GAJAH, MALING LAPTOP DAN KEADILAN

Hari ini, tanggal 4 Desember 2009, saya kehilangan laptop di bus malam Dps-Mlg. Harga laptop lumayan mahal dibandingkan gaji PNS yang saya terima tapi mau apa lagi, sudah hilang ya sudah, mau lapor polisi juga kayaknya ndak bakalan ketemu, ya pasrah aja. Yang paling bikin pusing adalah hilangnya data disertasi di HD laptop itu, data ini sungguh tidak ternilai harganya. Yah, beginilah nasib jadi orang agnostic, ndak punya tempat mengeluh kalau kesusahan, kwa, kak, kak, kak, Tuhan selalu tidak ada di tempat kalo kita lagi susah ya ? xi, xi, xi, xi, ….. terpaksa nulis di FB aja deh.

Oke daripada pusing, mending kita membahas fenomena maling di sekeliling kita, ada maling ayam kelas ecek-ecek, ada maling semangka yang masuk penjara dan ada juga maling kelas “gajah” yang susah ditangkap. Entah kenapa, karakter binatang selalu dijadikan cerminan dari sifat manusia yang buruk, ada buaya, ada cicak dan ada yang lain-lainnya, kasihan binatangnya, mereka cuma mencoba hidup sesuai tuntutan biologisnya, mestinya kalau ada binatang yang buruk justru merekalah yang layak dicaci dengan umpatan “dasar mirip manusia” he, he, he, …..

Saya punya teman, namanya Anusbolduburectum, orangnya konyol dan jail habis, berbeda 180 derajat dengan saya yang serius. Kami sering nongkrong dan ngobrol berdua dan biasanya malah jadi ngelawak bareng. Salah satu obrolan ndak karuan yang paling saya ingat adalah percakapan berikut ini :

Anusbolduburectum (ABDR) : Bagaimana caranya memasukkan sapi ke dalam kulkas ?
Made Surya Putra (MSP) : Buka pintu kulkas, masukkan sapinya, tutup pintu kulkas

ABDR : Salah !, mestinya buka pintu kulkas, tarik tali sapinya sampai sapinya berada di dalam kulkas, kita keluar dari kulkas, baru tutup pintu kulkasnya
MSP : Oke, kesalahan diterima, sekarang bagaimana caranya memasukkan gajah dalam kulkas

ABDR : Buka pintu kulkas, Masukkan gajahnya, tutup pintu kulkas
MSP : Salah !, mestinya, buka pintu kulkas, keluarkan sapinya, masukkan gajahnya, tutup pintu kulkasnya, kalau sapi dan gajah berbarengan di dalam kulkas mereka bisa bertengkar dan kulkasnya bisa rusak

ABDR : Oke kesalahan diterima, pertanyaan selanjutnya, Gajah apa yang paling besar ?
MSP : Gajah yang sedang hamil besar, disengat ribuan tawon, kena penyakit kaki gajah dan dilihat dengan mikroskop electron

ABDR : Benar !, tumben kamu pintar Sur ! he, he, he, …
MSP : Sekarang giliranku, kenapa anak sapi dan anak gajah kalau pas bertemu di hutan selalu melompat-lompat

ABDR : Lah ya jelas melompat-lompat, namanya juga anak-anak, kwa, kak, kak, kak, ….
MSP : Oke, jawaban benar, pertanyaan selanjutnya, bagaimana membedakan anak gajah dengan induk gajah ?

ABDR : Ditanya umurnya, yang lebih tua pasti induknya
MSP : Boleh juga, apa ada alternative tindakan lain ?

ABDR : Diayak pakai ayakan gajah, yang jatuh ke bawah pasti gajah ukuran kecil, itu pasti anaknya, yang masih sisa di atas ayakan pasti gajah besar, itu pasti induknya
MSP : Mantap !!!, sekarang siapa orang terkuat di dunia ?

ABDR : Orang yang bisa mengayak ayakan gajah
MSP : Benar !, oke giliran kamu

ABDR : Sekarang sedang ada rapat penghuni hutan, semua binatang harus hadir, siapa yang tidak bisa hadir ?
MSP : Yang tidak bisa hadir pertama adalah sapi yang baru dikeluarkan dari kulkas, dia sedang flu karena kedinginan di dalam kulkas, yang kedua tidak bisa hadir adalah gajah yang sedang di dalam kulkas, yang ketiga tidak bisa hadir adalah gajah hamil yang mau di lihat dengan mikroskop electron karena permohonan peminjaman mikroskop electron sedang di proses di BATAN, yang keempat – anak gajah dan anak sapi karena sedang sibuk melompat-lompat, itu daftar binatang yang tidak bisa hadir saat rapat.

