TELANJANG

Semasa sekolah SMA, saya pernah mengikuti pelatihan untuk menjadi seorang penjaga keselamatan di pantai atau lebih dikenal dengan istilah Lifeguard. Jaman sekarang orang-orang sering menyebut profesi ini dengan istilah ngawur “Baywatch” karena populernya serial TV pamer dada dan pantat yang dibintangi oleh Pamela Anderson ini. Cuma jangan bayangkan Lifeguard di Indonesia seperti di film itu, jangankan helicopter dan yacht yang super deluxe, Lifeguard di Indonesia (nama resminya adalah Balawista) pada jaman itu, masih sering kesulitan untuk sekedar membeli bensin bagi mesin 35 PK Suzuki yang tertempel di perahu boat penyelamatnya, yyahhhh, … nasib, …. nasib hidup di negara berkembang, ….

Pelatihan ini berlangsung di pantai Kuta selama 10 hari,tanpa libur, dari jam 7 pagi hingga jam 6 sore dan hanya disela oleh makan siang. Kami dilatih langsung oleh pelatih-pelatih dari SLSA (Surf Life Saving Association) Australia. Ada banyak ketrampilan yang diajarkan seperti tali-temali, arus dan gelombang laut, penyelamatan dengan surfboard, penyelamatan dengan rescue tube dan tentunya resuscitation yang menjadi andalan semua orang yang berhubungan dengan penyelamatan nyawa orang lain. Waktu itu saya masih lumayan pintar dan lumayan lincah berenang sehingga masih mampu memperoleh penghargaan Bronze Medallion. Hore, … mari bersorak untuk Surya, angkat tangan keatas dan ucapkan hip-hip hurai, hip-hip hurai, hip-hip hurai, … he, he, he, ….

Sebenarnya menjadi Lifeguard bukanlah hal yang unik dalam tradisi di keluarga besar saya karena paman saya adalah pendiri Lifeguard Indonesia sehingga sejak kecil saya telah biasa bermain-main di pantai. Sejak umur 4 tahunan saya mulai sering dilepas main-main air di pantai Kuta dan pantai-pantai lainnya di Bali, istilah gaulnya adalah “Anak pantai”. Di jaman 70-an itu pantai di Bali masih sangat asri, misalnya yang saat ini dikenal dengan pantai Kuta (yang sebenarnya terdiri dari tiga bagian pantai yaitu, Kuta, Halfway dan Legian), saat itu masih ada tiga Loloan (muara sungai) yang bermuara disana namun saat ini sudah lenyap karena dimakan hotel-hotel besar.

Selain suasana yang indah dan sunset yang luar biasa “bening”, juga banyak pemandangan lain saat itu yaitu pemandangan turis-turis hippies yang telanjang bulat sedang berjemur di pantai. Sumpah demi semua orang suci yang katanya pernah ada (Nietzsche misalnya, hua, ha, ha, ….), saya tidak merasa terganggu dengan pemandangan ini, juga tidak merasa terangsang ataupun justru ingin mengintip-intip ketelanjangan tersebut. Biasa saja, ya, … benar, saya menganggapnya biasa saja, sebiasa saya melihat pohon kelapa dan nelayan yang sedang menarik perahu di bibir pantai. Waktu itu pantai Kuta belum banyak pengunjungnya, yang ada adalah orang lokal Kuta dan turis-turis asing yang saling menghormati dan tidak mengganggu satu sama lain. Apa ini terasa aneh bagi teman-teman sekarang ?

Oke, ijinkan saya mendongeng sehubungan dengan ketelanjangan ini

Pada awal mulai bermukim di Bali, di awal abad ke 20, seorang pelukis dari Belanda yang kita sebut saja dengan RB sangat terpesona dengan pemandangan payudara perempuan Bali yang selalu terbuka. Sesuai dengan gaya melukisnya, RB memutuskan untuk melukis fenomena yang dianggapnya unik ini. Pada suatu pagi, RB duduk di pasar Ubud dan mengamati perempuan Bali yang sedang bertransaksi.

Hanya dalam waktu beberapa menit, perempuan Bali yang tadinya berada didekatnya, bergerak menjauh, terlihat risih dan berusaha menutupi payudaranya masing-masing dari pandangan RB.
RB merasa heran, karena para perempuan tersebut tidak melakukan hal yang sama ketika berhadapan dengan laki-laki Bali. Karena saat itu RB menjadi tamu raja Ubud, maka di sore hari RB menemui sang raja dan bertanya mengenai masalah tersebut.

