DIAM

Mau kemana kita ? tanya Dora the Explorer kepada Buds (satu-satunya monyet berwarna biru di dunia ini)
Tanya peta ! jawab Buds
Maka mulailah Dora dan Buds membongkar ransel Dora yang berisi macam-macam, dari peta, perahu hingga mesin cuci, he, he, he, ….

Dora dan Buds tidak pernah diam, dalam setiap seri film mereka, saya selalu melihat berbagai aktivitas outdoor menantang dilakukan oleh Dora dan Buds. Kadang-kadang teman-teman mereka yang lain juga ikut, ada sapi kecil, ada rubah pencuri dll.

Seri film anak-anak ini cukup menarik karena menggabungkan petualangan outdoor dengan kemampuan dasar pengenalan dunia sekitar kepada anak-anak balita. Dahulu di masa balita, saya juga mengalami situasi semacam ini, hanya bukan dari film tapi dari buku-buku seperti Famous Five dan Sapta Siaga dari Enid Blyton. Berlanjut kemudian ke karangan Jules Verne yang gila-gilaan, bayangkan, Ke Bulan dengan Peluru Meriam atau Mengelilingi dunia dalam 80 Hari. Belum lagi Karl May dengan Winnetou dan Old Shaterhand-nya yang membuat imajinasi melambung ke padang prairie di Amerika Utara. Baru setelah SMP, saya mulai membaca Kho Ping Hoo, dimulai dari Kisah Pulau Es dan berlanjut hingga kecanduan datang ke persewaan buku. Selain membaca saya juga suka kegiatan outdoor, semasa anak-anak saya selalu berada di pinggir pantai hingga masa SMP mulai beralih ke pegunungan dan akhirnya saat SMA membentuk Geng anak muda baik-baik “Kaum Zesat” yang kerjaannya mendaki gunung , membuat sedikit kerusuhan dan iseng-iseng berkelahi dengan genk-genk lain (yang jahat tentunya !!!) di Denpasar, xi,xi,xi,xi, ….

Beberapa orang di masa lalu sering bilang bahwa saya tidak bisa diam, selalu gelisah, ada saja yang dikerjakan, kalau bukan membongkar motor sendiri, ya, membongkar motor orang lain (kwa, kak, kak, kak, … ). Sejak tamat S1 dan pensiun dari huru-hara hura-hura tahun 1998, saya belajar diam dan mencoba mengendalikan kegelisahan dengan meditasi yang katanya bisa mengontrol peredaran adrenalin di dalam darah agar sedikit lebih tenang. Sambil belajar diam, meredam kegelisahan dan mencari kebahagiaan, saya kembali ke kebiasaan lama yaitu membaca dan menulis.

Bacaan mulai meluas, Enny Arrow dan Nick Carter mulai ditinggalkan (ada yang tahu ini buku apa ? hua, ha, ha, ha,…. ) dan mulai menyerempet filsafat dan ilmu-ilmu murni seperti fisika dan biologi. Saat mulai menjadi fisikawan amatir, kecelakaan pengertian pun terjadi, saya jadi sadar bahwa sesungguhnya manusia tidak pernah diam, dan memang tidak bisa diam. Diam, walaupun kurang dari sepermilyar detik, akan membuat seluruh jagat raya terjatuh dalam kondisi crack.

Contohnya begini :
Saat menulis tulisan ini, saya merasa diam karena hanya duduk di kursi dan kursi saya tidak bergerak dibandingkan ruangan kecil tempat saya bernaung saat ini. Tapi bukankah bola Bumi ini selalu berputar ?
Jari-jari Bumi di ekuator adalah 6.378,2 km, atau berdiameter kurang lebih 12.756 km (bumi agak pepat kutub sehingga jari-jari ekuator lebih panjang dibandingkan jari-jari kutub) ini berarti permukaan Bumi di ekuator adalah kira-kira 40.053 km. Bumi berotasi selama 24 jam, ini berarti kalau kita taruh satu benda di ekuator Bumi dan tidak digerakkan sama sekali, maka sesungguhnya ia sedang bergerak dengan kecepatan 1.668,875 km/jam. Jadi ketika saya sedang duduk-duduk menulis tulisan ini dan saya merasa tidak bergerak, saya (minimal) sebenarnya bergerak dengan kecepatan 1.668,9 km/jam. Tambahkan konstanta kecepatan yang lain yaitu kecepatan Bumi mengorbit Matahari. Bumi mengorbit Matahari dalam setahun (365 x 24 = 8.760 jam) dengan menempuh jarak rata-rata sebesar 149.500.000 km sehingga kecepatan Bumi mengelilingi Matahari kira-kira sebesar 17.066 km/jam . Ini berarti walaupun saya cuma duduk-duduk saja di depan komputer, sebenarnya saya sedang mengarungi jagat raya dengan kecepatan Bumi berotasi ditambah kecepatan Bumi mengelilingi Matahari.