ABDR : Bagaimana dengan gajah yang di ayak ?
MSP : Mereka bisa hadir karena walaupun agak pusing setelah diayak oleh orang terkuat di dunia, mereka diangkat oleh orang terkuat di dunia untuk menghadiri rapat

ABDR : Saya juga diundang rapat, tapi harus menyeberangi sungai yang penuh buaya, ndak ada perahu, ndak ada jembatan, bagaimana caranya menyeberang agar bisa hadir saat rapat ?
MSP : Nyebrang aja, buayanya sedang ikut rapat, kwa, kak, kak, kak, …..

Ngomong-ngomong masalah “buaya” di Indonesia, sebenarnya saya kasihan dengan “buaya” ini, tidak semua “buaya” suka makan bangkai, beberapa bahkan saya kenal sebagai “buaya” vegetarian yang baik hati dan tidak suka main uang. Saya kira masalah kita di Indonesia adalah masalah KEADILAN dan bukan cuma masalah “buaya” lawan “cicak”. Iseng-iseng setelah belajar sedikit tentang keadilan saya menemukan bahwa keadilan itu sendiri berdimensi banyak dan iseng-iseng juga daripada stres karena kehilangan laptop, saya himpun tulisan tentang teori keadilan (manajemen ya, bukan hukum)

Oke, kita mulai masalah keadilan, cerita dimulai dari kisah J. Stacey Adams :

Pada saat bekerja sebagai peneliti psikologis di general Electric Co. di Crotonville, J Stacey Adams membangun dan menguji sebuah teori yaitu equity theory of motivation. Teori ini menyatakan bahwa seseorang membandingkan antara usaha dan hasil yang dilakukannya dengan orang lain yang bekerja dalam kondisi yang sama. (Pfeffer:1995). Karena berfokus kepada persepsi individu maka Teori Keadilan juga digolongkan sebagai teori kognitif.

Karena keadilan adalah persepsi dari individu yang menerimanya, maka persepsi ini bersifat subyektif (Critelli dan Waid : 1980) sementara Husemann dkk (1987) berpendapat bahwa keadilan ada apabila seseorang merasa rasio input dibandingkan outcome miliknya adalah sama dengan rasio yang dimiliki oleh orang lain Menurut Adams dalam Greenberg (2005), empat terma utama dalam teori keadilan adalah (1) Individu yang merasakan keadilan, (2) Pembanding – orang yang menjadi referensi untuk membandingkan rasio inputs dan outcomes, (3) Inputs yaitu karakteristik individu dan (4) Outcomes yaitu segala sesuatu yang didapatkan oleh individu. Gibson dkk (2003), menyatakan bahwa teori ini merupakan variasi teori proses perbandingan sosial

Inputs menurut Kilduff dan Baker (1984) adalah segala sesuatu yang diperhitungkan oleh individu sebagai hal yang relevan dalam melakukan pertukaran. Menurut Taris dkk (2002) ini termasuk segala usaha fisik maupun psikologis atau semua faktor yang dirasakan oleh individu sebagai kontribusi yang relevan dalam pembentukan hasil yang akan diterimanya, misalnya pelatihan (Janssen : 2001), umur, senioritas dan loyalitas (Huseman dan Hatfield : 1990) tanggungjawab, pengetahuan, skill (Kopanaske dan Werner : 2002). Kekuatan masing-masing faktor dapat berbeda pada budaya yang berbeda (Laufer : 2002). Lamm dkk (1983) menyatakan bahwa hal ini terjadi karena teori keadilan tidak memperhitungkan bobot sebuah factor.

Outcomes menurut Cosier dan Dalton (1983) adalah faktor fisik, psikologis, ekonomi dan sosial. Beberapa faktor lain juga relevan untuk dipertimbangkan sebagai hasil, tergantung kepada konteks hubungan dan perbedaan budaya (Scheer dkk : 2003). Huseman dan Hatfield (1990) menyatakan bahwa hasil dibagi dalam empat kategori yaitu system, job, performance dan interpersonal.