Sang Raja menjawab :
Tuan RB dijauhi oleh perempuan Ubud bukan karena tuan orang Eropa yang berbeda dengan mereka, namun karena tuan "memandang" perempuan Ubud sama dengan cara tuan "memandang" perempuan Eropa.

RB merasa bingung dan bertanya :
Apakah ada suatu cara "memandang" yang berbeda dalam pergaulan masyarakat di Bali ? (pada masa itu)

Sang Raja menjawab :
Ya, cara tuan "memandang" tubuh perempuan Ubud tidak sama dengan cara laki-laki Ubud ketika "memandang" tubuh perempuan Ubud, gerakan mata tuan ketika "memandang" didorong oleh pengertian yang tuan dapatkan dari kebiasaan masyarakat Eropa (Ideologi), sedangkan orang-orang Ubud dibesarkan dengan kebiasaan dan pengertian yang berbeda dengan pengertian yang tuan miliki (Ideologi yang berbeda). Untuk itu, saya menyarankan tuan untuk bukan hanya merubah cara "memandang" dan agar tuan tidak bertindak setengah-setengah, temuilah Purohita (pendeta kerajaan) untuk bertanya tentang masalah ini.

Singkat cerita, RB menemui Purohita kerajaan Ubud dan menerima informasi tentang ideologi Hindu Bali dalam hubungannya dengan tubuh perempuan. Intinya, ideologi ini menyatakan bahwa tubuh manusia, perempuan maupun laki-laki adalah Stana (tempat bersemayam) Yang Segala Maha. Jadi sangat wajar ketika mandi di sungai misalnya, tidak terdapat batas yang jelas antara permandian laki-laki dan permandian perempuan (kalau anda pengikut agama yang saleh, apakah anda akan ereksi melihat tempat bersemayamnya Tuhan? he, he, he, … ). Sementara payudara perempuan adalah lambang kesuburan dan pemberian kehidupan (Dewi Sri sebagai Cakti Dewa Wisnu), tanpa air susu itu, tidak akan ada pendeta, penguasa dan rakyat, tidak akan ada Bhakta , tidak akan ada kehidupan.
Setelah mendengar informasi ini, RB diajak melakukan beberapa tradisi asketis Hindu Bali sambil terus menerus menginternalisasi ideologi yang baru diterimanya.

Seminggu kemudian RB memutuskan melakukan peninjauan lapangan sekali lagi dengan konsep baru yang ada di kepalanya. Di pasar yang sama, pada saat pasar sedang ramai-ramainya, RB membentangkan kanvas dan mencampur warna diatas paletnya dan terjadilah keajaiban itu.

Pertama : Perempuan Ubud tidak menjauh, tidak terlihat risih dan tidak berusaha menutupi payudaranya dari pandangan RB.

Kedua : RB tidak lagi memandang payudara sebagai "hanya payudara" namun memandangnya sebagai Stana Yang Maha, sehingga terdapat perubahan dalam persepsinya dan caranya memandang tubuh perempuan Ubud.

Oke cukup sekian dulu dongeng si RB ini, semoga ada hikmahnya bagi kaum mesumer, he, he,he, …

RB beruntung karena mengalami transisi ideology dengan bimbingan oleh seorang ahli. Sementara saya juga rasanya cukup beruntung karena mengalami transisi ideology justru dari persentuhan dengan banyak ideology lain walaupun tanpa guru. Saat masih jadi anak pantai seringkali saya menerima mainan-mainan baru dari londo-londo ini, mainannya keren dan saat itu belum lumrah di Indonesia seperti papan Skateboard, sepatu roda dll. Rupanya kesalahan pergaulan ini kemudian membentuk berbagai pemikiran saya hingga saat ini. Kebetulan sejak tahun 60-an keluarga besar saya sering menerima tamu londo-londo Australia dan Inggris (kwa, kak,kak, kak, … londo kok Aussie dan Britain, he, he, he, … ) dan beberapa dari kami juga sering diundang bertamu ke negeri mereka, karena itulah sejak kecil saya sudah tidak asing dengan pertukaran budaya dan perbedaan ideology.