Woooowww, ternyata bukan itu saja, Solar System ternyata hanya sistem tata surya biasa-biasa saja, kecil tidak, besar juga tidak, yang terletak di bagian sisi luar salah satu lengan spiral galaxi Milky Way dan bersama-sama dengan keseluruhan sistem galaxi, tata surya kita beredar mengelilingi pusat galaxi yang terhimpun dari obyek planetary nebula dan RR Lyrae. Diameter galaxi kita ini adalah sekitar 100.000 tahun cahaya, jadi silahkan bayangkan sendiri berapa kecepatan kita yang “cuma” duduk-duduk ini, pada saat Bumi yang kita cintai sedang mengelilingi pusat galaxi ?

Itu belum semua, penelitian Penzias dan R. Wilson menemukan bahwa jagat raya sendiri sedang mengembang, dengan kecepatan yang ajaubilah bin zalik, kayaknya ndak bakalan bisa dikejar oleh setan yang paling cepat sekalipun (kata orang, kita akan berlari sangat cepat kalau dikejar setan sehingga ada ungkapan “Larinya seperti dikejar setan”, pertanyaan selanjutnya adalah : bagaimana kalau setan-nya kita kejar dengan kecepatan pemuaian jagat raya ?, he, he, he, … ). Ternyata, walaupun saya cuma duduk-duduk tidak bergerak, kenyataannya, saya ternyata sedang bergerak dengan kecepatan yang luar biasa.

By the way, ngomong-ngomong masalah setan, dedemit dan hantu lokal Indonesia, saya punya satu pertanyaan yang lama belum terjawab. Pertanyaannya adalah :

Kenapa hantu lokal Indonesia suka tertawa ?

Kuntilanak terkenal dengan tawa cekikikannya, genderuwo dengan tawa terbahak-bahak, sebenarnya apa yang lucu ya ? sampai mereka tertawa-tawa seperti itu ? Ck,ck,ck,ck, … setan-setan yang aneh, … kwa, kak, kak, kak, … (ini bukan tertawa setan, ini tertawanya iblis, kik, kik, kik, kik, … )

Oke, serius lagi.
Dalam konsep Vaisesika atau Samkya ya ? (Sanskrit Vedic nich !!!) ada konsep Sivanataraja (Siva The Cosmic Dancer), yaitu konsep tentang Dewa Siwa yang asyik jeb-ajeb-ajeb, sepanjang malam, siang, sore dan pagi, DJ Riri aja sampai keleleran melayani jago jeb-ajeb-ajeb satu ini. Siwa terus menari sepanjang usia jagat raya dan kalau Siwa menghentikan tariannya walaupun hanya sebentar saja maka seluruh jagat raya akan runtuh. Konsep pemuaian jagat raya yang dianalogikan dengan Tarian Abadi Siwa, terasa sangat klop dengan model nenek-nenek dan kakek-kakek di Bali yang kalau menari suka bilang :

Kami menari bukan untuk pamer atau cari uang, kami menari untuk dipersembahkan pada ISWW

Dulu saya pikir orang-orang tua ini sungguh-sungguh kurang kerjaan, memuja Tuhan kok dengan cara menari ? Duduk, lantas berdoa dan meditasi kayaknya lebih otre dech. Setelah membaca lebih jauh tentang Veda dan ilmu-ilmu murni serta filsafat, baru kemudian saya ketahui bahwa konsep para tua bangka itu ternyata jauh lebih seksi dan keren dibandingkan konsep kampungan saya tentang pemujaan, he, he, he, … untung mereka tidak tahu bahwa saya bersembahyang hanya untuk sosialisasi, hi,hi,hi,…