Pembanding menurut Chen dkk (2002) adalah seseorang yang dijadikan pembanding oleh individu dan perubahan yang terjadi pada pembanding akan merubah rasio dan merubah persepsi keadilan. Lawler dan Suttle (1973) menyatakan bahwa pembanding adalah individu lain yang memiliki kemiripan posisi, Sementara Martin dan Peterson (1987) menyarankan bahwa pemilihan pembanding tergantung informasi tentang relevansi orang tersebut. Konopaske dan Werner (2002) mengembangkan yang disebut dengan employee equity yang terdiri dari internal equity dan external equity sementara Taris dkk (2002) membuat dua kategori pembanding yaitu interpersonal comparison dan intrapersonal comparison. Apabila tidak mungkin melakukan perbandingan dengan orang lain, Wagstaff (1998) menyatakan bahwa seseorang akan mengacu kepada basic form of the equity principle.

Respon adalah reaksi seseorang terhadap ketidakadilan dalam usahanya mencapai kondisi yang dianggapnya adil. Menurut Greenberg (2001) tindakan yang dapat diambil individu adalah merubah masukan, merubah hasil, merubah individu pembanding, merubah masukan atau hasil yang diperoleh individu pembanding atau malah merubah situasi.

Willkens dan Timm (1978) mengindentifikasi lima jenis respon cognitive atau behavioral yang berkaitan dengan ketidakadilan yaitu distress, demand for compensation or restitution, retaliation, justification of the inequity dan withdrawal, sementara respon denial dan task enhancement dapat dimasukkan dalam beberapa kasus. Sementara menurut Greenberg (1990) terdapat dua aktivitas yang dapat merestorasi keadilan. Pertama adalah tindakan actual dan kedua adalah membangun cognitive or psychological equity restoration. Menurut Griffeth dan Gaetner (2001) tindakan nyata (behavioral/actual) yang dapat dilakukan oleh individu yang merasakan ketidakadilan dapat berupa sabotase atau pencurian.

Nah, ketemu dia, ternyata berdasarkan teori keadilan (ngawur !!! ), rupanya orang yang mencuri laptop saya, entah bagaimana, merasa telah diperlakukan tidak adil, entah oleh saya, entah oleh orang lain, entah oleh lingkungan atau negara, sehingga memutuskan untuk men-sabotase penulisan disertasi saya dengan cara mencuri laptop serta data penelitian saya, ck ck ck, ck, … ini memang analisis yang sangat menyejukkan hati

Umumnya Teori Keadilan berfokus terhadap perbandingan yang bersifat jangka pendek (Vecchio: 1982) dan melupakan perbandingan yang berjalan dalam jangka panjang. Masalah perbedaan waktu ini coba dijawab oleh Cropanzano dan Folger (1989) melalui Referent Cognitions Theory sementara penelitian terbaru tentang justice telah memasukkan konsep distributive, procedural, interactional dan informational justice dalam analisis Teori Keadilan (Greenberg : 2005). Kunci dalam persepsi keadilan adalah subyektifitas karena mengandalkan persepsi dari partisipan yang terlibat (Webster dan Rice : 1996) dan karena itu seringkali ada ketidaksepakatan tentang apa yang disebut dengan adil. Walaupun ada ketidak sepakatan ini, semua pihak sesungguhnya dapat merasakan pentingnya adanya keadilan. Menurut Colquitt (2001) kemampuan memelihara rasa keadilan adalah bagian dari konsep yang lebih luas yaitu etika, suatu cabang filsafat yang mempelajari tentang melakukan sesuatu dengan baik.

Oke, itu sedikit tentang teori keadilan, siapa tahu ada gunanya untuk menganalisis konflik “buaya” dan “cicak” yang sedang terjadi saat ini walaupun pastinya analisis ini tidak akan berguna untuk mengembalikan laptop saya, he, he, he, ….

Alah sudahlah, capek ngomong teori, filsafat lagi, filsafat lagi, bosen ah, … mending saya kerja lagi untuk mengais-ais data yang mungkin ada di flashdisk dan HD external, sementara saya mengais-ais, tolong teman-teman jawab pertanyaan berikut ya ?
1. Kenapa gajah tidak pernah kehilangan laptop ?
2. Tahukah gajah tentang konsep keadilan ?
3. Kwa, kak, kak, kak, ….

Agar teman-teman setiaku ikut mumet, di bawah ini ada daftar pustaka tulisan ini, semoga daftar pustaka ini dapat mengurangi stress saya karena teman-teman yang membacanya jadi stress, he, he, he, ….

