra kita memiliki banyak waktu serta momentum yang tepat untuk membahas kegiatan keagamaan Hindu serta segala sesuatu yang diperlukan dalam usaha mempertahankan dan mengembangkan ajaran agama Hindu.

Setelah melaksanakan kegiatan malam sastra,besoknya redite pahing sinta umat Hindu melaksanakan banyu pinaruh. Banyu pinaruh berasal dari kata banyu yang artinya air dan pangaweruh yang artinya pengetahuan. Dengan melaksanakan banyu pinaruh diharapkan manusia tersadar akan sifatnya yang sejati. Manusia adalah mahluk yang paling sempurna karena memiliki pikiran,dari pikiran manusia memiliki pengetahuan,dari pengetahuan manusia dapat menolong dirinya dari suka dan duka,dari putaran  kehidupan dan kematian menuju “Moksartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma”.

OM SANTIH SANTIH SANTIH OM

 

Komentar Anda