Oalah, mulai tidak serius lagi nich, oke sekarang serius lagi
Sesungguhnya kita tidak pernah diam dan memang tidak akan bisa diam. Bergerak dan beraktivitas sudah menjadi hukum kita sebagai mahluk hidup. Konsekuensi dari semua gerakan yang kita lakukan adalah kegelisahan yang mau tidak mau akan menimbulkan pertanyaan tentang pencarian kebahagiaan dan tujuan hidup.

Apakah karena memiliki banyak uang lantas kegelisahan kita akan hilang ?
Apakah karena telah menjadi Profesor lantas kegelisahan kita akan hilang ?
Apakah karena telah pernah mengunjungi banyak tempat asing lantas kegelisahan kita akan hilang ?
Apakah karena telah banyak membaca buku lantas kegelisahan kita akan hilang ?

Pengalaman saya menunjukkan bahwa kita tidak dapat menghilangkan kegelisahan, kondisi itu selalu ada di dalam sini, di nurani kita sendiri. Uang mungkin bisa membeli ranjang emas tapi uang tidak bisa membeli tidur. Sekali lagi pengalaman saya menunjukkan bahwa kegelisahan tidak bisa dienyahkan, dia hanya bisa dikendalikan. Kegelisahan sudah menjadi kodrat kita sebagai manusia, sebagaimana pencarian kebahagiaan juga selalu menjadi tujuan hidup kita.

Diam juga bukan jawaban terhadap kegelisahan atau pencarian kebahagiaan. Kuncinya adalah pengendalian, bukan di enyahkan dan juga bukan dibiarkan lepas liar. Kendalikan kegelisahan dan carilah kebahagiaan di dalam diri sendiri. Saya teringat dengan pertanyaan dari Sidarta Gautama saat pangeran gaul yang satu ini ngomong tentang kegelisahan dan kebahagiaan, begini katanya :

Kalau kamu tidak bisa mendapatkan kebahagiaan di dalam dirimu sendiri, apa kamu pikir kamu akan mendapatkannya di luar dirimu ?

Rasanya bukan pada seberapa banyak gunung yang sudah kita daki atau seberapa banyak hutan dan laut yang sudah kita jelajahi, juga bukan pada seberapa banyak buku yang sudah kita baca atau negeri yang sudah kita kunjungi, juga bukan pada seberapa hebat ajaran agama yang kita peluk atau seberapa dahsyat Tuhan yang kita percayai.

Buku, ajaran, petatah-petitih, Tuhan, agama dan pengalaman dapat menjadi peta dan petunjuk bagi pengendalian kegelisahan dan pencarian kebahagiaan namun harus disadari bahwa semua buku, semua ajaran, semua petatah-petitih dan yang lainnya bukanlah kebahagiaan itu sendiri, mereka adalah alat bantu untuk mengendalikan kegelisahan di dalam diri kita sendiri dan juga alat bantu untuk mencari kebahagiaan di dalam diri kita sendiri.

Yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan kegelisahan dan mencoba menggali kebahagiaan dari diri kita sendiri, dari kesadaran kita sendiri. Asia Carrera dan Silvia Saint boleh-boleh aja, tapi jangan berlebihan, ingat itu cuma alat bantu (hua, ha, ha, … ). Mbah Jack Daniel atau Mbak Red Label juga boleh-boleh aja, tapi jangan berlebihan (lebih enak Countrow, he, he, he, … ) kalau Topi Miring sebaiknya jangan, terlalu murah soalnya, kwa, kak, kak, kak, …

Intinya adalah diri kita sendiri dan diam bukanlah jawaban, kuncinya adalah berusaha mengendalikan diri sendiri dan mencari kebahagiaan di dalam diri sendiri (Hidup A.A.G. !!! Hidup Poligami !!! Kek, kek, kek, kek, …)

Kayaknya sih gitu, entah benar entah tidak

Salam Relativisme Kebahagiaan
Made Surya Putra

Komentar Anda