——Colquitt, Jason A. 2001. On the dimensionality of organizational justice: A construct validation of measure, Journal of Applied Psychology, 86: 386-400
——Chen, C., J. Choi dan & S. Chi. 2002. Making justice sense of local-expatriate compensation disparity: Mitigation by local referents, ideological explanations, and interpersonal sensit ivity in China-foreign joint ventures, Academy of Management Journal, 45(4): 807-817.
——Cosier, R.A., dan D.R. 1983. Equity theory and time: A reformulation, Academy of Management Review, 8(2): 311-19.
——Critelli, J.W., dan L.R. Waid. 1980. Physical attractiveness, romantic love and equity restoration in dating relationships, Journal of Personality Assessment, 44: 624-29.
——Cropanzano, Russel dan Robert Folger. 1989. Referent Cognition and Task Division Autonomy: Beyond Equity Theory, Journal of Applied Psychology. April 1989: 293-99
——Gibson, James L., John M. Ivancevich., James H. Donelly Jr., dan Robert Konopaske. 2003. Organizations : Behavior, Structure, Processes. Eleventh Edition. Mc-Graw Hill Higher Education.
——Greenberg, Jerald. 2001. Setting the Justice Agenda: Seven Unanswered Question About What, Whay and How, Journal of Vocational Behavior. April 2001: 210-19
——Greenberg, Jerald. 1990. Organizational justice: Yesterday, today, and tomorrow, Journal of Management, 16(2) : 399-432.
——Greenberg, Jerald. 2005. Managing Behavior in Organizations, Fourth Edition. Pearson Education, Inc. Upper Saddle River, New Jersey
——Griffeth, R.W., dan S. Gaertner. 2001. A role for equity theory in the turnover process: An empirical test, Journal of Applied Social Psychology, 31(5): 1017-37.
——Huseman, R.C., dan J.D. Hatfield. 1990. Equity theory and the managerial matrix., Training and Development Journal, April: 98-102.
——Huseman, R.C., dan J.D. Hatfield. 1990. Equity theory and the managerial matrix, Training and Development Journal, April: 98-102.
——Jannsen, O. 2001. Fairness perceptions as a moderator in the curvilinear relationship between job demands, and job performance and job satisfaction, Academy of Management Journal, 44(5): 1039-50.
——Kilduff, M.J., dan D.D. Baker. 1984. Getting down to the brass tacks of employee motivation, Management Review, September: 56-61.
——Konopaske, R., dan S. Werner. 2002. Equity in non-North American contexts. Adapting equity theory to the new global business environment, Human Resource Management Review, 12: 405-18.
——Lamm, H., E. Kayser., dan V. Schanz. 1983. An attributional analysis of interpersonal justice: Ability and effort as inputs in the allocation of gain and loss, The Journal of Social Psychology, 119: 269-81.
——Laufer, D. 2002. Are antecedents of consumer dissatisfaction and consumer attributions for product failures universal?, Advances in Consumer Research, 29: 312-17.
——Lawler, E.E., III, dan J.L. Suttle. 1973. Expectancy theory and job behavior, Organizational Behavior and Human Performance, 9: 482-503.
——Martin, J.E., dan M.M. Peterson. 1987. Two-tier wage structures: Implications for equity theory, Academy of Management Journal, 30(2): 297-315.
——Pfeffer, Jeffrey. 1995. Producing Sustainable Competitive Advantage through the Effective Management of People, Academy of Management Executive. February 1995: 55-69
——Scheer, L.K., N. Kumar, dan J.E.M. Steenkamp. 2003. Reactions to perceived inequity in U.S. and Dutch interorganizational relationships, Academy of Management Journal, 46(3): 303-16.
——Taris., T.W., R. Kalimo, dan W.B. Schaufeli. 2002. Inequity at work: Its measurement and association with worker health, Work and Stress, 16(4): 287-301.
——Veccio, Robert P. 1982. Predicting Worker Performance in Inequitable Settings, Academi of Management Review. January 1982: 103-10
——Wagstaff, G.F. 1998. Equity, justice, altruism, Current Psychology, 17: 111-34.
——Webster, C., dan S. Rice. 1996. Equity theory and the power structure in a marital relationship, Advances in Consumer Research, 23: 491-97.
——Wilkens, P.L., dan P.R. Timm. 1978. Perceived communication inequity: A determinant of job dissatisfaction, Journal of Management, 4(1): 107-19.

Salam Stres dari Malang
Made Surya Putra

Komentar Anda

Mungkin Anda Menyukai