Satu hal yang harus digarisbawahi dalam pertukaran ideology ini adalah masalah ketelanjangan perempuan yang sering jadi bahan olok-olok dari suku lain terhadap suku Bali. Saat masih kecil saya terbiasa dengan ketelanjangan, masalah ini tidak pernah diributkan dan bukan hal yang aneh. Sejak mulai bersekolah, masalah ketelanjangan ini, entah bagaimana, mulai jadi hal sensitive. Diajarkan kepada saya di sekolah formal bahwa ketelanjangan adalah menyalahi etika, asing dan tidak pantas. Tentu saja sebagai anak kecil, saya menurut saja, saya telan mentah-mentah ide (yang sesungguhnya bukan asli Bali) ini dan mulai teralienasi dari ide leluhur-leluhur saya sendiri tentang penghormatan pada tubuh manusia.

Padahal walaupun saat itu perempuan Bali tidak menutupi dadanya, belum pernah saya melihat dan mendengar mengenai pemerkosaan yang terjadi karena dampak yang timbul dari budaya ini. Walaupun orang Bali mandi di sungai dengan telanjang bulat dan tidak memiliki sekat yang jelas antara tempat mandi laki-laki dan perempuan (saya masih mengalami hal ini saat kecil) saya belum pernah mendengar tentang sexual harassment di lingkungan saya.

Dalam melakukan perbandingan budaya telanjang ini (he, he, he, … buset dah, sejak kapan pula ada budaya telanjang, xi, xi, xi, xi…. ), saya membaca beberapa tulisan dengan seting budaya yang berbeda seperti Ronggeng Dukuh Paruk dari Ahmad Tohari , Burung-Burung Manyar dari Y.B. Mangunwijaya, La Galigo dari Luwu, Serat Centini dari Mangkunegaran dll. Tanpa berpretensi untuk menjadi pahlawan pembela budaya asli, saya berkesimpulan bahwa sesungguhnya orang Indonesia dengan suku-suku aslinya telah memiliki suatu kesadaran budaya tentang ketelanjangan, yang sepertinya tidaklah persis seperti pemahaman ketelanjangan yang saat ini menjadi mainstream pemikiran di Indonesia.

Kenapa saya sebut mainstream ?

Karena pendukung kebudayaan (anti) ketelanjangan baru ini telah berhasil dengan sukses menjadikan gagasan mereka yang monolitik dengan dasar ide-ide scriptualisnya menjadi sebuah Undang-undang yang mengikat bagi seluruh penduduk Indonesia. Saya tidak pernah melihat toleransi atau tenggang rasa dalam gerakan ini, yang ada hanya amarah dan kemurkaan, tuduhan dan hujatan, perang, pembunuhan dan pengeboman. Keberhasilan ide yang tidak bertenggang rasa ini menjadi Undang-undang otomatis berarti memaksakan satu ide monolitik kepada orang lain. Secara riil di lapangan, salah satu prestasi terbesar golongan ini adalah disahkannya UU Pornografi yang ngawur itu, lha bagaimana tidak ngawur, nomenklaturnya aja berbunyi PornoGRAFI, kok yang diatur malah gaya hidup sehari-hari ?

Dicari di rumusan kamus dan ensiklopedi apapun, yang namanya Graph itu ya barang cetakan, tapi isinya UU itu kok malah mengatur tingkah laku orang per orang ?

Dasar Jaka Sembung bawa golok, nggak nyambung goblok, ….

Kepornoan, kemesuman, nafsu birahi dan lain lain terletak di dalam otak kita, subyeknya adalah otak kita sendiri, bukan tubuh, payudara, vagina atau penis individu lain. Di luar otak kita adalah obyek yang semata-mata menjadi stimulan bagi otak kita, karena itu, menuruti nasihat bijak dari sang Purohita kerajaan Ubud, berusahalah mengontrol otak kita sebelum mengintervensi kehidupan individu lain.

Kawan kawan yang terhormat, menurut saya tujuan manusia menjadi manusia adalah untuk memerdekakan diri dari belenggu ikatan-ikatan duniawi. Dibandingkan dengan mengintervensi individu lain, bukankah lebih baik kita memerdekakan diri dari ego kita sendiri ?
Kayaknya sih saya belum berhasil tapi minimal saya sedang berusaha kesana

Kawan-kawanku yang baik, maafkan apabila Note saya ini menyinggung ujung lobus oksipital anda yang kemudian dihubungkan oleh talamus menuju anterior pada lobus frontalis sehingga membuat hipotalamus anda bereaksi. Kalau reaksinya berupa emosi positif, mohon salurkan pada orang-orang yang anda cintai sedangkan kalau reaksinya emosi negatif, mohon lebih banyak berdoa, kwa, kak, kak, ….

Semoga sudut pandang yang berbeda dapat membuat kita makin toleran

Salam hari raya Kuningan dari Klojen
Made Surya Putra

Komentar Anda